52. Sup Jamur

596 87 82
                                        

*Happy_Comeback_Xodiac!🔥

*Happy_I'm_back!✨

* * *

Setelah istirahat, permainan dilanjutkan sebagai ronde kedua dengan posisi tim diubah. Ketika selesai, mereka masuk ke dalam villa dan duduk di sofa. Kemudian tanpa aba-aba, video call datang ke ponsel Zayyan. Membuat mereka menatapnya bersamaan.

Melihat mereka yang menatapnya intens, Zayyan dengan canggung membaca nama si penelepon. Ia langsung tersenyum lebar lalu berkata, "Ini ibuku."

Entah kenapa mendengar perkataan Zayyan, mereka merasakan hal yang sama, kelegaan.

"Hmm, angkatlah," kata Hyunsik.

Zayyan yang duduk dengan handuk kecil mengalung di leher pun segera mengangkat panggilan. Layar memperlihatkan wajah seorang wanita paruh baya dengan senyum hangat, dan di sampingnya seorang anak perempuan berusia sekitar enam tahun dengan rambut dikuncir dua dan mata bulat penuh rasa ingin tahu, melambai-lambaikan tangannya antusias.

"Kak Zay!" Suara kecil itu melengking senang.

Zayyan langsung tersenyum lebar, senyum yang jarang mereka lihat. "Hai. Ara tidak tidur siang?"

"Tidak."

Zayyan memfokuskan kamera hanya untuk dirinya. Khawatir yang lain merasa kurang nyaman jika ikut tertangkap kamera, sedangkan di sekitarnya, delapan pasang mata pura-pura tidak memperhatikan, tetapi mata mereka jelas mencuri-curi pandang.

"Kakak sedang di mana? Ruangannya berbeda dengan kamar yang biasanya." Zahra bertanya dengan suara nyaring dan ceria.

"Di villa," jawab Zayyan dalan bahasa Indonesia, senyumnya mengembang tanpa sadar. "Apakah Ara sehat?"

Zahra mengangguk cepat. "Sehat! Mama dan kak Ki juga. Tapi kak Ki sedang pergi berkemah di hutan pinus. Kalau Kak Zay bagaimana?"

Zayyan sudah tahu soal adik laki-lakinya yang berkemah dari teman-temannya yang tadi sempat meneleponya di jeda saat bermain bola. "Kakak baik-baik saja," jawabnya.

"Nak, kau terlihat lelah," kata sang ibu lembut, matanya meneliti wajah puteranya di layar.

Zayyan mengangguk kecil. "Sedikit, Ma. Tapi aku senang."

Percakapan itu awalnya milik mereka bertiga, sebelum Zahra mendekat ke kamera dan matanya menyipit fokus. "Di samping Kakak itu siapa?"

Mata Zahra menangkap bahu seseorang yang tidak terlihat wajahnya.

Zayyan tersenyum kecil. "Teman. Kami baru selesai bermain bola."

"Main bola? Itu artinya beramai-ramai?" tanya Zahra. Ia hanya tahu jika bermain bola itu lebih dari dua orang, tidak tahu jumlah pastinya.

"Iya, yang lainnya juga di sini," ucap Zayyan. "Aku tidak sendiri."

Hyunsik melihat teko air dan gelas di meja tepi ruangan. Ia pun bangkit dari sofa dan berjalan di belakang Zayyan, hendak pergi minum. Ia sempatkan juga untuk menoleh melihat layar ponsel Zayyan. Dan seketika ia terhenti kala suara anak kecil menyebut namanya.

"Itu Kak Hyunsik!"

Zayyan langsung terkejut. Ia kemudian ingat bahwa Zahra dan Hyunsik pernah berbicara melalui video call ketika di rumah sakit.

Bukan hanya Zayyan dan Hyunsik saja. Tujuh pemuda lainnya juga terkejut kala mendengar nama Hyunsik disebut. Mereka heran bercampur bingung dan penasaran.

"Ara ingat?" tanya Zayyan.

"INGAT!" jawab sang adik penuh semangat. "Dulu pernah video call. Kakak bilang dia teman Kakak!"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 01 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Don't Go || XodiacCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang