"Kakak juga kangen Eunchae, tapi kitakan udah putus?" Jeongin berniat melepaskan pelukan Eunchae, namun gadis itu malah memeluknya lebih erat.
"Eunchae gak mau putus dari kak Ayen!"
"Tapi temen-temen kamu lebih setuju kamu sama Ni-ki bukan kakak" Eunchae melepas pelukannya kemudian menatap mantannya itu.
"Yang pacaran sama kakak itu aku, yang suka sama kakak itu aku, bukan temen-temen aku. Terus kenapa kakak malah dengerin kata mereka dari pada aku?" Jeongin terdiam. Benar juga, kenapa ia lebih mendengarkan perkataan orang lain daripada kata hatinya sendiri.
"Maaf, kakak cuma ngerasa insecure aja." Jeongin menunduk dan memainkan tangannya sendiri.
"Bang!" Si bungsu Cahyadi itu mendongak menatap Ni-ki yang berjalan ke arahnya.
"Apa?" Entah kenapa Jeongin masih agak sensi dengan adik dari sahabatnya itu perkara kasus kemarin.
"Gue mau minta maaf buat kejadian waktu itu. Gue udah asal mukul padahal lo gak salah apa-apa. Gue juga mau klarifikasi, waktu itu lo liat gue gendong Eunchae, itu karena kaki Eunchae keseleo gara-gara jatoh pas lomba lari. Gue emang perhatian dan sayang sama Eunchae. Tapi gak lebih dari sekedar sahabat. Jadi lo gak perlu cemburu atau takut gue ngambil Eunchae dari lo."
Jeongin mengangguk "Oke gue maafin. Dan gue juga mau minta maaf udah mikir macem-macem tentang lo"
Ni-ki tersenyum kecil dan mengulurkan tangan kanannya mengajak salaman. "Gue ijinin lo balikan sama sahabat gue bang, tapi lo lawan gue dulu tanding basket satu lawan satu, gimana?"
Jeongin terdiam, ia bingung, masalahnya ia tidak begitu jago dalam olahraga basket. Mana perbedaan tingginya dan Ni-ki cukup kentara, mana bisa menang kalau begini, tapi Jeongin akan mencoba. "Oke, gue terima"
Beberapa siswi memekik heboh saat Jeongin menerima tantangan Ni-ki. Sedangkan Eunchae yang tidak mengerti apa yang terjadi dibawa ke pinggir lapangan oleh Wonyoung, bergabung dengan Haruto dan genZ-01line.
Ni-ki melepas baju seragamnya hingga menyisakan kaus hitam lengan pendek yang ia pakai sebagai dalaman. Sedangkan Jeongin melepas jaketnya menyisakan kaus putih tanpa lengan. Hal itu membuat para siswi kembali teriak heboh, bahkan teman-teman Jeongin saja melongo tak percaya. Bagaimana bisa seorang Jeongin Cahyadi yang wajahnya menggemaskan seperti bayi memilik otot yang terbentuk dengan baik?!
"Buset! Sejak kapan bayi gue punya otot woy?!" Batin Heeseung
"Oke fix, abis ini gue gak boleh nyari gara-gara lagi sama bang Ayen" -Ni-ki
Jeongin dan Ni-ki segera memulai permainan. Terlihat santai namun Jeongin jelas sekali sedang berusaha untuk menang. Ni-ki sebagai kapten basket sekolah tentu mudah mengalahkan Jeongin yang kemampuannya jauh dibawahnya. Namun si bungsu Suherman itu memilih mengalah. Bukan karena kasihan pada Jeongin namun ia senang melihat bagaimana Eunchae bersorak bahkan melompat-lompat di pinggir lapangan hanya karena Jeongin mencetak point.
"Pemenangnya Ayen! Selamat!" Teriak Beomgyu sebagai wasit. Eunchae berlari dari pinggir lapang menghampiri Jeongin yang sudah banjir keringat. Keduanya saling berpegangan tangan dan melompat-lompat bahagia.
"Karena kakak menang, berarti kita balikan kan?" Tanya Eunchae dengan mata berbinar penuh harap. Jeongin tanpa ragu mengangguk.
"Iya, kita balikan"
"HOREEE! EUNCHAE BALIKAN SAMA KAK AYEN!"
Ni-ki berdiri dibawah ring basket dengan bola dalam genggamannya. Senyumnya terbit melihat bagaimana pasangan bayi itu kembali menjalin kasih. Semua orang ikut bahagia atas balikannya Eunchae dan Jeongin. Bahkan orang-orang yang dulu menghujat Jeongin kini ikut mensupport hubungan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetangga?!
FanfictionGimana jadinya kalo keluarga Abah Sihyuk dan 7 buntutnya yang minus akhlak tetanggaan sama keluarga Babeh Jinyoung yang punya 8 bocah prik? (S1&S2) S1=End S2=......
