Beberapa menit sebelumnya, Jeongin yang tidak sabar ingin bertemu dengan abang-abangnya memilih pulang duluan naik taksi saat babeh ada urusan dengan pengacara. Ia sempat bertemu Seokjin dihalaman rumah yang langsung memberinya kunci. Namun, rasa bahagianya karena bisa bertemu dengan abang-abangnya lagi seketika sirna saat ia mendengar teriakan Minho dan Chan. Abang-abangnya itu bertengkar karena dirinya. Bahkan saat ia membuka kunci pun tidak ada yang sadar, mereka baru sadar saat Jeongin menjatuhkan sekotak donat yang ia beli tadi didekat bandara.
Hati Jeongin sakit mendengar teriakan Minho yang mengatakan ia anak haram, dan menyesal sudah mengurusnya. Belum lagi ia sadar jika ia menjadi penyebab keluarganya terpecah belah seperti ini.
Jeongin hampir keluar dari gerbang saat lengannya dicekal kemudian ditarik kuat hingga membentur dada bidang kakak keduanya. Anak kelahiran februari itu bisa mendengar detak jantung kakaknya yang berdebar cepat juga suara nafasnya yang terengah sehabis lari.
"Ayen... maafin abang"
Mendengar suara sendu Minho yang penuh rasa bersalah, tangis Jeongin pun pecah. Ia terisak hebat sembari mencengkram kaos Minho yang kini sudah basah bagian dada karena air matanya.
"A-abang gak salah hiks.. hiks.. J-jangan minta maaf. Toh apa yang di bilang abang bener kok, Ayen anak haram hasil perselingkuhan, dan karena Ayen juga keluarga kita jadi berantakan kayak gini"
Minho menggeleng cepat kemudian melepas pelukannya. Setelah itu ia tatap wajah adiknya yang memerah dengan air mata di pipinya.
"Engga! Apa yang abang omongin tadi gak bener. Abang tadi asal ceplos aja, dan abang tau abang yang salah. Ayen bukan anak haram ataupun anak hasil perselingkuhan. Ayen cuma anak bungsunya babeh Jinyoung dan adik dari kita semua. Abang minta maaf, abang udah ngomong kasar kayak tadi, abang udah nyakitin hati Ayen. Tapi sumpah, abang gak ada sedikitpun nyesel udah ngerawat Ayen dari dulu, justru abang seneng bisa liat Ayen tumbuh sehat sampe besar kayak sekarang. Abang sayang banget sama Ayen, persetan kita satu ayah atau engga, yang penting Ayen tetep adek abang sampai kapanpun!"
"Bang Ino hwueeee....... " Jeongin kembali memeluk Minho dengan erat begitupun sang kakak yang mengelus punggung dan surai adiknya dengan penuh kasih sayang.
Chan yang melihat hal itu ikut mendekat dan memeluk kedua adiknya sekaligus.
"Ayen, abang seneng bisa lihat Ayen lagi. Ayen disini aja ya, jangan pergi-pergi lagi. Anak keluarga Cahyadi itukan udah sepaket berdelapan, kalo gak ada Ayen kita bukan keluarga Cahyadi lagi namanya... "
"Ganti jadi keluarga Muhidin gitu maksudnya?"--Minho
"Diem No, jangan ngerusak suasana"
"Oke"
Jeongin mengangguk sembari memejamkan matanya. Hatinya merasa hangat ketika didekap oleh kedua kakak tertuanya yang sudah seperti ayah dan ibu pengganti baginya.
"Ino, maafin abang ya, abang udah mukul Ino tadi"
Sebenarnya Minho ingin sekali mengomeli abangnya itu, tapi ini bukan waktu yang tepat. Lagian ia juga salah karena berbicara asal yang membuat Jeongin sakit hati, jadi Minho hanya mengangguk.
"Iya bang, gue juga minta maaf ya udah nentang lo, ngebentak lo bahkan manggil nama lo tanpa embel-embel abang"
Chan mengangguk dan mengusak surai Minho dengan sebelah tangannya.
"Jangan diulangin ya Inooo.... "😇
"Iya Bangchan... "☺
"Heh!"😑
"Iya-iya, maksudnya Bang Chan pake spasi"😩
"AAAAA BAYI ROTINYA GUE, IYENA KESAYANGAN ABANG NJINNNN!" Hyunjin berlari kemudian ikut memeluk adik dan dua kakaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetangga?!
FanficGimana jadinya kalo keluarga Abah Sihyuk dan 7 buntutnya yang minus akhlak tetanggaan sama keluarga Babeh Jinyoung yang punya 8 bocah prik? (S1&S2) S1=End S2=......
