"Ayen Anak Babeh"

404 45 59
                                        

Chan yang tengah mengerjakan projek lagu agar sedikit menghilangkan kesedihannya di tinggal Jeongin merasa heran dengan kehadiran babeh diruangannya.

"Chan, ada yang mau babeh omongin ke kamu"

Chan mengangguk dan segera memfokuskan dirinya kepada sang ayah. "Tentang apa beh?"

"Ini tentang Ayen"

Kening Chan berkerut bingung "Maksudnya?"

"Sebelum Lina datang kerumah, dia sempat nelpon babeh... "

"Iya Chan tau, babeh kan udah bilang waktu itu"

"Tapi alasan dia bukan cuma mau nemuin kalian Chan"

"Loh, terus karena apa?"

Babeh tidak menjawab, ia malah menaruh sebuah map ke hadapan Chan.

"Selain nelpon secara langsung, dia juga ngirim file dan babeh langsung cetak itu buat bukti ke kalian."

Dengan ragu Chan membaca beberapa keterangan yang ditulis disana. Seketika matanya langsung membulat dan reflek membanting map tersebut ke atas meja.

"I-ini gak mungkin kan beh?"

"Babeh gak tau dokumen itu asli atau enggak. Tapi dari keterangan disana tertulis kalo Ayen bukan anak babeh"

"Gimana mungkin Ayen bukan anak babeh? Terus Ayen anak siapa?"

"Lina bilang, dia udah selingkuh sama suaminya yang sekarang dari Umin bayi umur 2 bulan"

"Jadi maksudnya Ayen itu anak hasil perselingkuhan?" Tanya Chan dengan nada rendahnya. Si sulung itu jelas sedang menahan amarahnya mati-matian.

"Bisa dibilang gitu. Lina mau ambil Ayen karena dia sama suaminya gak punya penerus. Anak dari hasil pernikahan mereka dua-duanya perempuan, jadi gak ada yang bisa ngambil alih perusahaan"





****

Sekarang Jeongin berada di kamarnya, ia menangis dalam diam sembari memeluk foto Cahyadi family.
Ia tatap figur babeh yang selama ini ia kenal dan ia sayangi sebagai ayah kandungnya. Namun ternyata ia bukanlah anak dari pria paruh baya dengan dandanan nyentrik tersebut. Meskipun sifat babeh terkadang absurd, diluar nalar dengan segala tingkahnya. Tapi babeh itu baik dan sayang kepada anak-anaknya. Ia rela kerja siang malam untuk menafkahi anaknya. Bahkan babeh tidak pernah terpikir untuk menikah lagi dan fokus dengan keluarga. Jeongin sangat bersyukur punya ayah seperti babeh Jinyoung.

Dari sosok babeh, Jeongin beralih menatap potret kakak-kakaknya. Mereka yang Jeongin kira saudara kandung seayah dan seibu ternyata hanya saudara seibu. Saudara asli Jeongin hanyalah kedua adik perempuannya. Selain itu, fakta dari ia yang lahir hasil dari perselingkuhan membuat mental Jeongin semakin terguncang. Jadi selama ini ia anak haram hasil perselingkuhan?

"Kalo ini semua cuma mimpi buruk Ayen, Ayen pengen cepet-cepet bangun Ya Allah. Ayen gak mau kayak gini. Gapapa, Ayen ikhlas hidup tanpa ibu, asal Ayen tetep jadi anak babeh dan adik bungsunya abang-abang... "

Namun sayangnya, semua yang dialami Jeongin bukanlah mimpi melainkan kenyataan pahit yang selama ini belum diketahuinya.

Tok... Tok... Tok...

"Bang, dipanggil makan sama mama" Teriak adik pertamanya dari luar kamar.

"Abang gak nafsu makan" Jawab Jeongin. Setelah itu hening, hal itu pertanda jika sang adik sudah pergi dari depan kamarnya.
Jeongin menghela nafas, dari kemarin malam ia belum makan apapun. Fakta yang diucapkan ibunya membuat ia kehilangan selera makan.


Tetangga?! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang