"Chan, nih gue bawain nasi padang buat lo" Chan hanya bisa menghela nafas kemudian beranjak dari duduknya untuk mengambil bungkusan dari tangan gadis berponi yang berdiri di depan pintu studionya.
"Lo gak mungkin ngasih gue makanan sesering ini kalo gak ada niat tertentu. Jadi, apa niat lo sebenernya Lisa?"
Lisa bungkam, ia tak bisa menjawab apapun.
"Kalo niat lo deketin gue buat jadi pelarian karena gagal deketin Jungkook, mending lo berhenti dari sekarang karena gue udah muak" Nada bicara Chan memang santai, namun tetap saja terasa mendominasi.
Si sulung Cahyadi itu sudah terlanjur kesal dengan tingkah Lisa yang sering memberinya makanan hampir setiap hari. Bukannya Chan tidak bersyukur dan menolak rezeki. Chan hanya tidak ingin gadis itu salah paham dengan perlakuannya selama ini yang selalu menerima pemberiannya dengan baik.
"B-bukan gitu Chan--"
"Terus?"
Adik dari Jisoo itu lagi-lagi tidak bisa menjawab pertanyaan dari Chan. "Ini terakhir kalinya gue nerima pemberian lo, jadi cukup ya Lisa, lo bisa cari orang lain"
"O-oke, sorry kalo selama ini gue ganggu lo Chan" Setelah mengatakan itu dengan nada bergetar karena menahan tangis, Lisa segera berlari menjauh dari studio Chan. Meninggalkan si pemuda Oktober yang hanya bisa menghela nafas kemudian kembali duduk menghadap layar monitor.
Untuk saat ini Chan belum ingin terlibat asmara dengan siapapun. Chan memang jago membuat lagu, namun jarang sekali ia membuat lagu bertema asmara, karena pengalamannya mengenai hal itu di dunia nyata pun nol besar. Satu-satunya perempuan yang pernah ia sukai adalah Sana. Setelah itu ia belum pernah jatuh cinta pada siapapun lagi. Baginya untuk saat ini, cinta dari keluarga, saudara dan teman sudah cukup. Ia belum butuh cinta dari seorang gadis.
(Oh iya, member twice disini gak semuanya satu keluarga ya. Contohnya Sana, dia bukan sepupunya Chan kayak Jihyo sama Tzuyu)
Selain sulit jatuh cinta, Chan juga belajar dari pengalaman masa lalu keluarganya. Dimana Ibunya pergi meninggalkan ia dan ayahnya demi laki-laki lain. Hal itu membuat Chan sulit percaya pada seorang perempuan yang akan ia kencani. Toh kalau sudah saatnya, ia pasti akan bertemu dengan gadis yang benar-benar menjadi jodohnya. Chan yakin, semua ketakutan dan traumanya tentang masa lalu akan hilang begitu saja jika ia sudah bertemu seseorang yang tepat. Jadi Chan tidak akan iri jika suatu saat ia akan dilangkahi oleh adik-adiknya.
Brak!
"CHANNN~"
Chan tersadar dari lamunannya saat melihat Jungkook masuk kedalam studionya dengan mendobrak pintu.
"Lo bisa biasa aja gak masuknya Kook?!"
"Gak bisa! Ini penting!" Jungkook duduk di sofa yang ada di ruangan Chan.
"Kenapa? Lo masih kepikiran takut ditinggal nikah abang lo?" Chan bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari monitor.
"Bukan itu!"
"Terus?"
"Kalo di ajak ngobrol itu liat muka orangnya, bukan malah liat layar!"
"Hmm.... "
"Chan~ ih dengerin napa! Bukannya hmm hmm doang!"Jungkook melipat tangannya di depan dada dengan bibir mengerucut, ngambek.
Chan menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Ia pun berjalan dan duduk di samping sahabatnya itu.
"Terus apa Jungkookie~" Chan memanggil Jungkook seperti seorang ayah yang sedang membujuk anaknya yang marah karena dicueki.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetangga?!
FanfictionGimana jadinya kalo keluarga Abah Sihyuk dan 7 buntutnya yang minus akhlak tetanggaan sama keluarga Babeh Jinyoung yang punya 8 bocah prik? (S1&S2) S1=End S2=......
