"JYHit Big Family(1)"

424 34 44
                                        

Bertempat di alun-alun kota, sebuah panggung besar berdiri megah dengan berbagai macam stand bazar yang menyebar di sekelilingnya membuat suasana semakin meriah. Apalagi semalam baru diadakan pawai obor sebagaimana tradisi tiap tahun dalam merayakan tanggal  1 Muharram atau tahun baru Islam.

Orang-orang berbaju koko dan bergamis hilir mudik kesana-kemari. Baik muda maupun tua semuanya excited dalam mengikuti acara hari ini. Selain Tablig akbar yang diadakan kemarin malam setelah pawai obor, hari ini juga ada tausiyah dari ustadz ternama ibu kota. Sebelum nantinya dilanjut dengan lomba antar komplek.

"Udah hadir semua belum Joon?" Tanya pak RW pada Namjoon sebagai penanggung jawab para peserta lomba dari komplek JYHit.

"Group qasidah udah standby di ruang tunggu pak. Peserta ngaji, adzan, kaligrafi, sama cerdas cermat juga udah siap. Tinggal peserta ceramah, sama nyanyi religi yang belum datang. Oh iya sama lomba tumpeng. Soalnya lomba tumpeng kan terakhir jadi bang Jin bakal kesininya nanti biar tumpengnya gak rusak katanya"

"Oke, kamu atur aja ya Joon. Bapak mau gabung sama RW yang lain dulu"

"Siap pak"

Setelah kepergian pak RW, Wonwoo bersama kedua belas saudaranya datang. Adik dari Scoups itu terlihat rapih dengan setelan khas timur tengahnya.

"Woo liat Heeseung gak?"

"Gak."--Wonwoo

"Tapi tadi gue liat adek bontotnya si Heeseung, Niki lagi di omelin Hyunjin gara-gara lari-larian padahal tuh bocah bentar lagi tampil bang" Jawab Seungkwan mewakili abangnya yang irit bicara.

Namjoon hanya bisa menepuk keningnya tak habis pikir.

Sementara itu disalah satu bilik ganti, Heeseung yang baru sampai di lokasi langsung mengganti baju ditemani gengnya, GenZ-01 line.

"Kok gue gak yakin bocah modelan si Hee ikut lomba ceramah ya" Celetuk Chenle

"Jangankan elo Le, gue aja gak yakin" Timpal Jeongin.

Tak lama dari itu Heeseung muncul dari ruang ganti dengan gamis dan sorban yang melilit kepalanya.

"Gimana gue udah cocok jadi Gus Heeseung belum?"

Jeongin, Chenle dan Beomgyu langsung menatap penampilan si sulung keluarga Enipen itu dari atas ke bawah.

"Lo lebih mirip Walid sih Hee" Celetuk Jeongin.

"Anjir Walid gak tuh" Beomgyu ngakak dan reflek memukul bahu Chenle di sampingnya.

Bukannya marah Heeseung malah berakting mengelus janggut imajinernya sembari berjalan mendekat pada ketiga sahabatnya.

"Ayen, Chenle, Beomgyu, anak anak Heeseung. Heeseung nak kalian pejamkan mateu kalian, bayangkan mukeu Heeseung dan jangan berhenti berzikir" Ucapnya yang anehnya malah diangguki oleh ketiga sahabatnya.

Setelah itu Heeseung tersenyum ala bulan gosong dan sebelah tangannya terangkat untuk mengelus kepala Jeongin.

"Heeseung nak Ayen boleh?"

"B-boleh Hee" Jeongin mengangguk malu-malu.

1 detik...



2 detik...


3 detik..

"Pffttt... AHAHAHAHAHAH" Tawa keempatnya pecah. Bahkan Beomgyu sudah duduk sembari memukul lantai.

"Anjir Hee lo mendalami peran banget buset!"--Beomgyu

"Emang lo cocok jadi anaknya Walid Hee, sama-sama suka daun muda ahahah"--Chenle

Tetangga?! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang