Disebuah panti asuhan kecil, ada banyak anak-anak yang sedang bermain. Diantara mereka ada yang masih kecil tapi ada juga yang sudah remaja. Suasana sangat rmai karena masih banyak yang bermain. Disudut panti, ada seorang remaja perempuan sedang duduk sendirian. Dia bertubuh tinggi, kurus, memiliki lesung pipi dan berambut panjang. Saat sedang melihat anak-anak bermain, bahunya ditepuk seseorang. Dia menoleh dan tersenyum.
"Beby, kamu gak main?" Tanya seorang wanita paruh baya itu.
"Gak Bun. Aku lagi mikir kerjaan sampingan." Tukas Beby lembut pada pengurus panti itu.
"Kamu gak usah kerja. Kan masih ada Bunda."
"Gak Bunda. Aku mau cari uang dari hasil keringat aku sendiri."
"Ya sudah kalau itu mau kamu. Tapi inget pesan Bunda. Kamu harus istirahat juga. Nanti kamu sakit kalau terlalu forsir tubuh kamu."
"Iya Bunda."
Pengurus panti yang biasa dipanggil Bunda oleh anak-anak panti itu berlalu. Ya, Beby adalah penghuni panti asuhan itu. Sejak bayi dia tidak mengenal orang tuanya. Dia sudah tinggal dipanti itu sejak lahir. Sampai memasuki usia remaja, tidak ada yang mengadopsinya. Beby selalu menolak bila ada yang akan mengadopsinya. Dia tidak pernah memberi tahu alasannya.
Sejak dia masih SD, dia sudah mencari uang sendiri. Bahkan dia membiayai uang sekolahnya sendiri. Beby selalu menolak bila Bunda mau membantu membiayai sekolahnya. Sekarang Beby sudah menamatkan pendidikan SMA nya.
Setelah diam beberapa saat, dia melihat jam yang melingkar ditangannya. Dia segera pergi meninggalkan panti. Dia pergi menuju pasar untuk mencari nafkah. Setelah berjalan beberapa lama, Beby sampai dipasar. Dihampirinya pedagang sembako yang sedang menjaga tokonya.
"Mas, ada yang harus saya kerjakan sekarang?" Tanya Beby.
"Kamu sudah dateng ya Beby. Kamu takar gula ini ya. Nanti habis itu takar minyak sama terigu juga." Kata penjaga toko itu.
"Iya Mas. Saya kerja dulu ya."
Beby segera mengambil plastik dan mulai menakar gula itu. Setelah dirasa cukup, dia menimbangnya dengan neraca kecil dihadapannya. Setelah pas, dia langsung mengikatnya. Sesekali dia membantu pemiliknya melayani pembeli.
Saat semua pekerjaannya selesai, Beby duduk diwarung kecil bersama pekerja lainnya. Ada yang jadi kuli panggul, tukang sapu dan pedagang asongan. Saat sedang mengobrol sambil bergurau, dia melihat ada keributan dari para preman yang sedang memalak pengunjung pasar. Beby segera menghampiri mereka.
"Woy, ada apa nih?" Tegur Beby.
"Jangan ikut campur loe. Mau cari mati." Ancam preman itu.
"Ini tempat umum. Bukan tempat kamu. Jadi gak usah malak mereka."
"Banyak omong loe."
Preman itu langsung menghajar Beby dengan pukulan. Beby berhasil menghindari serangan preman itu. Dia memegang tangan preman itu dan memitingnya hingga preman itu menggeliat kesakitan. Beby mendekatkan wajahnya ke tengkuk orang itu.
"Sekali lagi kamu malak disini, kamu harus berhadapan denganku." Hujam Beby.
"Banyak omong loe." Tukas preman itu berhasil melepaskan diri.
Setelah berhasil melepaskan diri, dia kembali menyerang Beby. Kali ini dengan pisau kecil yang disembunyikan dicelananya. Beby mengelak dan menjatuhkan pisau itu ke lantai. Dia menatap preman itu dengan pandangan dingin yang menusuk.
Preman itu tiba-tiba merasa gemetar. Belum sempat dia lari, Beby menarik kerah bajunya dan menghajarnya sampai dia tidak berdaya. Akhirnya preman itu menyerah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perlindungan, Peperangan, Cinta (END)
ActionSetelah mereka yang sangat aku sayangi pergi, aku akan berusaha melindungi mereka. Walaupun aku harus melanggar janji yang aku ucapkan -Frieska-
