Disebuah ruangan klub terlihat segerombolan mahasiswi sedang berkumpul. Mereka adalah Sendy, Dhike, Jeje, Kinal dan Ve. Mereka terlihat sibuk dengan urusan masing-masing. Jeje sedang mengganti senar gitarnya, Dhike duduk sambil memainkan HP, Sendy membaca buku, Kinal sedang memukul samsak besar dan Ve membuat sebuah sketsa.
Setelah puas memukul samsak, Kinal yang sudah berkeringat duduk dikursi sebelah kursi Ghaida. Dilapnya keringat yang menetes. Ve yang sudah selesai membuat sketsa langsung menatap Kinal. Kinal yang mengerti arti tatapan itu hanya mengangguk. Lalu Ve menatap mereka semua.
"Baiklah. Karena semua sudah berkumpul, aku bakal menjelaskan semua penyelidikanku." Kata Ve memecah keheningan.
"Apa aja perkembangannya Ve?" Tanya Dhike.
"Aku akan menjelaskannya pada kalian semua." Sahut Ve sambil mengeluarkan catatannya.
"Sepertinya kurang kalau gak ada aku ya." Sambung suara lain.
Mereka semua menoleh dan kaget melihat siapa yang datang. Ghaida berdiri dipintu ruang klub dengan senyumnya yang khas. Lalu dia masuk ke ruang klub dengan langkah tenang. Dia mengambil kertas yang ditaruh dikursinya kemudian duduk. Semua anggotanya menatapnya hormat.
"Tangganya kotor. Kalian harus membersihkannya. Gak enak dilihatnya." Kata Ghaida tajam.
"Baik ketua." Sahut mereka.
"Diskusi bisa dimulai sekarang. Aku akan mendengarkan."
"Baiklah. Ayo kita mulai."
Ve mulai membentangkan kertas besar bergambar peta. Itu adalah peta tempat mereka akan menyerang. Dhike menatap serius peta itu. Sendy memperhatikan Dhike yang seperti menahan amarahnya. Jeje mendengarkan penjelasan Ve dengan saksama. Kinal dan Ghaida bertukar pandang dan mengangguk. Ve terus menjelaskan penyelidikannya dengan akurat. Kemudian dia menatap mereka bergantian.
"Ada pertanyaan?" Ve memperhatikan sekelilingnya.
"Apa penyerangan dimulai malam hari?" Tanya Dhike.
"Lebih tepatnya disudut tempat gelap. Dan itu keuntungan untukmu." Jelas Ve pada Dhike.
"Lalu apa ada hal lain?" Tanya Jeje.
"Satu hal dan ini diluar dugaan." Sahut Ve.
"Apa itu?" Desak Kinal.
"Mereka akan menculik seseorang. Tapi belum jelas siapa yang akan mereka jadikan sandera." Jawab Ve serius.
"Ini lebih menarik dari dugaan semula." Sembur Ghaida tersenyum sinis.
"Berapa orang keseluruhannya?" Sendy menatap Ve.
"Anggota pastinya belum jelas. Tapi sekitar 50 orang." Jawab Ve.
"Jumlah yang fantastis."
Mereka mengangguk paham. Ghaida menatap serius ke balik jendela. Satu persatu anggota keluar dari ruangan klub. Tinggal Ghaida dan Kinal yang masih berada diruang klub. Kemudian, dia berjalan keluar ruangan. Kinal berjalan mengikutinya. Mereka sampai diatap kampus. Disana tidak ada siapapun. Ghaida menatap atap itu dengan ekspresi senang.
"Sudah lama gak kesini. Jadi kangen." Teriak Ghaida.
"Aku juga. Tempat ini belum berubah." Kata Kinal.
"Aku selalu suka melihat pemandangan dari tempat ini bersamamu dan Ve."
"Kau belum berubah ya."
Ghaida diam saja. Kinal menatap punggung Ghaida dengan pandangan sedih. Tubuhnya yang tinggi dan kekar terbungkus sebuah jaket tebal. Tapi Kinal tahu bahwa Ghaida masih bisa berkelahi dan kekuatannya masih ada. Perlahan Ghaida memutar tubuhnya menghadap Kinal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perlindungan, Peperangan, Cinta (END)
AcciónSetelah mereka yang sangat aku sayangi pergi, aku akan berusaha melindungi mereka. Walaupun aku harus melanggar janji yang aku ucapkan -Frieska-
