Hari sudah mulai sore. Suasana sekitar rumah mewah itu sangat sepi. Disudut lain rumah tampak seorang wanita sedang mengawasi seseorang sambil tersenyum. Orang itu tampak sedang mempersiapkan busur dan panah. Disisi lain, ada ketapel, pistol dan panah dart tersusun rapi.
Ghaida menatap setiap sasaran yang berhasil mendarat ditengah-tengah. Strike. Jeje yang sedang membidik sasaran menatapnya dengan penuh konsentrasi. Tangannya terbungkus sarung tangan putih. Dilesatkannya anak panah itu ke papan. Lagi-lagi strike. Ghaida tersenyum puas melihat anak buahnya mengalami kemajuan yang sangat bagus.
Kemampuan Jeje adalah penembak jitu. Dia sudah mempunyai kemampuan itu sejak kecil. Ghaida mengetahui kemampuannya saat dia melihat Jeje sedang bermain dart ditaman. Setelah melihat kemampuan Jeje, tanpa ragu Ghaida mengajaknya bergabung digrupnya. Jeje dengan senang hati menerimanya. Ghaida juga mengajak Sendy yang akhirnya mau.
Setelah puas dengan panah, Jeje mengambil panah dart yang terbuat dari logam itu dan menuju papan dart khusus yang dimilikinya. Ghaida mendekatinya dengan langkah mantap. Jeje menatap ketuanya sambil tersenyum.
"Teruskan Je. Bidik serangan itu dengan konsentrasi." Ghaida memberi instruksi.
"Baik." Jawab Jeje.
Jeje kembali memusatkan konsentrasinya. Dia langsung melemparkan panah dartnya yang menancap ke bagian tengah. Strike lagi. Ghaida kembali tersenyum. Jeje terus berlatih menggunakan panah dart sambil terus berkonsentrasi. Akhirnya Ghaida keluar dari ruangan menuju rumahnya.
Dilihatnya ruang keluarga rumahnya kosong. Ve sudah tidak terlihat disofa ruang keluarganya. Dia pun terus berjalan hingga ke dapur. Didapur, Ghaida menatap lemari obatnya lalu membukanya perlahan. Disana terkumpul berbagai macam obat-obatan yang dibutuhkan. Ghaida menutup lemari dengan perlahan lalu kembali menuju ruang keluarga.
Belum sampai ke ruang keluarga, dia mendengar tawa dari ruang keluarganya. Saat sampai disana, dilihatnya Nabilah sedang menonton serial kartun Rabbid yang sangat disukainya sambil memeluk boneka bugs bunny. Dhike duduk disebelah Sendy yang tampak memangku Nabilah.
Ghaida menatap Dhike yang hanya sesekali tersenyum. Sementara Sendy dan Nabilah tertawa melihat kartun lucu itu. Trauma itu sangat mendalam sampai Dhike gak mampu lagi tertawa. Batin Ghaida muram. Akhirnya dia menuju ruang keluarga dengan langkah mantap.
"Halo. Kamu udah bangun?" Sapa Ghaida.
"Kak Ghaida." Nabilah langsung berlari dan memeluk Ghaida.
Ghaida menangkap tubuh anak mungil itu lalu langsung menggendongnya. Diciuminya anak itu dengan lembut. Nabilah masih memeluk bonekanya erat. Tanpa sengaja, Nabilah melihat figure kamen rider dirak ruang tamu. Nabilah menarik baju Ghaida lalu menunjuk figure kamen ridernya.
"Kenapa Dek?" Tanya Ghaida.
"Kakak, aku mau lihat itu." Ujar Nabilah sambil menunjuk figure kamen rider miliknya.
Ghaida menoleh dan melihat berbagai figure kamen rider miliknya. Ghaida langsung membawa anak itu ke rak ruang tamu. Anak manis itu mengambil salah satu koleksi langka yang didapat Ghaida dengan cara memesan. Akhirnya Ghaida bergabung dengan Dhike dan Sendy.
Sementara itu ditempat lain, Kinal sedang memberi makan elang yang bertengger ditangannya. Tak lupa dia memakai sarung tangan kulit untuk menghindari luka karena cakar elang yang sangat kuat dan tajam. Ditatapnya elang berbulu coklatnya sambil merenung. Dia langsung teringat Kakaknya. Dulu Kinal sering melihat Kakaknya memberi makan burung merpati. Kakaknya sangat menyukai burung merpati. Sedangkan dia menyukai burung elang. Otaknya mulai memflashback kenangannya.
Flashback
Siang itu, Kinal kecil sedang berjalan disekitar rumahnya mencari Kakaknya. Suasana rumah itu sangat sepi karena orang tuanya sangat sibuk dengan pekerjaan mereka. Disana Kinal dan Kakaknya hanya tinggal dengan pembantu rumah mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perlindungan, Peperangan, Cinta (END)
ActionSetelah mereka yang sangat aku sayangi pergi, aku akan berusaha melindungi mereka. Walaupun aku harus melanggar janji yang aku ucapkan -Frieska-
