Hari sudah pagi. Cahaya matahari masuk dari jendela dan menyilaukan mata Frieska. Dilihatnya gorden rumah sakit sudah terbuka. Frieska tahu siapa yang melakukannya. Selama ini dia yang menggantikan Mama. Dia yang mendidik, mancari nafkah dan merawat mereka. Bagi Frieska dia malaikat pelindung mereka.
Melody keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Frieska bangun dari tidurnya sambil mengerjapkan matanya. Nabilah masih tertidur diranjang.
"Dek, ayo mandi. Kamu kan harus kuliah." Kata Melody.
"Aku mau ijin Kak. Aku mau jagain Nabilah." Sahut Frieska.
"Nabilah biar Kakak yang urus. Kakak gak masuk kerja dulu. Tadi Kakak udah ngomong sama sekretaris Kakak."
"Tapi Kak."
"Udah jangan ngebantah. Ayo cepet mandi."
"Iya Kak. Hari ini aku kuliah."
Melody tersenyum. Frieska memasuki kamar mandi membawa handuk. Beberapa menit kemudian, Frieska keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Dilihatnya Nabilah sudah bangun. Frieska langsung menghampiri Adiknya.
"Kamu udah bangun ya? Pusing gak kepalanya?" Tanya Frieska.
"Gak Kak." Jawab Nabilah dengan suara lemah.
"Kamu istirahat ya. Kakak mau kuliah dulu."
Nabilah mengangguk lalu bangkit dari ranjang dan memeluk Frieska erat. Frieska memeluk lalu mencium kepala Nabilah. Melody pergi mengantar Frieska sampai lobi rumah sakit. Nabilah menatap pintu kamarnya yang menutup.
Melody menggandeng tangan Frieska menuju lift. Sesekali Melody memberikan nasihat untuk Frieska yang disambut anggukan paham dari Frieska. Akhirnya mereka sampai dilantai dasar rumah sakit.
"Ini bekal kamu. Tadi Kakak ke rumah dulu buat masak. Kamu makan ya." Kata Melody sambil mengulurkan sebuah tempat makan.
"Iya Kak. Nanti aku makan. Terima kasih." Sahut Frieska senang.
"Kamu hati-hati ya. Belajar yang rajin."
"Iya Kak. Aku berangkat dulu ya."
Frieska berjalan menuju mobilnya. Setelah mobil yang dibawa Frieska menghilang, Melody memasuki rumah sakit. Tapi Handphonenya bordering membuat Melody menghentikan langkahnya. Dlihatnya telefon dari karyawannya. Lalu dia mengangkatnya.
"Ya halo?" Sapa Melody.
"...."
"Soal rancangan itu sudah ada disekretaris saya."
Melody terlibat perbincangan panjang dengan karyawannya ditelefon. Sementara itu, Nabilah yang bosan karena sendirian berjalan-jalan disekitar rumah sakit. Dia berjalan-jalan sementara ada segerombolan laki-laki yang akan berbuat hal yang buruk. Mereka langsung menghampiri Nabilah.
"Dek, sendirian aja. Om temenin ya." Kata orang itu.
"Gak om. Nabilah mau nyusul Kakak." Sahut Nabilah.
"Mending sama kita aja."
"Lepas. Nabilah teriak nih."
"Teriak aja. Gak akan ada yang nolong kok hahaha."
Tanpa mereka sadari ada seorang gadis bertubuh tinggi, kurus namun kekar dan berambut pendek melihat mereka. Dia langsung menghampirinya dengan langkah tenang.
"Hey, kalian nutup jalan. Saya mau lewat." Kata gadis itu.
"Jangan ikut campur. Jalan masih banyak." Kesal orang itu.
"Lebih baik kalian minggir sebelum kalian terluka."
"Ngajak ribut ya."
Mereka langsung menerjang gadis itu. Gadis itu menghindar dan langsung meninju keras perut preman itu. Preman itu mengaduh kesakitan mendapat pukulan keras gadis misterius. Anak buahnya mulai menerjang gadis itu. Tapi dengan lihai gadis itu menghajar mereka. Tidak sampai 5 menit, mereka semua sudah tersungkur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perlindungan, Peperangan, Cinta (END)
AksiSetelah mereka yang sangat aku sayangi pergi, aku akan berusaha melindungi mereka. Walaupun aku harus melanggar janji yang aku ucapkan -Frieska-
