Frieska masih duduk ditaman membaca buku. Sesekali dia melihat jam dipergelangan tangannya. Sudah jam pulang kuliah. Dia segera menuju kelasnya mengambil tas. Dikelasnya terlihat kelompok yang biasa memanggang daging. Mereka melihat Frieska yang mengambil tasnya dan pergi.
"Orang yang menarik." Kata Dena sambil membalikkan daging.
"Dia terlihat culun." Komentar Ikha.
"Jangan meremehkannya bodoh." Balas Nadila.
"Berhenti memanggilku bodoh." Protes Ikha.
"Belakangan ini gak ada yang seru ya. Gak ada perkelahian." Ujar Sisil.
"Iya juga ya. Jadi gak seru nih." Balas Ikha.
"Datanglah perdamaian. Mungkin belum waktunya kita berkelahi." Kata Gaby.
"Tumben kata-katanya bagus." Ujar Dena heran.
"Dari pada ribut mending kita makan." Kata Gaby cepat.
Akhirnya mereka makan diruang kelas. Sesekali mereka ribut karena memperebutkan daging yang baru matang. Kampus menjadi sangat sepi karena para mahasiswi sudah pulang. Ada juga yang sudah menuju kamar asrama.
Kinal duduk diranjang sambil membuka jaketnya. Tubuhnya sudah mulai terasa ringan. Suhu tubuhnya juga sudah normal. Ve sedang menggambar sketsa dikertas yang biasa dibawanya. Setelah mengganti bajunya, Kinal duduk disofa.
"Kamu ada tugas ya?" Tanya Kinal.
"Iya banyak banget nih. Ini aja aku masih repot." Sahut Ve serius sambil terus menggambar.
"Aku juga ada tugas. Kamu lihat laptop aku gak?" Tanya Kinal lagi.
"Coba lihat dilaci nakas. Kalau gak salah aku taruh disitu."
Kinal langsung membuka laci nakas. Laptop miliknya berada disana dan dia mulai mengambilnya. Kinal langsung mengambil bukunya dan mulai mengerjakan tugasnya. Sesaat ada keheningan dikamar asramanya. Kinal selesai mengerjakan tugasnya sementara Ve masih mengerjakan tugasnya. Gadis bertubuh kekar itu mengambil obatnya lalu meminumnya. Akhirnya Ve selesai mengerjakan tugasnya.
"Kamu udah baikan?" Tanya Ve sambil menaruh punggung tangannya ke kepala Kinal.
"Udah Ve. Semalam aku keluar keringat banyak." Sahut Kinal.
"Bagus deh. Kamu masih batuk-batuk sih tapi agak mendingan."
"Lalu? Kamu sudah dapat informasi?"
"Soal tugas Ghaida? Sebentar lagi mungkin akan terbongkar."
"Kita harus menjebaknya kan?"
"Mungkin lebih tepatnya menangkap basah dia saat perang."
"Aku suka itu."
Mereka berdua tersenyum. Setelah itu mereka minum teh bersama sambil duduk menghadap jendela. Salah satu hobi mereka bersama.
***
Disebuah rumah besar, suasana rumahnya tampak sepi. Yona sedang berada dikamar Viny. Diambilnya thermometer yang ada dimulut Viny. Panasnya semakin tinggi. Yona yang sedang mengompres Viny mendengar smartphonenya berbunyi. Dia segera mengambilnya dan melihat ke layarnya. Yona mengerutkan keningnya dan menggeser layarnya.
"Halo." Sapa Yona.
"Yona, apa kamu ada dirumah?" Tanya Ghaida.
"Aku dirumah sekarang. Ada apa?" Sahut Yona.
"Kita harus bertemu." Kata Ghaida.
"Aku gak bisa meninggalkan rumah. Viny sedang sakit."
"Kalau begitu aku akan ke rumahmu. Tunggu disana."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perlindungan, Peperangan, Cinta (END)
ActionSetelah mereka yang sangat aku sayangi pergi, aku akan berusaha melindungi mereka. Walaupun aku harus melanggar janji yang aku ucapkan -Frieska-
