Sesosok 2 anak kecil tampak riang gembira. Anak perempuan berambut pendek itu tampak sedang memainkan ember kecil untuk membuat istana pasir. Kakaknya juga membantu Adiknya membangun istana. Orang tua mereka sibuk dengan pekerjaan mereka.
Tanpa segaja, Kinal melihat seorang anak perempuan sebaya dengannya sedang menangis. Dia menatap sekelilingnya dan tak menemukan siapapun disana. Kinal menuju gerbang rumahnya dan berlari menghampiri anak perempuan itu tanpa mempedulikan bajunya yang penuh dengan pasir. Kakaknya menyusul Kinal yang keluar gerbang.
"Dek, kamu mau kemana?" Tanya Kakaknya.
Kinal terus berlari. Kakaknya menyusulnya sambil berlari. Akhirnya mereka sampai didepan anak perempuan yang sedang menangis itu. Kinal menyentuh bahu anak perempuan itu lembut. Anak perempuan itu menatap Kinal dan dia hanya tersenyum.
"Halo. Aku Devi Kinal Putri. Panggil aja Kinal. Ini Kakak aku. Nama kamu siapa?" Tanya Kinal.
Anak perempuan itu diam sejenak. "Jessica Veranda Tanumihardja."
"Nama kamu panjang banget. Aku panggil Veranda aja ya." Sahut Kinal.
Veranda hanya mengangguk. Kinal menarik tangan Ve menuju arena bermainnya. Kakaknya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku Adiknya. Akhirnya mereka bermain. Ve ikut membantu membuat istana pasir. Kinal terus melontarkan candaan hingga Ve mau tersenyum.
"Mulai sekarang kita adalah teman. Jadi kamu jangan menangis lagi. Janji ya." Ujar Kinal sambil menyodorkan kelingkingnya.
Veranda mengangguk lalu mengaitkan kelingkingnya. Kakak Kinal tersenyum. Kinal memang mudah sekali mengakrabkan diri bahkan dengan orang asing sekalipun. Mereka terus bermain hingga hari sudah sore. Veranda menatap Kakak Kinal sejenak.
"Nama Kakak siapa?" Tanya Ve.
"Nama Kakak...."
***
"Veranda, bangun. Udah sore." Karyawan butik membangunkan Ve yang tertidur.
Ve mengerjapkan matanya lalu menatap siapa yang membangunkannya. Tampak seorang wanita karyawan butik berdiri dihadapannya. Ve mengucek sebentar matanya.
"Kamu pulang aja Ve. Kayaknya kamu lelah deh." Saran temannya.
"Ini jam berapa?" Tanya Veranda sambil merapihkan kertasnya yang berserakan.
"Udah jam 5 sore. Udah waktunya tutup butik."
"Ya udah. Aku pulang duluan ya Rena."
"Hati-hati Ve."
Ve menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Dia mengambil tasnya dan berjalan keluar butik. Hari sudah mulai gelap. Ve segera menuju halte yang ada disana. Sambil menunggu taksi yang datang, Ve melihat ke arah smartphonenya. Terlihat ada 1 panggilan tak terjawab dari Kinal. Saat Ve ingin menelepon Kinal, Kinal sudah menelfonnya. Ve segera mengangkatnya.
"Halo Nal." Sapa Ve.
"...."
"Iya ini aku mau pulang."
"...."
"Tadi aku ketiduran. Aku lagi dihalte."
"...."
"Ya udah aku tunggu."
Sambungan terputus. Ve segera memasukkan smartphonenya. Dia mengeluarkan sketsa yang belum selesai dia gambar. Dia langsung menggoreskan pensilnya ke kertas. Saat sedang focus menggambar, suara mesin motor sport terdengar. Ve mengangkat wajahnya dan melihat Kinal menunggunya. Dia membuka kaca helmnya. Ve langsung naik ke jok motor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perlindungan, Peperangan, Cinta (END)
ActionSetelah mereka yang sangat aku sayangi pergi, aku akan berusaha melindungi mereka. Walaupun aku harus melanggar janji yang aku ucapkan -Frieska-
