Melody terlihat sibuk dimeja kerjanya. Hari ini dia pergi ke kantor pagi-pagi sekali. Sarapan yang biasa disediakan oleh Melody jadi disiapkan oleh Frieska. Hari ini pekerjaannya sangat menumpuk. Berkas-berkas menumpuk dimeja kerjanya. Tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk.
"Masuk." Ujar Melody tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkasnya.
Pintu terbuka dan terlihatlah Elaine sekretarisnya. Dia membawa sebuah dokumen yang dibungkus map plastik. Elaine menghampiri Melody yang masih sibuk dengan berkasnya.
"Maaf Bu. Ini ada dokumen yang harus Ibu periksa." Ujar Elaine.
"Biar saya lihat ya." Sahut Melody.
Elaine menyerahkan dokumennya. Melody membacanya sambil membetulkan letak kacamatanya. Kemudian Melody mengangguk.
"Baiklah Elaine. Hari ini apa jadwal saya?" Tanya Melody.
"Hari ini ada meeting dengan klien jam 11 Bu." Sahut Elaine membaca jadwal.
"Hanya itu?"
"Iya Bu. Cuma itu."
"Baiklah. Kamu boleh kembali."
"Terima kasih Bu. Saya permisi."
Setelah membungkuk sedikit, Elaine keluar dari ruangan Melody. Melody kembali memusatkan perhatiannya pada berkas-berkasnya. Melody termasuk eksekutif muda yang sangat energik. Kantornya adalah kantor warisan mendiang Ayahnya. Sebelum menjadi pimpinan perusahaan, dia sudah bekerja dikantor itu membantu Ayah dan Ibunya. Jadi dia sudah paham cara menghandle semuanya.
Setelah Ayahnya meninggal, Ibunya sempat menjadi pimpinan diperusahaan itu. Tapi setelah Nabilah lahir, Melody diberi tanggung jawab sebagai pimpinan muda disana. Melody termasuk pekerja keras dan bukan pimpinan yang kaku. Dia selalu menyempatkan diri mengobrol dengan karyawan-karyawannya dan mengontrol cara kerja mereka.
1 jam kemudian, Melody selesai memeriksa berkas. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi dan memutar kursinya ke arah jendela. Dia megambil foto yang terpajang dimeja kerjanya. Fotonya bersama Adik-adiknya. Dan juga fotonya bersama keluarganya. Telepon diruang kerjanya berdering dan Melody langsung mengangkatnya.
"Halo." Sapa Melody.
"Bu Melody, tamu anda sudah datang." Ujar karyawannya.
"Suruh dia masuk ke ruangan saya."
"Baik Bu."
Telepon ditutup. Melody langsung merapihkan berkas-berkasnya dan menaruhnya dimap. Saat Melody selesai membereskan berkas-berkasnya, pintu ruangannya diketuk. Melody berjalan menuju meja kerjanya dan duduk disana.
"Masuk." Sahut Melody.
Pintu ruang kerjanya terbuka. Dan terlihatlah sosok wanita muda berambut ikal panjang dengan poni membawa map biru tebal. Melody menatapnya dan kaget. Orang itu tersenyum lalu menutup ruang kerja Melody. Melody langsung bangkit dari kursinya dan menghampirinya.
"Apa kabar Ci?" Tanya Melody.
"Baik. Bagaimana perusahaan kamu? Lancar?" Tanya wanita itu balik.
"Lancar. Ayo duduk."
Wanita itu duduk dikursi tempat Melody biasa mengadakan meeting. Melody duduk dihadapan wanita itu dengan tenang.
"Jadi ada apa Stella?" Tanya Melody.
"Aku yakin kamu gak dengar soal ini Mel." Sahut Stella.
"Soal apa?"
"Sebaiknya kamu lihat ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perlindungan, Peperangan, Cinta (END)
AçãoSetelah mereka yang sangat aku sayangi pergi, aku akan berusaha melindungi mereka. Walaupun aku harus melanggar janji yang aku ucapkan -Frieska-
