Pagi itu, seseorang wanita bertubuh tinggi, kekar, dan berambut pendek berdiri diseberang rumah sakit. Dia memakai kaos putih, jaket jeans, celana jeans hitam, sepatu nike hitam dan ransel. Dia menyeberang dan memasuki rumah sakit.
Dia terus memasuki rumah sakit itu dengan langkah tenang. Dia menaiki lift bersama pengunjung lain. Saat sampai dilantai yang dituju dia segera keluar. Ditelusurinya setiap nomor kamar sampai ditemukannya nomor kamar yang ditempati Ghaida.
Dia mengetuk perlahan pintu itu kemudian masuk. Ghaida yang sedang berbaring diranjangnya sambil berselimut lalu bangkit dari ranjangnya melihat siapa yang datang sambil tersenyum. Dia senang karena orang yang dia tunggu sudah kembali.
"Akhirnya kau kembali." Kata Ghaida.
"Aku gak mungkin meninggalkan kalian dalam waktu lama." Sahut orang itu tenang.
"Selamat datang kembali Jendral Kinal."
Kinal, wanita itu tersenyum. Dia menjatuhkan tasnya ke lantai. Ghaida turun dari ranjang dan memakai sepatunya. Lalu dia duduk dikursi yang berada disana. Dia menunjuk kursi lain pada Kinal untuk menyuruhnya duduk. Kinal langsung duduk dikursi yang ditunjuk Ghaida.
"Bagaimana? Kau sudah menemukan dia?" Tanya Ghaida.
"Menemukannya agak susah. Tapi aku berhasil." Sahut Kinal.
"Lalu bagaimana dia? Masih seperti dulu?"
"Sekarang dia sudah memiliki bengkel mobil dan motor sport. Dia mengelola bisnis itu bersama Adiknya. Tapi sampai sekarang dia masih ikut rally mobil."
"Sudah kuduga. Dia masih menjadi master rally mobil."
Kinal mengangguk. Dia memang mendapat tugas rahasia. Itu sebabnya dia diam-diam mengambil cuti dari kampus dan menghilang. Ghaida memutar kursinya menghadap jendela. Kinal memperhatikan sahabatnya dengan pandangan nanar.
"Aku belum memberikan informasi ya soal perang yang akan kita hadapi." Ujar Ghaida.
"Apa saja yang aku tinggalkan?" Tanya Kinal antusias.
"Itu baru semangat. Aku senang."
"Lalu bagaimana informasinya?"
"Perang akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Dan ada 4 orang yang akan diincar oleh mereka. Ini fotonya."
Ghaida mengambil foto itu dan menyodorkannya pada Kinal. Kinal memperhatikan foto itu dengan teliti. Dia mengerutkan keningnya saat melihat salah satu foto.
"Ada masalah?" Tanya Ghaida.
"Kau yakin dia orangnya? Aku kenal orang ini." Ujar Kinal heran sambil menunjukkan salah satu foto yang diserahkan Ghaida.
"Benar. Kau kenal dengan dia. Tapi dia diincar sekarang. Dan tugasmu kali ini adalah melindungi mereka. Apapun resikonya." Perintah Ghaida.
"Baiklah. Tapi kau mendapat informasi ini dari mana? Semuanya akurat."
"Kau pasti ingat Badai? Dia yang menyelidikinya."
"Dia belum berubah."
Ghaida bangkit dari kursinya dan mengambil obatnya diatas nakas. Dia melihat Ghaida dengan pandangan lirih. Dia meminum obatnya lalu menatap Kinal. Ditaruhnya obat itu ke tempat semula.
"Gak perlu memandangku seperti itu Jendral. Aku baik-baik saja." Tukas Ghaida.
"Aku hanya ingin kau sembuh Nao." Sahut Kinal.
Ghaida tersenyum. Kinal juga tersenyum lalu menyentuh bahu sahabatnya. Ghaida merasa beruntung memiliki sahabat yang mengerti dan menerimanya apa adanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perlindungan, Peperangan, Cinta (END)
ActionSetelah mereka yang sangat aku sayangi pergi, aku akan berusaha melindungi mereka. Walaupun aku harus melanggar janji yang aku ucapkan -Frieska-
