Disebuah rumah besar, Melody sedang menggendong Adik bungsunya yang sudah berumur 2 tahun. Dia membawa Nabilah menuju sebuah grand piano yang terletak disudut rumah mereka. Melody mulai menekan tuts piano sambil memangku Nabilah. Nabilah tertawa mendengar suara tuts piano.
Frieska yang melihat hal itu tersenyum. Dia segera menghampiri Kakak dan Adik bungsunya yang sedang tertawa menggemaskan.
"Kakak asik banget sih sama Nabilah. Aku ikutan dong." Ujar Frieska.
"Sini duduk disebelah Kakak Dek." Kata Melody sambil menggeser duduknya.
"Nabilah, sini sama Kak Mpris." Frieska meraih Nabilah ke gendongannya.
Nabilah tampak nyaman didalam dekapan Frieska. Dia langsung mencium pipi Nabilah yang gembul. Melody tersenyum melihat itu. Dia kembali memencet tuts pianonya. Frieska mendengarkan sambil menidurkan Nabilah. Setelah lagu selesai, Nabilah mulai terlelap tidur.
Melihat Nabilah tertidur, Melody langsung meraih Nabilah dari gendongan Frieska. Dibawanya ke setiap ruangan sambil bernyanyi kecil. Frieska masuk ke kamarnya untuk membereskan bukunya. Saat Melody menggendongnya sampai kamar Mamanya, dia melihat pintu kamarnya terbuka.
Melody langsung bisa melihat bahwa Rica sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam koper besar. Melody yang masih menggendong Nabilah segera menghampiri Rica dengan pandangan heran.
"Mama." Panggil Melody.
Rica kaget dengan panggilan dari Melody. Dia langsung memutar tubuhnya menghadap anak sulungnya.
"Iya Mel." Sahut Rica.
"Mama mau kemana?" Tanya Melody heran.
"Mama harus pergi sayang."
"Kemana Ma? Berapa lama?"
"Mama belum tahu sayang. Mungkin dalam waktu lama."
"Ma, apa Mama tega ninggalin aku, Frieska sama Nabilah? Apalagi Nabilah masih kecil. Dia butuh kasih sayang Mama setelah Papa meninggal. Frieska juga pasti gak mau ditinggal sama Mama. Aku juga butuh Mama."
Melody hanya memandang Rica dengan pandangan sedih. Frieska yang mendengar pembicaraan mereka hanya terdiam sambil menangis. Setelah ditinggal mati Papa, sekarang Mama juga mau pergi meninggalkan kami semua, kata Frieska dalam hati.
"Sayang, dengerin Mama. Mama meninggalkan kalian demi kalian. Kamu jaga Adik-adik kamu ya. Mama sayang banget sama kalian. Terutama Nabilah." Jelas Rica sambil menangis.
Rica mencium Nabilah yang tertidur didekapan Melody. Melody menangis mendengar bahwa Rica harus meninggalkan mereka. Setelah kehilangan Papa, kami harus juga ditinggal Mama. Belum cukup kah penderitaan kami, ujar Melody sedih dalam hati.
Akhirnya setelah semua siap, Rica membawa kopernya menuju pintu depan. Melody mengikuti Mamanya. Sebelum pergi, Rica mencium lembut kening anak sulungnya sambil menangis. Setelah melakukan itu, Mamanya langsung melangkah keluar.
Melody yang sedang menggendong Nabilah hanya bisa mendekap erat Nabilah. Frieska kembali masuk ke dalam kamar setelah menatap kepergian Rica dari lantai 2 rumahnya. Dia menangis didalam kamarnya.
"Dek, kasihan kamu. Kamu belum sempat mengenal Papa sekarang Mama sudah pergi meninggalkan kita. Tapi Kakak sama Kak Mpris janji bakal jaga kamu." Ujar Melody.
***
5 tahun kemudian.
"Dek, waktunya ke sekolah. Ayo bangun." Kata Melody sambil mengelus kepala Adiknya lembut.
Nabilah, segera bangun lalu mengulurkan tangannya mengisyaratkan minta digendong. Melody tersenyum dan mulai menggendongnya. Melody segera memandikan Nabilah.
Setelah memakai seragam SD, Nabilah menuju lantai 1 digandeng Melody untuk sarapan. Dimeja makan, Frieska yang sedang sarapan tersenyum melihat Adik bungsunya sudah siap bersekolah. Nabilah menaiki kursi makan dengan dibantu Melody.
"Pagi Kak Mpris." Sapa Nabilah sambil mngerjapkan matanya lucu.
"Pagi juga gembul." Sapa balik Frieska sambil mencubit gemas pipi Nabilah.
"Sakit Kak."
Frieska hanya tertawa. Nabilah cemberut sambil menyedekapkan lengan kecilnya ke dada. Melody tersenyum melihat mereka berdua. Dia segera menyuapi Nabilah dengan sabar. Frieska mengambil susu vanilla dan menuangnya ke gelas untuk Nabilah.
"Pinter Nabilah. Sarapannya habis." Bangga Melody.
"Iya Kak." Jawab Nabilah.
"Sekarang minum susunya ya." Ujar Frieska sambil memberikan gelas susunya.
Nabilah mengangguk lalu mulai meminum habis susunya. Frieska mengelap susu yang menempel dimulut kecil Nabilah dengan serbet.
"Dek, hari ini Kakak lembur. Kamu nanti jemput Nabilah pulang sekolah ya." Pinta Melody.
"Iya Kak. Aku pulang cepat kok hari ini. Kan cuma satu mata kuliah." Sahut Frieska.
"Ya udah hati-hati ya."
Frieska berangkat memakai sedan Brionya. Nabilah masuk ke mobil setelah Melody membuka pintu mobilnya. Melody merapikan kunciran rambut Nabilah sejenak.
"Sudah siap Adik Kak Melody?" Tanya Melody.
"Siap Kakak." Sahut Nabilah sambil mengangkat tangannya.
"Sekarang kita berangkat."
Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang. Melody sesekali melihat ke arah Nabilah yang duduk tenang dikursi sebelah pengemudi. Kamu mirip Mama Dek. Ujar Melody dalam hati. Mereka akhirnya sampai disekolah Nabilah. Melody dan Nabilah turun lalu memasuki sekolah.
"Kamu belajar yang pinter ya. Kakak mau kerja dulu. Jangan nakal." Pesan Melody.
"Iya Kak. Aku janji gak akan nakal." Janji Nabilah.
Melody mencium kening Adiknya lembut. Lalu dirapihkannya seragam dan dasinya. Nabilah memeluk Melody erat. Saat itu wali kelas Nabilah menghampiri mereka. Melody tersenyum lalu membungkuk sedikit pada Guru itu.
"Kakak berangkat ya Nabilah. Bu Delima, titip Nabilah ya." Kata Melody.
"Baik Bu. Saya akan jaga." Bu Delima menyanggupi sambil tersenyum.
Nabilah melambaikan tangannya pada Melody. Setelah mobil yang dikendarai Melody tidak terlihat, Nabilah langsung memasuki kelasnya digandeng oleh Bu Delima. Tanpa sengaja Nabilah bertabrakan dengan siswi lain hingga terjatuh.
"Aduh sakit." Ujar mereka berbarengan.
TBC
Terlalu singkat ya. nanti bakal ada yang panjang. maaf kalau typo dan gak bagus. tolong vote dan komen ya
KAMU SEDANG MEMBACA
Perlindungan, Peperangan, Cinta (END)
AksiSetelah mereka yang sangat aku sayangi pergi, aku akan berusaha melindungi mereka. Walaupun aku harus melanggar janji yang aku ucapkan -Frieska-
