Suasana rumah sangat sepi. Melody tampak memeluk boneka kelinci yang dibelikannya untuk Nabilah. Dia menangis keras saat melihat barang-barang Nabilah dikamarnya. Frieska pergi pagi-pagi sekali dengan keadaan kacau. Sementara Shania sedang berdiri didepan jendela menatap keluar. Dia mengawasi orang-orang yang mencurigakan yang bisa saja lewat dirumahnya.
Beby menghampiri Melody yang masih menangis sejak semalam. Wajah dan mata Melody memerah karena terlalu lama menangis. Beby mengelus rambut panjang Melody perlahan. Wajahnya terlihat semakin tirus sejak mereka pulang dari rumah sakit. Perban yang membalut kepala Melody sudah dilepas oleh Beby dan menyisakan bekas jahitan kecil disana. Memar diwajahnya juga sudah memudar seluruhnya.
Shania melangkah menuju kamar Melody. Pandangannya berubah sendu saat menatap orang yang dia anggap seperti Kakaknya sendiri terpuruk seperti itu. Beby mengajaknya keluar meninggalkan Melody yang masih melamun dikamar. Shania hanya bisa mengikuti langkah Beby.
Dia membawa Shania menuju kandang kelinci yang ada didekat kolam renang. Beby menatap kelinci yang sedang memakan wortel besar yang dia bawa dari kulkas tadi. Shania juga menatap kelinci yang tampak memakan makanannya dengan lahap. Beby jadi ingat dengan Nabilah yang selalu bermain-main dengan kelincinya saat sedang libur sekolah.
Shania mengelus punggung Beby sambil memeluknya erat. Beby hanya menenggelamkan wajahnya ke bahu Shania. Air matanya sudah kering saat ini. Shania melepaskan pelukannya dan menatap Beby yang tampak diam sejak diculiknya Nabilah. Beby beranjak dari duduknya dan mengambil hoodie biru miliknya. Shania yang menatapnya bingung langsung menghampirinya.
"Kamu mau kemana Beb?" Tanya Shania.
"Aku mau ke panti. Aku mau tahu rahasia dan asal-usul aku." Sahut Beby lalu dia mengambil motornya yang ada disana.
"Kamu yakin mau pergi hari ini?" Tanya Shania lagi cemas.
"Aku ngerasa ini waktu yang tepat untuk aku tahu siapa sebenarnya orang tua aku. Aku berangkat dulu ya. Tolong jaga Kak Melody. Aku gak lama kok." Pamit Beby.
"Iya kamu hati-hati ya."
"Selalu Shan."
Setelah mengenakan helm dan sarung tangan motor, Beby langsung menyalakan motornya dan melajukannya ke jalanan yang sepi. Shania menatap motor Beby sampai menghilang ke tikungan. Setelah itu Shania langsung masuk ke rumah Melody dengan langkah tenang.
Ditempat lain, Frieska berada dikampusnya menuju rooftop. Langkahnya sangat berat saat menaiki tangga. Pikirannya masih terpenuhi dengan Adiknya. Adik kesayangannya diculik dan dia tidak mampu menjaganya. Sejak pulang dari rumah sakit, Melody terus mengurung diri sambil memeluk boneka kelinci besar milik Nabilah.
Saat langkah kakinya sampai ke rooftop, dia melihat Ghaida yang berdiri disana sendirian. Frieska menatap punggung tegap itu dengan tatapan penasaran. Perlahan dihampirinya Ghaida yang masih membelakanginya.
"Kamu yang bernama Ghaida kan?" Tanya Frieska.
Ghaida menoleh dan mendapati Frieska sedang menatapnya. Ghaida tersenyum lalu memutar tubuhnya menghadap Frieska.
"Iya. Aku adalah Ghaida. Selama ini aku yang memintamu untuk bergabung dengan kami." Kata Ghaida tenang.
"Tapi kamu tahu akau gak mau melakukannya lagi." Ujar Frieska pelan.
"Kau memiliki alasan untuk melakukannya." Bantah Ghaida kalem.
"Aku sudah berjanji padanya. Tapi aku ingin menyelamatkan Adikku."
Ghaida menghampirinya dan berdiri dihadapan Frieska. Dia menarik kerah baju Frieska dan menghadapkan wajahnya ke arah Frieska.
"Jangan ragu-ragu lagi. Kalau kamu berada ditengah puncak kau harus terus mendakinya. Walaupun itu harus berhadapan dengan hal yang sangat menyedihkan." Tukas Ghaida tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perlindungan, Peperangan, Cinta (END)
AksiSetelah mereka yang sangat aku sayangi pergi, aku akan berusaha melindungi mereka. Walaupun aku harus melanggar janji yang aku ucapkan -Frieska-
