Sebuah mobil terparkir disebuah rumah yang sangat mewah. Sekeliling rumah sangat sepi karena memang tetangga disana tidak saling mengenal. Dihalaman rumah, ada taman yang luas dengan berbagai tanaman obat. Sementara dihalaman belakang, ada tempat untuk bersantai yang sangat nyaman. Rumah itu milik Ghaida. Dia hanya tinggal bersama Dhike disana. Tapi sekarang teman-temannya sedang berada disana untuk menginap.
Sementara itu, Ghaida sedang menelusuri setiap ruangan sambil menggendong Nabilah. Dia menidurkan Nabilah yang sempat terbangun sesaat. Dielusnya lembut punggung kecil anak itu penuh sayang. Anak manis itu kembali terlelap sambil memeluk Ghaida. Ghaida yang melihat Nabilah sudah tertidur, langsung membawanya ke kamarnya. Dibaringkannya perlahan ke ranjang lalu menyelimutinya.
Saat itulah pintu terbuka perlahan. Terlihatlah Sendy dan Dhike didepan kamarnya. Ghaida melihat mereka lalu mengisyaratkan agar mereka tidak berisik. Dhike mengangguk lalu memasuki kamar diikuti Sendy. Dhike menatap Nabilah yang terlelap dengan lembut.
"Kamu lelah Key. Tidurlah dulu. Kamu juga Sen." Suruh Ghaida.
"Iya. Aku udah ngantuk ini." Sahut Sendy.
"Tidur disini aja. Sambil jagain dia." Kata Ghaida.
Dhike mengangguk lalu berbaring disamping Nabilah sambil memeluknya erat. Sendy juga ikut berbaring disisi lain Nabilah lalu ikut tertidur. Ghaida mematikan lampu tidur lalu keluar perlahan. Diruang tengah rumahnya, hanya terlihat Ve yang sedang membaca novel. Jeje dan Kinal tidak terlihat disana. Ghaida menuju sofa yang berada diruang tengah lalu duduk disana.
"Pada kemana? Kok gak kelihatan?" Tanya Ghaida.
"Jeje lagi latihan. Kinal lagi dihalaman belakang sendirian. Gak tahu ngapain." Sahut Ve tanpa mengalihkan pandangannya dari novel.
"Oh oke." Sahut Ghaida.
Ghaida langsung menuju halaman belakang. Dilihatnya Kinal sedang duduk dikursi tempatnya biasa duduk. Disebelahnya terhidang teh hangat yang dibuatkan oleh Ve. Ghaida berjalan perlahan hingga sampai dikursi sebelah Kinal. Kinal menoleh dan tersenyum miris. Ghaida menatapnya dengan nanar.
"Ada masalah?" Tanya Ghaida.
"Entahlah. Aku gak yakin ini masalah atau bukan. Tapi ini terlalu menggangguku." Sahut Kinal.
"Katakan saja. Aku akan mendengarkan." Bujuk Ghaida halus.
"Ini tentang Dhike."
"Oh ya? Ada apa dengan dia?"
"Dia seakan membenci aku. Aku gak tahu apa salahku. Setiap mendekatinya, dia Cuma menatapku dengan pandangan tajam dan menusuk."
"Dia gak bilang apa-apa?"
"Dia menekanku agar aku menjauh dari Nabilah. Dia bilang itu dengan nada yang tajam seakan aku ingin melukai anak itu."
"Mungkin aku tahu apa penyebabnya."
"Apa penyebabnya?"
Ghaida menatapnya. Kinal menunggu jawaban dari mulut ketuanya yang kadang sangat sulit ditebak ini. Setelah beberapa lama terdiam, Ghaida menghela nafasnya dan menjawab dengan nada tegas dan lugas.
"Dia tahu kamu mantan anggota mereka." Kata Ghaida.
"Apa? Jadi dia menganggap aku masih bagian dari mereka. Tapi aku udah bukan anggota mereka." Ujar Kinal dengan nada agak tinggi.
"Wajar dia bersikap seperti itu padamu." Ucapan Ghaida membuat Kinal marah.
"Aku ini ingin berteman dengannya. Lagi pula apa yang membuat Dhike seperti itu?" Tukas Kinal dengan nada marah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perlindungan, Peperangan, Cinta (END)
AcciónSetelah mereka yang sangat aku sayangi pergi, aku akan berusaha melindungi mereka. Walaupun aku harus melanggar janji yang aku ucapkan -Frieska-
