Part 7

1.3K 73 1
                                        

Pagi itu, seorang wanita berambut pendek bertubuh tinggi dan kekar sedang berdiri memandang keluar jendela. Orang itu adalah Ghaida. Dia sedang memikirkan misi yang akan dijalaninya. Saat dia memejamkan matanya sejenak, dia merasakan sakit yang menusuk tubuhnya. Karena tidak tahan dengan sakitnya, Ghaida langsung tersungkur ke tanah.

Ditempat lain, Ve sedang merenung disebuah danau. Hari ini kuliahnya libur. Jadi dia bisa pergi ke danau. Pandangannya kosong menatap arus sungai yang tenang. Walaupun dia bisa tertawa bersama klubnya, tetap saja dia merindukan seseorang.

Seseorang yang memberinya harapan, keceriaan dan arti hidup. Dia mengambil foto yang selalu dia bawa itu dan melihatnya. Pikirannya memflashback kenangan yang ada diotaknya. Saat itulah, HP miliknya bergetar menandakan ada panggilan masuk. Ve langsung mengangkatnya.

"Ya. Ini Ve." Sapa Ve.

"...."

"Apa? Sekarang dia dimana?"

"...."

"Baik. Saya akan kesana."

Ve langsung menuju rumah sakit dengan mobilnya. Sesampainya dirumah sakit, dia menuju ruangan Ghaida. Sesampainya dikamar rawat Ghaida, dia melihat Ghaida masih terpejam. Dia menggenggam tangan Ghaida sambil menangis.

Beruntung baginya kuliah sedang libur. Karena kelelahan, Ve tertidur disisi ranjang Ghaida. Beberapa lama Ve tertidur, dia mendengar seseorang memanggilnya. Ve membuka matanya dan melihat Ghaida sudah sadar.

"Ghaida, kamu sadar?" Kata Ve.

"Kamu gak kuliah?" Tanya Ghaida.

"Aku libur hari ini. Jadi aku bisa kesini."

Ghaida diam menatap langit-langit kamarnya. Ve masih berada disisinya. Dia memakai kaos putih polos, mantel bermotif kulit binatang, celana jins biru dan sepatu sneakers. Rambut panjang ikalnya diikat. Ghaida melihat mata Ve yang sembab. Dia tahu apa yang membuat Ve seperti itu.

"Ve." Panggil Ghaida lemah.

"Iya Ghaida." Sahut Ve.

"Apa menurut kamu dia akan kembali sebelum perang dimulai?"

"Dia? Siapa maksud kamu?"

"Jangan pura-pura. Dia itu hanya ada satu."

Ve diam sejenak. Dia menebak-nebak siapa yang dimaksud Ghaida. Kadang Ghaida memang suka menggantung kalimatnya. Tiba-tiba dia teringat satu orang. Mungkinkah yang Ghaida maksud adalah dia. Pikir Ve.

"Maksud kamu dia?" Tanya Ve ingin meyakinkan Ghaida.

Ghaida mengangguk.

"Tapi bukannya dia sekarang menghilang?" Lanjut Ve.

"Dia akan kembali. Dalam waktu dekat."

Ve melamun sejenak. Dia akan kembali. Ghaida mencengkeram kaos putih Ve dan mendekatkannya ke wajah Ghaida.

"Ve, untuk sementara kamu yang memimpin. Tapi saat dia kembali, dia akan menjadi pemimpin. Aku harap kamu paham." Kata Ghaida.

"Baik. Aku mengerti Ghai." Sanggup Ve.

Ve memandang Ghaida yang masih terbaring lemah. Matanya tampak menuntut dan terpancar sebuah kesedihan. Ve memahami dan menggangguk tanda mengerti. Setelah Ghaida melepaskan cengkeramannya, Ve langsung pergi keluar.

Sekarang Ve hanya berharap apa yang dibilang Ghaida akan menjadi kenyataan biarpun dia merasa itu mustahil. Dia sudah menghilang tanpa jejak. Tidak ada seorang pun yang tahu dimana dia sekarang. Bahkan Ve tidak bisa melacaknya.

Perlindungan, Peperangan, Cinta (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang