Melody sedang bekerja diruang kerjanya. Terdengar bunyi ketikan cepat Melody disana. Beby dan Nabilah sudah tidur dikamarnya. Frieska masih mengerjakan tugas dikamar. Wanita berambut panjang itu membolak balik dokumen yang sedang dikerjakannya lalu kembali mengetik.
Setelah mengerjakan tugasnya, Frieska menuju dapur untuk mengambil air minum. Tanpa sengaja, dia melihat Kakaknya yang sedang sibuk dengan dokumennya. Dia melihat wajah lelah diwajah Kakaknya. Frieska segera menuju dapur mengambil 2 gelas air putih. Kemudian dia mengetuk pintu ruang kerja Kakaknya. Melody mendongakkan kepalanya dan melihat Frieska masuk.
"Kamu belum tidur Dek? Ini udah malem loh." Tanya Melody.
"Aku baru selesai ngerjain tugas Kak. Kakak lagi ngapapin sih?" Tanya Frieska balik.
"Lagi beresin laporan Dek." Sahut Melody sambil mengetik.
"Nih buat Kakak. Pasti Kakak haus." Frieska menaruh gelasnya ke hadapan Melody.
"Terima kasih ya Dek."
"Kak, kapan Kakak keluar kota?"
"Besok Dek. Kakak gak pulang dulu beberapa hari."
"Iya Kak. Kakak hati-hati ya."
"Kamu tidur sana. Laporan Kakak udah mau selesai nih."
Frieska mengangguk. Dia meninggalkan Kakaknya yang sudah menyelesaikan pekerjaannya. Frieska menuju kamarnya lalu membaringkan tubuh besarnya. Tak lama kemudian, dia tertidur. Melody membereskan berkas-berkasnya dan memasukkannya ke tasnya. Setelah selesai, dia menuju kamarnya. Melody memasuki kamarnya dan merebahkan tubuhnya.
Ditatapnya langit-langit kamarnya dengan pandangan nanar. Besok dia harus berangkat pagi-pagi sekali untuk meghadiri rapat membahas proyek besar. Untungnya dia sudah menyiapkan keperluan untuk pergi beberapa hari. Dimatikannya lampu kamarnya dan dia tertidur.
***
Pagi yang cerah kembali datang. Disebuah kampus, seorang wanita bertubuh kekar dan kuat sedang merenung. Nobi memandang tangannya yang masih dibalut gips. Rasa nyeri merambat ke tangannya. Ditaruhnya perlahan kemudian dia menatap keluar jendela.
Beberapa hari yang lalu, Sinka seakan menjauhinya. Nobi merasa dia tidak melakukan kesalahan pada Sinka. Saat sedang menelan pil penahan rasa sakit, dia melihat Sinka sedang berjalan melewati ruangan kosong yang Nobi masuki. Nobi segera menyusul Sinka yang terus berjalan.
"Sinka." Panggil Nobi.
Sinka menoleh. Saat dia menyadari bahwa Nobi yang memanggilnya, dia segera berlari. Nobi yang merasa heran langsung mengejar Sinka. Keduanya berlari disepanjang koridor. Setelah beberapa lama, Nobi berhasil menangkap lengan Sinka. Sinka berontak saat lengannya ditahan.
"Lepasin tangan aku." Sentak Sinka.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Nobi heran.
"Aku bilang lepasin aku." Kata Sinka.
"Gak. Kamu harus jelasin apa yang buat kamu jauhin aku."
"Lepasin. Gak ada yang perlu aku jelasin ke orang macam kamu yang menusuk dari belakang."
"Apa maksud kamu Sin?"
"Gak usah ngelak. Lepasin tangan aku sekarang."
Nobi terdiam mendengar Sinka berkata seperti itu. Sinka menyentak tangannya kasar lalu pergi meninggalkan Nobi yang masih terpaku. Nobi terus memandang punggung Sinka yang perlahan menghilang setelah berbelok ke salah satu sudut.
***
Sinka terus berjalan meninggalkan koridor. Kakinya sudah menjerit meminta berhenti tapi dia terus berjalan. Air matanya mengalir deras dan dihapusnya perlahan. Tapi percuma karena air matanya kembali mengalir bahkan lebih deras dari yang tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perlindungan, Peperangan, Cinta (END)
ActionSetelah mereka yang sangat aku sayangi pergi, aku akan berusaha melindungi mereka. Walaupun aku harus melanggar janji yang aku ucapkan -Frieska-
