Disebuah rumah mewah, tampak sebuah kesibukan disana. Melody tampak menggendong Nabilah yang sedang rewel. Tubuh kecilnya terserang demam tinggi. Beby dan Shania masih dirumahnya sambil menyiapkan kompres untuk Nabilah. Mereka juga sangat khawatir dengan Adik kecilnya yang sedang terserang demam.
Pagi itu, saat Shania terbangun dia merasakan tubuh Nabilah bergetar. Beby yang juga terbangun disebelahnya menatap heran pada Shania. Shania menyentuh dahi Nabilah dan melonjak kaget. Tubuh Nabilah sangat panas hingga tubuhnya bergetar. Dengan cepat, Beby menggendongnya keluar kamar. Shania mengambil jaket tebal milik Nabilah dan memakaikannya.
Melody yang sedang memasak, bingung saat melihat Beby terburu-buru turun sambil menggendong Nabilah diikuti Shania dibelakangnya. Saat tahu Nabilah sakit, Melody langsung meraih Nabilah ke gendongannya. Dipeluknya erat anak manis itu dan dia langsung menelfon Frieska. Sementara Shania memangil Dokter memakai mobil Melody.
Saat sedang digendong Melody, Nabilah meminta digendong oleh Beby. Beby segera menggendongnya sambil mengelus lembut punggung Nabilah. Tak lama kemudian, Shania sudah sampai membawa Dokter. Shania segera memencet bel dan pintu langsung terbuka. Melody yang melihat ada Dokter dibelakang Shania langsung menyuruh masuk.
Mereka pun langsung masuk. Beby membaringkan tubuh kecil Nabilah ke kamar Melody yang ada dilantai 1. Melody langsung masuk sementara Beby dan Shania menunggu diluar. Beby terlihat mengacak rambutnya yang dipotong sebahu. Shania mengelus punggung Beby yang terlihat kekar.
Dilihatnya tubuh kurus Beby bergetar. Saat mengangkat wajahnya, Shania melihat mata Beby yang berderai air mata. Shania langsung memeluk Beby erat. Dia mengerti perasaan Beby yang sangat takut Nabilah sakit parah. Shania juga sangat menyayangi Nabilah dan sudah menganggapnya seperti Adiknya sendiri karena kebetulan Shania tidak mempunyai Adik.
Beby mendengar suara mobil berhenti didepan rumahnya. Dia segera menuju pintu depan dan melihat Frieska sudah datang. Beby membuka pintu dan melihat Frieska memasang wajah khawatirnya. Shania berdiri dibelakangnya sama khawatirnya.
"Dek, mana Nabilah?" Tanya Frieska.
"Didalam Kak. Dikamar Kak Melody. Lagi diperiksa sama Dokter." Sahut Beby.
Tanpa pikir panjang, Frieska langsung berlari ke dalam. Beby kembali duduk disofa dan Shania menyusulnya. Matanya masih dialiri air mata. Shania terus mengelus punggung Beby dengan lembut. Tak lama kemudian, Dokter keluar dengan Melody. Sementara Frieska masih didalam. Mereka tampak berbicara serius. Beby langsung menyusul Frieska yang masih didalam kamar Melody.
Saat masuk, dia melihat Frieska duduk disisi ranjang menatap Nabilah yang sedang dikompres. Shania mengantar Dokter pulang. Melody juga ikut untuk menebus resep ke apotik rumah sakit. Frieska mengelus lembut kepala Adik kecilnya.
Beby mengambil air kompresan baru untuk Nabilah. Frieska berbaring sambil memeluk tubuh kecilnya. Tubuh Nabilah sangat panas dan bergetar hebat. Beby kembali sambil membawa air kompresan baru. Dia juga ikut berbaring disebelah Nabilah.
"Apa kata Dokter Kak?" Tanya Beby.
"Untuk sekarang Cuma demam biasa. Tapi kalau demamnya gak turun 2 hari harus dibawa ke rumah sakit." Sahut Frieska.
"Sekarang lagi musim sakit." Simpul Beby.
Frieska mengangguk. Tubuh kecil Adiknya terus bergetar. Dia beralih memeluk Beby dan Beby langsung memeluknya erat. Dieratkannya selimut Nabilah hingga dia kembali tertidur. Frieska mengelus punggung kecil Adiknya penuh sayang.
Tidak sampai 1 jam, Melody dan Shania kembali. Ditangannya tergenggam kantong plastic berisi obat dari apotik. Shania memandang Nabilah yang tertidur dengan kompresan didahinya. Frieska melihat obat yang baru saja ditebus Melody.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perlindungan, Peperangan, Cinta (END)
ActionSetelah mereka yang sangat aku sayangi pergi, aku akan berusaha melindungi mereka. Walaupun aku harus melanggar janji yang aku ucapkan -Frieska-
