Aku membalik kertas itu.
Tetangga yang bodoh.
Begitu yang tertulis di kertas itu.
"Uuughh... ini pasti ulah Cedric. Sialan, sialan."
"Kiara, kenapa bicara sendiri?" Tanya guru matematika.
Aku tersentak. "Eh... anu pak, itu," aku terbata-bata.
"Nah, waktu habis. Kumpulkan!" Perintah pak guru.
"Aakh... sial, aku belum menyalin semua jawaban! Ah ya sudah, lah. Daripada tidak sama sekali!" Kataku lalu mengumpulkan kertas jawabanku.
Pada jam terakhir, guru itu masuk lagi. Ia langsung membagikan hasil ujian kami. Seperti biasanya, ketika membagikan ia juga membacakannya di depan kelas!
"Ryan, 30. Remedi!"
Ryan beringsut mengambil hasil ujiannya.
"Huuu!"
"Payah!"
"Bego!"
"Tiga puluh, apaan!?"
"Hahahahaha!"
"Yuna," ucap Pak guru. "Sembilan puluh."
Dengan muka bangga Yuna maju.
"Wow!! Hebat!"
"Keren, Yuna!"
"Sudah cantik, pintar!"
"Aku kagum!"
"Terimakasih, teman-teman," kata Yuna yang merasa dipuja-puja.
"Cedric," panggil Pak Guru. "Bapak kagum padamu! Kau dapat nilai tertinggi, 95!"
Cedric maju untuk mengambil kertasnya. "Bagus, pertahankan nilaimu ya," pak guru menepuk pundak Cedric.
Aku terhenyak.
Sialan... ternyata.... Cedric itu... pintar!!?
Aku bisa melihat Yuna memasang ekspresi kesal. Ah, Yuna memang selalu mau menang sendiri.
"S... selamat. Selamat? Tunggu dulu, ternyata kau ini... pintar?" Kataku pada Cedric.
Cedric mengangkat bahu.
"Wuah, Cedric pintar, ya! Aku suka cowok pintar!" Puji Clarisa lalu menepuk kedua pundak Cedric.
Cedric hanya menjawab, "Tidak, kok."
Ih, apaan, Clarisa sampai memuji-muji Cedric seperti itu?
"Lho, kenapa aku..?"
"Kenapa, Kiara? Kau bicara sendiri?" Tanya Clarisa.
"Eh, tidak, kok. Abaikan saja," kataku canggung.
Bel tanda berakhirnya sekolah berbunyi.
Kelas dengan cepat kosong. Aku menuju ke ruang tunggu.
Biasanya mobil jemputanku sudah datang. Tetapi kali ini belum datang.
"Belum, ya?" Aku mengambil handphone dari sakuku dan menelpon sopirku. Handphonenya ternyata tidak aktif.
Aku akhirnya menelpon Mama dan berkata kalau jemputanku belum datang.
"Aduuuh..., Kiara! Mama lupa bilang! Sopir kita masuk rumah sakit!" Kata suara di seberang.
"Hah, masuk rumah sakit?"
"Iya, sakit maag-nya akut! Aduh, bagaimana, ya. Jadi tidak ada yang bisa menjemputmu. Papa diluar kota dan Mama... kamu tahu , kan apa yang terjadi ketika Mama menyetir?"
"Iya, Mama menabrak tiang listrik."
"Iya, itu. Jadi sebaiknya kamu... hmm... naik bus sekolah saja, atau jalan kaki! Atau naik angkot! Atau mau Mama panggilkan taksi argo?" Saran Mama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Psycho Boy [TAMAT]
Teen FictionKiara hanya ingin membuktikan pada semua orang dan dirinya sendiri, kalau Cedric juga punya hati. Cover by: _Ragdoll_ Chapter terakhir diprivate. Ikuti untuk membaca.
![Psycho Boy [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/51447934-64-k216969.jpg)