"Semuanya! Apa kalian sudah siap?!" Teriak Aoi tersenyum lebar.
"Kau cerewet, bodoh." Kata Akashi jengkel.
Aoi, Akashi, Hinako, Mitsuki, Haruka, Kuguha, dan guru Ayuzawa ada di bus untuk ke tempat tujuan.
Dua jam yang lalu...
"Oi! Ayo cepat! Kita akan terlambat!" Teriak Akashi marah dari luar kamar.
"Ai!" Teriak Aoi.
"Baik!" Teriak Ai dan tubuhnya menjadi serpihan cahaya hijau kebiruan. Semua cahaya itu mengitari tubuh Aoi dan mereka berdua menjadi satu.
"Apa kau akan memakainya untuk bertarung? Apa dia akan baik baik saja?" Tanya Akashi khawatir.
"Tenang! Adam membuatnya khusus untuk ini! Sekarang, aku akan menggunakannya!" Teriak Aoi dengan penuh semangat.
__________________________________
"Oi, Akashi... Aoi sudah kembali normal lagi..." Bisik Kuguha gembira.
"Ah... iya, seperti yang kau lihat... dia kembali menjadi kapten bodoh yang kita kenal lagi." Kata Akashi.
"Jadi... apa identitas Aoi masih perlu disembunyikan? Ada terlalu banyak rahasia yang kita simpan... apa ini benar?" Dalam hati Akashi berpikir.
"Kau ini siapa?" Tanya Mitsuki menatap Aoi baik baik.
"Eh? Aku Aoi... kaptenmu." Jawab Aoi dengan tatapan bodoh.
"Tidak, kau berbeda." Kata Mitsuki wajahnya mendekati wajahnya Aoi.
"Um... bagaimana menjelaskannya ya...? Um..." Saat Aoi kebingungan harus menjelaskan apa, Akashi menarik pundak Mitsuki dari belakang.
"Mundur darinya, apa kau masih belum belajar sopan santun." Kata Akashi dengan tatapan yang menyeramkan.
"Hah? Apa aku mendengar itu dengan benar? Pertarungan kita terpotong, dan jika tidak ada yang menyela, kau sudah mati." Kata Mitsuki dan mereka berdua mendorong satu sama lain dengan jidat mereka.
Akashi jelas menang dalam kekuatan, dan mendorong Mitsuki sampai terjatuh dengan jidatnya.
"Sialan kau!" Teriak Mitsuki marah dan berdiri.
"Kakak! Itu cukup!" Teriak Haruka dan menarik tangan kakaknya.
"Ruka..." Mitsuki menatap adiknya dengan rasa bersalah.
"Um... Akashi-san... kakakku berusaha mengatakan bahwa kapten kami bukan kapten yang kami temui kemarin." Kata Haruka tersenyum.
"Aoi mengalami demensia, karena itu... orang yang kau hadapi kemarin adalah personalitas lainnya..." Kata Akashi memejamkan matanya dan menghela nafasnya.
"Apa kau puas? Jika kau sudah puas, maka duduklah dengan tenang." Kata Akashi dengan tatapan yang seram.
"Akashi... itu sudah cukup..." Kata Aoi tersenyum dan menenangkan Akashi.
"Um... maaf... orang yang kau kenal kemarin bukanlah aku, tapi dia seperti... bagian aku, karena itu... mari berkenalan." Kata Aoi tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"...... Kau hangat..." Kata Haruka tersenyum.
"Eh?" Aoi kebingungan.
"Kakakku juga berpikir begitu..." Kata Haruka tersenyum.
"Aku tidak berpikir buruk tentangmu, hanya saja... kau sangat dingin kemarin... tapi sekarang kau berbeda..." Kata Mitsuki menggaruk kepalanya.
"Ah..." Aoi lega karena situasinya tidak tegang lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Grand Eden's Game
AcciónCerita tentang seorang perempuan yang mempunyai impian tinggi. Ia ingin menjadi pemenang 'The Grand Eden's Game'. Sayangnya... sekolahnya tak pernah masuk kejuaraan, ia ingin menjadi orang pertama yang masuk kejuaraan di sekolahnya dan menjadi pemen...
