S2 Final Chapter: Fakers

365 24 4
                                        

"Aoi!" Panggil Akashi.

Akashi tinggal di rumah yang besar. Hidupnya menjadi kepala penjaga merupakan hal yang sulit baginya. Tapi ada banyak keuntungan untuk menjadi kepala penjaga.

"Dimana dia...?" Akashi mencari cari Aoi di rumah besarnya.

"Kamui, dimana Aoi?" Tanya Akashi kepada seorang laki laki muda dengan baju pelayan yang rapi.

Dia memiliki rambut hitam. Di bawah matanya, dia memiliki tahi lalat. Matanya berwarna hitam, dan dia seumuran Akashi. Tubuhnya setinggi rata rata laki laki. Matanya juga mengandung ketenangan.

"Sang nyonya sedang ada di taman." Kata Kamui, membungkukkan tubuhnya.

"Lagi? Dia sedang hamil! Kenapa kau tidak menghentikannya?!" Akashi marah kepada kepala pelayannya.

"Maaf, tuan, tapi sang nyonya tetap memaksa untuk keluar. Saya mengirim beberapa pelayan untuk menjaganya." Kata Kamui, masih membungkukkan tubuhnya.

"Hah... aku akan menyusulnya." Akashi menghela nafasnya dan berjalan keluar dari rumah besarnya.

Akashi berjalan keluar, menatap tamannya yang indah. Dia berpikir Aoi akan menyukai ini, karena Aoi memang menyukai hal hal yang indah dan cantik.

Dia menemukan dua pelayan perempuan sedang berdiri di dekat Aoi. Rambutnya yang biru berkibas dari hembusan angin, membuatnya lebih cantik dari apapun untuk Akashi. Tubuhnya sudah lebih tinggi dari sebelumnya, tapi masih cukup kecil dari rata rata. Paling tidak orang orang akan menganggapnya sebagai anak SMP, bukan lagi sebagai anak TK. Dia sedang berjalan menatapi bunga bunga yang cantik di taman. Bunga bunga yang ada di taman sangat cantik dan indah, tapi Akashi hanya memperhatikan satu orang. Perut Aoi yang besar membuktikan bayi itu akan dilahirkan sebentar lagi. Maka dari itu, Akashi sangat khawatir jika Aoi berjalan jalan di taman.

"Aoi." Akashi memanggil Aoi, dan Aoi menoleh kepada Akashi.

"Akashi?! Kau sudah pulang? Kenapa kau pulang cepat?" Tanya Aoi terkejut melihat Akashi, tapi dia gembira untuk melihat suaminya sudah pulang.

"Aku khawatir kau akan melakukan sesuatu yang bodoh, tapi aku lupa kau memang selalu bodoh. Sudah berapa kali aku mengatakan kau tidak boleh terlalu banyak jalan?" Tanya Akashi marah kepada Aoi yang keras kepala.

"Ehehehe... aku hanya ingin melihat lihat." Aoi menggunakan senyuman yang hangat kepada Akashi.

"Kau datang setiap hari ke taman ini." Akashi tidak menyangka setelah lama Aoi tinggal disini, Aoi masih mengunjungi taman yang luas ini.

"Karena kau memang membuat taman ini cukup indah untuk membuatku tertarik." Aoi tersenyum, dia mengetahui Akashi berusaha untuk membuat tamannya seindah mungkin.

"Terima kasih, Akashi." Aoi gembira Akashi berusaha membuat Aoi terkagum.

"Heh..." Akashi tersipu dan membuang muka dari Aoi.

"Jadi, bagaimana dengan anak perempuanku?" Akashi menghampiri Aoi. Dia berlutut untuk bisa memeluk Aoi dari belakang dan mengelus perutnya.

"Dia tidak bisa diam... sepertinya dia rindu kau kau setiap kau pergi... dan dia selalu tenang setiap kali kau disini..." Aoi tertawa sedikit. Dia memegang tangan Akashi yang sedang mengelus perutnya.

"Heh... dia mengambil itu dari ibunya... kau juga tidak bisa diam di tempat, seberapa kali aku mengingatkanmu." Akashi tersenyum gembira mengelus ngelus perut Aoi dari belakang.

"Aku tidak!" Teriak Aoi jengkel.

"Lihat dimana kau berada, bodoh." Akashi tersenyum kepada Aoi.

The Grand Eden's GameCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang