"Eve..." Aika memanggil Aoi.
"................. Semuanya salahku... Akashi selalu memaksakan dirinya sendiri untuk melindungiku... bodoh... Akashi benar aku memang bodoh... bodoh!!!!" Aoi melepaskan semua kemarahannya.
"......... Tidak Eve, Akashi tidak memaksakan dirinya. Akashi ingin kau hidup lebih dari apapun." Aika menjawab itu untuk menyadarkan Aoi.
"Kau tidak mengerti..." Aoi menggigit bibirnya karena dia tidak bisa melepaskan penyesalannya.
"Tidak! Kau yang tidak mengerti!" Teriak Aika dari pikiran Aoi.
"Jika kau ingin menyesalinya, terserah padamu... tapi..." Aoi bisa melihat di dalam pikirannya, Aika sedang menangis.
"...... Jangan biarkan pengorbanan Akashi terbuang begitu saja! Dulu kau terus dilindunginya, sekarang... kau yang akan berdiri untuk melindungi dirimu sendiri dan orang orang yang kau sayangi! Keluargamu masih ada di luar! Mereka menunggumu! Mereka mencarimu! Mereka menyayangimu!" Teriak Aika marah pada Aoi.
"..." Aoi sadar bahwa Akashi sudah meninggal. Tapi di saat yang sama, temannya masih ada di luar sana. Untuk sekarang, Aoi sadar, dia masih harus melindungi orang orang yang dia sayangi.
"HHHHHAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!" Aoi berusaha untuk melepaskan dirinya sendiri.
Dia berteriak dan terus berteriak sambil berusaha untuk melepaskan dirinya sendiri dari rantai yang mengikat tangannya.
Kedua tangan Aoi mengeluarkan cahaya biru yang terang. Tapi, rantai itu menyetrum Aoi setiap kali dia mencoba untuk membebaskan dirinya sendiri.
Aoi kesakitan, tapi dia ingat Akashi pernah mengalami yang lebih parah dari ini. Dia tidak menyerah dan akhirnya rantai yang mengikatnya hancur.
Aoi terjatuh dan Aika berhasil keluar dari tubuh Aoi.
"Aku bebas!" Aika terkejut karena dia sudah bisa keluar dari tubuh Aoi.
Aika mengambil tangan Aoi dan membuatnya merangkul di pundak Aika.
"Ah... hah... gh... h... nh..." Aoi tidak dapat terus mengambil serangan lagi. Nyawanya sudah mulai terancam karena setruman itu.
"Jangan menyerah, Eve. Ayo kita pergi dari sini..." Aika berjalan membawa Aoi.
_______________________________________
"Ada apa ini?! Kenapa Eden ada di langit?!" Teriak salah satu orang di tempat perundingan.
"Tidak... kau salah... Eden bukan ada di langit, Eden ada di sebelah dunia kita." Alice mengatakan itu sambil berpikir apa yang sedang terjadi.
"Alice, aku berharap kau tau ini! Aku kira penjaga lebih hebat dari ini!" Seseorang memukul meja dengan amarah.
"Aku bisa meyakinkanmu, situasi terkendali." Alice bilang dengan suara yang lembut, tapi tegas.
"Terkendali?! Kau bilang ini terkendali?! Lihat itu!" Orang itu melawan Alice. Dia menatap dunia Eden yang sedang ada di langit. "Eden menjadi dunia asli tanpa alasan jelas! Kau seharusmya tau ini!"
"Alice!" Panggil Gintaro masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa, Gintaro? Aku sedang menghadapi masalah disini. Eden masuk-- tidak... Eden menjadi dunia asli... benar benar keajaiban..." Alice kerepotan. Dia meninggalkan tempat perundingan, lalu berbicara drngan Gintaro secara pirvasi.
"Tidak... pasti ada sumbernya... tanpa Pandora, mereka hanya bisa di sini selama sumber itu kehabisan kekuatannya. Tapi... jika sumbernya hilang, maka Eden juga akan menghilang... untuk selamanya..." Himari berbicara pada dirinya sendiri, tapi Gintato dan Alice dapat mendengarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Grand Eden's Game
AcciónCerita tentang seorang perempuan yang mempunyai impian tinggi. Ia ingin menjadi pemenang 'The Grand Eden's Game'. Sayangnya... sekolahnya tak pernah masuk kejuaraan, ia ingin menjadi orang pertama yang masuk kejuaraan di sekolahnya dan menjadi pemen...
