Teater kehidupan telah dimulai,
dengan pelakon tunggal dan dialog bisu.
Rencana berjalan, takdir melantai,
di antara hati yang patah dan bujukan palsu.
Maukah engkau menjadi pendengarku?
Memahami potongan sketsa peran,
menghakimi kenangan dan w...
Kenapa biru menyerbu hingga hijau pun malu? Tertunduk-tunduk hingga ciptakan bayangan kelabu Lalu sang perkasa berangsur tenggelam menuju barat Pelan-pelan ciptakan gelap Beri jalan agar muncul bulan sekerat
Emas beri celah gradasi ungu Namun ego masih milik sang biru Persis mimpi sang perempuan tak sempat terbuat padahal baru sepangkuan
Seperti senja wujud sang mimpi Singgah singkat berikan rindu tak bertepi Berahasia sang perempuan dengan hati Tak akan diucapkannya hingga bertamu mati Bersumpah lah Ia tak akan berbagi kisah Baginya rindu pada sang mimpi hanya sumber resah Tak ingin mata dan hatinya basah Akan rindu yang tak terjamah
Namun sang mimpi tak pernah pergi Hadirnya dibuat abadi pada kanvas berbatas pandang Setiap hadirnya diiringi elegi Senandung sang perempuan di gersangnya padang Harapnya ada dalam sunyinya senja Nama sang mimpi masih tereja
Sang perempuan terus menerka Sambil jemarinya melebur tinta Harapnya sang mimpi terbayang wajahnya Harapnya sang mimpi detakkan debarnya Meski panik terus melanda Akan hadirnya suatu nama Ilusinya berbisik sang mimpi telah lupa Lelap di atas pangkuan seorang puan Lalu sunyi lah tangis sang perempuan Senja masih dilukis kias Semakin kelabu ditelan gelap tak berbekas.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.