27.Draw

35 5 2
                                        

[Eleanor]

   Cahaya sinar matahari perlahan menembus celah-celah tirai yang menghalanginya masuk secara langsung melalui jendela kamarku. Cahaya tersebut sangat berhasil membuat tubuhku semakin hangat. Ya, aku sempat terkejut saat membuka kedua mataku, mendapati Nathan masih tertidur di sampingku dengan kedua tangannya yang masih ia lingkarkan di tubuhku.

   Memandanginya yang masih terlelap sangat membuatku ketagihan. Kedua matanya masih tertutup, menyembunyikan sepasang mata indah yang selalu ku cintai. Bibir merah mudanya yang sedikit terbuka, membuatku sangat ingin mengecupnya. Rambut gelapnya yang lebat menutupi sedikit bagian wajahnya yang masih tetap membuatnya terlihat menawan, bahkan seksi.

   Oh, tidakkah ini pemandangan indah yang sangat ingin ku nikmati setiap kali aku membuka kedua mataku di pagi hari? Tentu. Sangat amat indah dengan pantulan sinar matahari yang membuat kulitnya terlihat semakin indah.

   "Menikmati pemandanganmu, El?", suara paginya seketika menggetarkan seluruh tubuhku, membuat kupu-kupu di perutku seketika membuka matanya lebar. Bahkan aku tak menyadari bahwa ia sudah membuka sedikit matanya, menatap ke arahku dengan seringai paginya yang sangat menggairahkan. Oh, ayolah, Nathan, hentikan seringaian itu.

   "Tentu", jawabku singkat, membawa satu tanganku ke pipinya, membelainya, membuat ia kembali menutup kedua matanya, semakin larut ke dalam belaianku. "Selamat pagi, sayang", ujarnya sembari mempererat tubuhku di dekapannya. Perlahan ia kembali membuka kedua matanya, membuatku dapat melihat bola matanya yang indah secara jelas.

   "Selamat pagi, Nathan", jawabku dengan senyuman hangat. "Bagaimana tidurmu?", sungguh, suara paginya ibarat malaikat yang Tuhan kirimkan padaku. "Sangat nyenyak, kau tau itu. Bagaimana denganmu?", jawabku, masih terus membelai pipinya, sesekali memainkan rambutnya yang semakin berantakan karena ulah tanganku.

    "Apa jawaban yang ingin kau dengar?", timpalnya dengan senyuman kecil yang ia berikan. Kedua matanya masih sedikit tertutup, menandakan ia masih terlihat mengantuk, mengingat jam masih menunjukkan sekitar pukul 8 pagi. "Entahlah", sahutku dengan kedua alis yang terangkat, membuatnya mengecup singkat keningku, "Tentu aku tidur dengan nyenyak, sangat nyenyak. Aku sudah lama merindukan ini, kau tau itu".

   Aku hanya tersenyum sebelum bangkit dari posisi tidurku, yang menyebabkan Nathan mengeluarkan suara geramannya, menandakan bahwa ia sangat kesal, namun tentu aku harus membantu ibu menyiapkan sarapan, mengingat Lili tidak berada di rumah. "Aku akan menggosok gigiku", ujarku dengan senyuman lebar yang menunjukkan deretan gigiku, sementara Nathan enggan menatap ke arahku, ia berpura-pura kesal padaku. Dengan cepat aku memberi kecupan di pipinya sebelum beranjak ke kamar mandi.

   Setelah menggosok gigiku dan mencuci muka, aku mendapati Nathan sudah terduduk di ujung tempat tidur, mengenakan kaus miliknya yang semalam awalnya ku ambil untuk ku kenakan tidur. Sementara aku berjalan ke arah lemari, mengambil satu kaus biru dan celana tidur milik Nathan yang selalu ada di lemariku serta celana tidur untukku, tentu aku tidak mungkin keluar bertemu dengan keluargaku mengenakan pakaian Nathan, walaupun ibu sudah biasa melihat itu namun kali ini Nathan tidur bersamaku, itu akan sedikit aneh.

   "Kau menggantung lukisanku", ujarnya, membuatku memalingkan tubuhku, mendapati ia yang sudah mengenakan celana tidurnya, menatap ke arah 2 lukisannya yang berada di dinding, tepat di hadapan tempat tidurku. "Um, ya, aku suka melihatnya saat aku bangun tidur dan akan tidur", jawabku sembari mengangkat kedua pundakku, menatap ke arahnya dan lukisannya secara bergantian dan mengganti pakaianku secara bersamaan.

   "Kau tau, kedua lukisan itu adalah ungkapan hatiku saat itu, saat aku tidak dapat mengatakan padamu bahwa aku harus pindah", ujarnya lembut, terus menatap ke arah lukisannya yang sangat indah. Mengangkat kedua alisku, aku mendekati tubuhnya yang masih memandangi lukisannya. "Kue itu adalah red velvet, tanda minta maaf yang selalu ku berikan untukmu saat kita bertengkar. Dan terdapat bendera London di atasnya. Lukisan itu mengatakan permintaan maafku padamu karena harus kembali ke London", jelasnya.

Like We DidTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang