T h e r e f o r
Y o u
28 (b)
A
. N selamat membaca, vote share dan komen yaa. Berhubung mingdep gue udah uts, updatenya bakalan lebih lambat. Udah gitu aja. Semoga suka.
___
Bulan terbangun di pagi hari. Matahari menelusup masuk melalui celah jendela. Menguap pelan, ia mengusap matanya lantas kembali memejamkan mata. Rasanya enggan terbangun namun alam bawah sadarnya meminta ia bangun. Dengan malas, ia pada akhirnya duduk bersandar pada ranjang hingga pandangan matanya jatuh tepat pada sebuah kotak di atas nakas.
"Loh?" Menguap kembali, Bulan meraih kotaknya. Mengocoknya cukup kencang hingga terdengar suara dari dalam kotak. Dengan tidak sabar ia membuka kotaknya. Kotak yang terbungkus kertas ungu itu membuatnya sedikit tersenyum.
"Kado dari mama nih pasti," gumamnya hingga kotak benar-benar terbuka. Bulan mengerjap cepat, langsung beranjak dari tempat tidur keluar kamar.
"Ma! Mama! Mama dimana?"
Keira--sang Mama yang tengah menonton acara berita pagi menoleh dari layar tv. Memandangi Bulan yang menuruni tangga tergesa-gesa hingga kemudian terdengar bunyi gedubak begitu keras. Lantas, wanita itu langsung terburu-buru berdiri, berlari menghampiri putri semata wayangnya yang kini terduduk meringis di lantai.
"Aduh, sakit Ma," ringis Bulan berkaca-kaca. Memegangi pergelangan kakinya, gadis itu meringis tertahan. "kakiku sakit, Ma. Aduh! Gimana?"
Keira menghela napasnya, menoleh kanan-kiri baru berteriak memanggil Keranu--keponakannya yang tengah menginap di rumah.
"Ranu! Ranu! Bantuin tante!"
Pintu kamar di samping ruang tv terbuka, Keranu--sang keponakan--dengan wajah mengantuknya membuka kamar. Rambutnya berantakan dan hanya mengenakan celana boxer kebesaran milik papa Bulan.
"Gimana tante?"
"Nih, angkat Bulan ke sofa."
"Lah ngapain acara diangkat tante?" bingung Keranu. Cowok itu berjalan menghampiri dengan sesekali menguap lantas mendengus mengamati piyama hello kitty milik Bulan.
"Ngesot ajasih lo, Bul! Nyusahin aja pagi-pagi!"
"Kalo gak ikhlas, gausah!" Bulan memekik emosi. Kakinya terasa nyut-nyutan dan nyeri. Menepis tangan Keranu yang hendak membantunya berdiri, ia lebih memilih merayap pelan menuju sofa ruang tengah. Bukan merayap, lebih tepatnya ngesot.
"Ah! Lo lagi latihan syuting film horor baru ya?" dengan wajah tengilnya, Keranu tertawa. Menghendikkan bahunya tak acuh kemudian menuju dapur untuk melepas dahaga.
"Tante, susu vanillanya masih, kan, Tan?"
"Masih." Keira menggelengkan kepalanya mengamati Bulan, "serius, kamu mau ngesot gitu? Ituloh ada Keranu, Bulan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bulan & Bintang
Teen Fiction[COMPLETED] Bintang selalu merasa bahwa cinta tak pernah berpihak padanya. Sebagai mahasiswa desain komunikasi visual dan Presbem FSRD, kegiatan hariannya padat. Kisah cinta pandangan pertamanya pada Biru Cendana berakhir tragis--penuh keegoisan. L...
