16

193 7 0
                                        

"Alhamdulillah, wes tekan putu-putuku ayo-ayo ngger ndang mlebu, nenek udah buatin makanan kalian makan dulu pasti laperkan"

"iya nek, tapi David mandi dulu dech"

"oow ngono, yo wes rono-rono"

"Ca, kenapa kok bengong?"

"eem nggak, lagi mikir aja putu-putu apa si? bukannya makanan semacem kue kukus itu ya?" dengan polosnya aku tanya dan sontak membuat Deva, Devi dan David ketawa geli yang membuatku bingung memang ada yang aneh dengan pertanyaankku.

"ya ampyun Ecca!... jadi dari tadi kamu bengong tu karna nggak tau maksud ucapan si nenek, ngomong dong sama aku, putu itu artinya cucu, bukan kue sayang" jawab Devi masih terus tertawa memandangku.

"oow, maaf aku kan nggak tau" dengan memancarkan ekspresi malu ku.

"ya udah aku mau mandi dulu, oh ya kamar kalian ada di ujung sana mentok terus belok kiri, walau sederhana semoga kalian betah ya"

"ya, makasi Vid" jawab Devi. Kami berjalan menuju kamar yang di arahkan David. Kamar yang sederhana tapi menyenangkan, ada satu jendela yang cukup besar terbuat dari kayu dengan sela-sela untuk ventilasi yang saat di buka akan terlihat pemandangan persawahan, kebun-kebun milik warga dan tampak jelas bukit-bukit yang indah.

"Ca, David baik juga ya" kata Devi

"iya, udah baik, sopan, sederhana, perhatian, ganteng lagi" saut Deva
"ya alhamdulillah, tambah lagi satu sahabat baik kita kiriman kunfayakun dari Allah" ku jawab pertanyaan mereka dengan santai.

"took...took...toook!" suara ketukan pintu kamar kami

"Ca... kalo udah siap ayo kita makan bareng, nenek udah nyiapin makanan"

"iya, kita nyusul" ternyata David. Kami beranjak keluar kamar, dengan sabar Deva dan Devi menuntunku kearah meja makan. Sebenarnya aku mau tiduran saja, nggak tahan nahan nyeri kakiku kalo jalan. Tapi nggak enak harus menolak permintaan David dan neneknya.

"aduh-aduh kasian sekali cucuku yang satu ini, ayo nduk di makan dulu setelah itu nenek akan buatkan ramuan dan nenek pijat kakimu di jamin cespleng" kata nenek David dengan bangga yang ku balas dengan senyuman dan tawa kami.

Setelah makan aku kembali kekamar, sedangkan Deva, Devi dan David mereka pergi jalan-jalan keliling kampung. Sebenernya pengen ikut, tapi kakiku nggak bersahabat banget.

"took...took....toook!.... nduk ini nenek"

"iya nek... masuk saja"

"nenek sudah buatkan ramuannya, sini kakinya nenek urutin" dengan aroma ramuan yang cukup membuat mual.

"memang baunya nggak enak tapi kasiatnya wahh, kalah sama obat-obat jaman sekarang" ternyata nenek tau apa yang aku pikirkan.

"awwww.... sakit-sakit nek"


Kunfayakun CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang