"Jatuh hatiku yang pertama
Sempat buatku kecewa
Dan meragukan jatuh cinta"
Kedua Kalinya - Sheryl Sheinafia
"Laura, Laura, cepetan bangun nak!" Ibu Laura mengetuk-ngetuk pintu kamar Laura tak lupa dengan segelas teh di tangannya.
Laura berdecak kesal, ia menendang-nendang selimut yang dipakainya hingga jatuh ke lantai. Kakinya berjalan gontai ke arah pintu kamarnya.
Ibunya menatap Laura dari atas hingga bawah. Sebelah tangan ibunya ia taruh dipinggang. Ia menyodorkan secangkir teh buatannya itu. "Kamu cepetan mandi, udah telat nih," ibunya membalikkan tubuh anaknya dengan buru-buru.
Laura berbalik mengikuti dorongan ibunya setelah ia meminum teh yang disodorkan ibunya tadi. "Apasih bu," ujarnya dengan malas.
Menghiraukan ucapan anaknya ia kembali membuka suara, "Cepetan mandi, udah hampir jam 7 nih," omel ibunya kemudian menutup pintu kamar anaknya ketika dirinya telah berhasil mendorong tubuh anaknya masuk kembali ke dalam kamarnya.
Mendengar ucapan ibunya, matanya membulat seketika. Seakan tak percaya, ia melangkahkan kakinya mengambil ponsel di meja nakasnya bermaksud melihat jam. Dan, jam sudah hampir menunjukkan pukul tujuh.
Ia kemudian menaruh ponselnya juga gelas yang berisi teh buatan ibunya di meja nakas. Dirinya dengan segera berlari kecil menuju kamar mandinya dan mandi secara terburu-buru.
Dengan langkah yang terburu-buru, ia menghampiri ayahnya yang terlihat akan beranjak pergi. "Pa, Papa," teriaknya membuat papanya yang beranjak akan membuka pintu terhenti seketika.
Ibunya yang baru keluar dari dapur menatap Laura yang sedang berlari kecil menuju papanya. "Laura, sarapan dulu," teriak ibunya.
Laura yang sudah membuka pintu mobil berniat memasuki mobil milik papanya terhenti mendengar teriakan ibunya. Ia menoleh, "Gausah bu, keburu telat nih," ujar Laura dengan khawatir kemudian masuk ke dalam mobil.
Mungkin hari ini hari paling sial bagi Laura. Diliriknya sekolahnya yang tak jauh dari posisinya kini, Laura menyuruh papanya untuk menambah kecepatan mobilnya. Namun, lampu lalu lintas berwarna merah kembali menghalangi Laura.
Merasa tak sabar, Laura kemudian beranjak dari jok mobil. Muncul ide gila di pikirannya.
Papanya melirik anaknya itu yang terlihat akan keluar dari mobil, "Kamu mau kemana, nak?" tanya papanya bingung.
Laura menarik kenop pintu mobil, "Aku lari aja Pa," ujarnya kemudian keluar dari mobil papanya.
Ia membenarkan posisi tasnya tak lupa menghembuskan nafasnya. Ia kemudian melangkahkan kakinya lebih lebar dan cepat. Ia berlari sekencang yang ia bisa. Tanpa peduli dengan perutnya yang terus berbunyi. Keringatnya terus bercucuran.
Namun, takdir berkata lain padanya. Pagar sekolah telah ditutup, tak terlihat siswa-siswi lagi. Kedua tangannya beranjak memegang pagar besi. Ia terdiam, berusaha menetralkan nafasnya. Dilihatnya Pak Amir, salah seorang guru BK duduk berbincang-bincang dengan satpam sekolahnya, Pak Syarifuddin.
Mata Pak Amir secara tidak sengaja menatap kearah pagar. Ia melihat adanya murid yang masih saja terlambat. "Kalian dua orang," ucap Pak Amir dengan tatapan mata yang tajam juga nada suara sedikit terdengar seperti bentakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Double Broken
Teen FictionAku menyukai dia yang terluka. Dirinya bagaikan kaktus yang berduri dan aku bagaikan balon. Balon dan kaktus tidak dapat bersatu, sedangkan aku dan dia.. Mungkin.... Amazing cover by @katrinapradnya 9 Mei 2017
