Rayn pov :
Sejak aku tahu apa yang dialami adikku Veerisha, dimana ia hampir saja di lecehkan oleh para lelaki bejat itu. Aku merasa bersalah karena sempat membuat Veerisha berpisah dengan Kevin.
Aku merasa sangat bodoh dengan menuruti permintaan Fadel yang licik itu. Kini aku sadar bahwa hanya Kevin pria yang pantas untuk Veerisha, aku percaya Kevin bisa menjaga Veerisha apapun yang akan terjadi dengannya kelak.
Begitu menyesalnya aku jika Veerisha sampai menjadi milik pria licik seperti Fadel itu.
Mulai sekarang kakak janji akan selalu mendukung hubunganmu dengan Kevin, dek.. Kakak janji!
***
"Gue nggak mau tau! Gimanapun caranya kalian harus bisa membuat Ve mau menikah sama gue!!" ucap Fadel emosi saat Rayn memaksanya untuk berhenti mengganggu adiknya.
"Lo nggak bisa seenaknya gitu! Veerisha cuma cinta kegue! Lo kan bisa cari perempuan lain! Om dan tante juga nggak bisa seenaknya menjodohkan anak kalian dengan pria bejat ini!" bentak Kevin emosi karena om Dafa, Ayahnya Veerisha menyuruhnya untuk memutuskan hubungannya dengan Veerisha.
Dan kini mereka berkumpul di meja makan bersama pria itu, pria yang di tolak Veerisha mentah-mentah sebagai calon suami yang di jodohkan oleh Bundanya itu dengan tiba-tiba.
Masalah ini membuat Kevin semakin pusing, karena masalahnya dengan Veerisha saja belum selesai dan sekarang ada masalah seperti ini lagi membuat kepalanya serasa mau pecah.
Untung saja Veerisha belum sampai ke rumah karena sedari tadi kekasihnya itu belum juga pulang, sebenarnya dari tadi Kevin sengaja mampir kerumah Veerisha dan menunggu kekasihnya itu pulang karena ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Veerisha, tapi gadis itu belum pulang juga. Kemana dia? batin Veerisha.
Pria itu terlihat tersenyum menang ketika omnya itu berkata tegas kepada Kevin untuk mau merelakan Veerisha dengannya, namun ketika itu pula wajah itu berubah muram saat Kevin menolak tawaran omnya itu mentah-mentah.
Sial... pria ini tetap bersih keras dengan hatinya. Apa rencanaku kemarin kurang untuk membuatnya benci pada Veerisha!
Sial, pria itu benar-benar merusak segalanya... batin Fadel geram, terlihat tangannya itu mengepal hingga memperlihatkan buku-buku jarinya yang menipis.
"Kevin, tante mohon lakukan yang dibilang om Dafa tadi nak... Tante tau kamu pria yang baik, tolong lakukan itu demi tante dan juga Veerisha" ucap Widya membujuk pria yang dulu sangat ia kagumi untuk mengalah.
"Tapi Veerisha tidak mencintai Fadel tante__" ucap Kevin tegas.
"Cinta bisa datang karena terbiasa Kevin" ucap om Dafa menyela ucapan Kevin.
"Tapi masalahnya tidak segampang itu om, kami saling mencintai..." jawab Kevin lemah, karena yang ada di hati pria itu cuma ada Veerisha, bidadari kecilnya itu.
Mungkin jika di hatinya tak ada gadis itu mungkin dia bisa meninggalkan gadis itu, tapi kenyataannya pemilik hatinya itu adalah Veerisha.
Fadel hanya diam mendengarkan perdebatan ini.
"Rayn setuju dengan Kevin ayah! Ve cuma cinta dan akan bahagia kalau ia bersama Kevin, apa ayah mau hidup Ve kelak nggak pernah bahagia karena harus hidup bersama pria yang tidak ia cintai!" terang Rayn kepada ayahnya.
"Ve juga nggak akan bahagia saat ia mengetahui kebenarannya!" bentak ayahnya.
"Pak, buk!" teriakan bik Ijah cukup lantang membuat orang-orangyang tengah berdebat itu menghentiakan perdebatannya.
Widya menghampiri pembantunya yang berteriak-teriak memanggilnya itu dengan tergesa-gesa.
"Ada apa Jah__ Ya Tuhan Veerisha!" Pekik Widya saat melihat putrinya itu tak sadarkan diri di pangkuan pembantunya.
"Ayah, Rayn!" seruan Widya membuat putra dan suaminya itu menghampiri dengan tergesa-gesa, disusul dengan Kevin dan Fadel.
"Kenapa bun? Ya Tuhan, Veerisha!!!" seru Rayn melihat sokok adiknya terkulai lemah di lantai, kepalanya telah di topang oleh tangan bundanya.
"Veerisha.. Sayang! Apa yang terjadi!" seru Kevin tak kalah panik saat melihat gadis yang ia cintai tak sadarkan diri.
Yaa gadis itu pingsan. Veerisha tak sadarkan diri, dan darah segar mengalir dari rongga hidungnya. Membuat semua orang yang melihatnya panik, namun ada satu orang yang menatapnya dengan senyum miris di wajahnya dan orang itu Fadel. Tak ada yang tahu apa yang ada didalam pikiran pria itu saat ini.
Dengan sigap Rayn menggendong tubuh mungil itu dan membawanya ke kamarnya. Kevin pergi menuju mobilnya mengambil tas dan peralatannya sebagai dokter yang ia bawa karena ia belum sempat pulang ke apartemen setelah dari rumah sakit tadi.
Bunda yang merasa syock berjalan mengikuti langkah Rayn sambil di papah oleh bik Ijah.
"Sayang bangun!" ucap Rayn setelah membaringkan tubuh Veerisha di atas ranjangnya, Rayn mengusap darah yang keluar dari rongga hidung gadisnya itu dengan tisue yang berada di atas nakas di samping tempat tidur Veerisha.
Beberapa saat kemudian Kevin datang dengan menjinjing tas kerjanya, dan langsung memeriksa kondisi kekasihnya yang tak sadarkan diri itu.
Rayn berdiri di samping Kevin sambil memperhatikan wajah adiknya itu dangan was-was, wajah adiknya itu terlihat tirus dan matanya yang bengkak seperti habis menangis membuatnya semakin miris. Ada apa sebenarnya, mengapa gadisku ini begitu rapuh? batin Rayn.
"Kenapa Veerisha bisa pingsan bik?" tanya Rayn pada bik Ijah yang masih menyanggah tubuh bundanya yang masih terisak.
"Saya juga gak tahu den ... tadi pas non Veerisha pulang, saya ngelihat non Veerisha seperti orang yang sedang tertekan saya sempat melihatnya menangis di depan pintu. Pas saya datangi dan menanyakan kondisinya non Veerisha bilang dia baik-baik saja. Dan waktu dia ingin menaiki tangga tubuhnya tiba-tiba oleng, refleks saya sangga tubuhnya pas saya lihat wajahnya. Saya kaget melihat darah keluar dari hidungnya lalu non Veerisha tiba-tiba pingsan den..." jelas bik Ijah panjang lebar.
Mereka semua hanya diam mendengar penjelasan Bik Ijah, mereka berkutat dengan pikiran mereka masing-masing, menyesal dengan apa yang telah mereka lakukan pada gadis kecil itu.
"Bagai mana Vin?" tanya Ayah.
"Veerisha setres, dan dia sepertinya melupakan jadwal makannya. Saya harus menginfusnya.." ucap Kevin bangkit berdiri kembali ke mobilnya untuk mengambil peralatan lainnya untuk merawat kekasihnya itu.
"Maafin bunda nak..." ucap bunda mengelus kening anaknya itu dengan sayang.
Kevin telah kembali dan menatap Veerisha dengan perasaan bersalah, gadis itu mungkin seperti ini karena dia. Perasaan bersalah menyeruk di dalam hati masing-masing orang yang berada di ruangan itu kecuali satu.
Fadel terlihat biasa saja melihat gadis yang ia cintai sedari kecil tengah terpuruk lemah tak berdaya seperti itu.
Drttt...drttt...
Ponsel Kevin bergetar dia melihat ada pesan singkat yang masuk dalam inboxnya.
From Azka...
Ada yang mau gue omongin sama elo kak... bisa kita ketemu sekarang? Ini menyangkut masalah Veerisha.
Gue tunggu di kafe Jingga, gue harap lo mau dateng kak..
Terlihat tangan Kevin terkepal menunjukan buku-buku jarinya yang memutih setelah membaca pesan singkat itu.
***
Budayakan Vote&Comment yah!!
Hay Readers!! Jangan lupa mampir ke cerita aku yg kedua yak!!😉
Kali ini ceritanya lebih santai, happy, alurnya tentang geng anak sekolahan, remaja-remaja yang lagi kasmaran gitoh!!😂 Gokil deh..
Dan yang pasti bakal dibikin baper deh.. 😘😝
Cek!👇
https://www.wattpad.com/story/117731166?utm_medium=link&utm_content=share_writing&utm_source=android
'Omnia Vincit Amor'
See You 😉
KAMU SEDANG MEMBACA
Semua Karena Cinta (Completed)
RomanceVeerisha merasa hidupnya telah sempurna saat kehadiran Kevin Wijaya, pria tampan yang kini telah menjadi seorang dokter muda. Mereka bertemu pertama kali saat Veerisha liburan ke New York dan Kevin sedang kuliah di New York. Namun perjalanan cinta...
