Part 51

223 8 0
                                        



"Kebahagiaan itu sederhana bagiku, kebahagiaanku itu adalah kamu.
Hanya dengan melihat kau tersenyum dan tertawa hal itu sudah cukup membuatku bahagia...
Jika kau ingin aku bahagia, maka tersenyumlah untukku dan tertawalah bersamaku. Kaulah kebahagiaanku.."
-Kevin
~~~~~~~~~~~~~

Author pov:

Veerisha tengah duduk di kursi rodanya di tengah taman rumah sakit, sambil menikmati udara dan pemandangan langit sore hari ini. Sebenarnya gadis itu sudah bisa berjalan walau masih belum seratus persen.

Perkembangan sistem motoriknya membaik dengan cepat, karena usaha dan keinginannya untuk sembuh cukup tinggi. Cedera di kepalanya pun sudah jauh lebih membaik, perban yang menutupi luka di kepalanya juga sudah di buka beberapa hari yang lalu.

Walaupun cedera otak yang membuatnya amnesia masih belum sembuh, tapi kondisi fisik dan sikis gadis itu jauh lebih membaik dari beberapa minggu terakhir ini.

Veerisha mendongakan kepalanya saat ia melihat setangkai bunga mawar merah terulur di hadapannya. Gadis itu melihat seorang perawat berdiri di hadapannya dengan menggenggam setangkai mawar merah yang saat ini tengah di berikan perawat itu padanya.

"Ini untukku?" tanya Veerisha pada perawat itu. Namun tak ada jawaban dari perawat tersebut, perawat itu hanya tersenyum padanya dan saat Veerisha telah menerima bunga itu. Perawat itupun pergi dari hadapannya.

Veerisha melihat ada selembar kertas kecil yang terselip di helayan kelopak bunga mawar itu. Veerisha membuka kertas itu dan membaca tulisan yang tertera di atas kertas berwarna pink itu.

"Hay cantik kamu tahu?
Bagiku, kamu lebih cantik dari bunga mawar merah yang sedang kamu genggam itu.."


Veerisha tersenyum dengan apa yang baru saja di bacanya. Veerisha kembali mengangkat kepalanya saat ia melihat ada setangkai mawar merah lagi terulur di hadapannya.

Kali ini Veerisha melihat seorang tukang sapu paruh baya, dengan seragam dan sapunya tengah berdiri di hadapannya sambil mengulurkan bunga itu padanya.

Veerisha menerimanya dan bertanya pada tukang kebun itu siapa yang memberikan bunga itu padanya, tapi tukang kebun itu hanya diam dan tersenyum penuh arti pada Veerisha lalu pergi. Membuat Veerisha bingung setengah mati dengan bunga-bunga mawar yang saat ini di genggamnya.

Veerisha kembali melihat selembar kertas kecil itu terselip di dalam helayan kelopak bunga itu. Dan ia kembali membaca isi dari tulisan itu.

"Kamu bagaikan matahari yang menyinari hidupku..
Tanpa dirimu aku hanyalah ruang hampa yang gelap, dingin dan sunyi.."

Veerisha kembali tersenyum kala membaca kalimat yang tertera di lembaran cerik kertas yang kali ini berwarna biru itu.

Kejadian itu kembali terulang, setangkai mawar merah lagi terulur di hadapannya, namun kali ini Veerisha tidak mendongakkan kepalanya karena yang memberikan bunga itu adalah seorang anak kecil.

Anak kecil itu mengisaratkan tangannya agar Veerisha lebih mencondongkan tubuhnya ke arah sosok anak laki-laki itu. Tanpa di duga Veerisha, anak kecil itu mencium sebelah kiri pipi Veerisha dan sempat berkata padanya sebelum pergi.

"Ini dari dokter ganteng..." bisik anak itu di telinga Veerisha, anak itu memberikan bunga itu pada Veerisha dan lalu pergi sambil berlari.

"Dokter ganteng?" gumam Veerisha. Veerisha kembali membaca tulisan yang terpena di atas kertas yang kali ini berwarna ungu.

Semua Karena Cinta (Completed) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang