Part 12

180 10 0
                                        

Malam ini adalah malam terakhir kami di Puncak, setelah menginap selama 2 malam di villa besok pagi-pagi sekali kami akan kembali.

Setelah malam panjang yang kulalui kemarin bersama kak Kevin, di mana ia berhasil membuatku melupakan masalah yang kini tengah kami hadapi.

Malam ini kami sedang menikmati malam terakhir kami di puncak, aku dan kak Kevin sedang merebahkan diri di atas gundukan seperti bukit yang selalu kusebut dengan bukit kecil yang berada di samping villa sambil menatap langit yang bertabur bintang.

Lengannya menjadi bantalan bagi kepalaku, jari-jemarinya membelai-belai poniku dengan sayang.

"Kak," panggilku.

"Heemmm ..." gumamnya masih membelai-belai rambut dan poniku. "Bagaimana dengan Fadel? Apa yang akan kita lakukan kedepannya?" ucapku.

"Ya, dia memang menyukaimu" ujarnya.

Kuarahkan tatapanku padanya. "Terus?" tanyaku.

"Terus apanya?" dilemparkannya lagi pertanyaanku itu dan sontak membuatku gemas.

"Kakak aku bertanya serius! Menyebalkan!" gerutuku sambil mencebikkan bibirku.

"Hehe ... senang bisa membuatmu cemberut seperti itu. Soal itu kamu nggak usah khawatir, kita jalani aja dulu. Sejauh inikan belum ada masalah apa-apa. Seemua keputusan ada di tangan kamu. Kenyataannya kamukan nggak suka sama dia, jadi Ve tenang aja." terangnya.

"Tapi Ve takut kak..."
"Udahlah.. Yang terpenting sekarang kamu sudah jadi milik kakak! Yakan" ujarnya, mengklaim kepemilikannya atasku.

"Dasar!" gumamku mencubit pinggangnya.

"Awww! Kamu itu suka sekali nyubit, nggak tahu apa cubitanmu itu pedas sekali! Awas ya kakak cium kamu." Reflek ketika ia mendekatkan wajahnya kucubit lagi pinggangnya.

"Aww!!!" Pekiknya dan dengan reflek dia menarik tangannya yang saat ini sedang kujadikan bantalanku.

"Aww! Sakit, Kak!" Pekikku merasakan sakit di kepala belakangku, karenatiba-tiba kak Kevin menarik paksa lengannya yang kujadikan bantalan hingga membuat kepalaku membentur tanah.

"Eeehhh maaf, kamu nggak papa kan? Mana yang sakit?" paniknya melihat aku meringis kesakitan.

Aku senang saat melihatnya mencemaskan keadaanku seperti ini, "Ya Tuhan, betapa tampannya pria yang kucintai ini." batinku.

"Sudah puas terpesonanya!?" serunya mengagetkanku.

"Kakak!" Aku tahu kali ini mukaku pasti merah padam, kudengar gelak tawanya.

"Lihat deh wajah Ve udah seperti udang rebus" godanya lagi.

Kututup wajahku dengan ke dua tanganku karena aku tahu aku tak bisa lari darinya.

Oh Tuhan aku benar-benar malu sekarang..-Veerisha

Sunyi ....

Apa yang terjadi, ya? Mengapa aku tak mendengar suaranya, apa kakak pergi meninggalkanku sendiri di sini?

Perlahan aku membuka tanganku yang sedari tadi menutupi mukaku. Kulihat dia masih berada di sebelahku, memperhatikanku dengan masih memposisikan tubuhnya di samping tubuhku yang masih rebahan di atas rerumputan ini.

Dan dengan satu tangannya yang tertumpu pada siku dia menyangga kepalanya mengarahkan tatapannya padaku.

"Sudah puas bersembunyinya?" serunya menyunggingkan senyum termanis miliknya itu yang mampu menghipnotis setiap kaum hawa yang memandangnya.

"Kenapa kakak menatap Ve seperti itu?" tanyaku malu.

"Terpesona sama Ve.." jawabnya menatap intens ke arahku. Membuatku memalingkan wajahku.

Kurasakan jemarinya menyentuh daguku, menyeret pandanganku agar menatapnya kembali. Sungguh aku benar-benar malu.

"Jangan berpaling," ucapnya ketika manik mata kami kembali beradu.

Kurasakan deru napasnya di wajahku, menghipnotis tubuhku sehingga
tak dapat bergerak seperti terpaku.
Bahkan untuk memalingkan wajahku saja aku tak mampu.

Kurasakan ia memcium keningku lembut.

"Kak," ucapku parau.

"Hemmm ..." gumamnya masih menempelkan kening dan pucuk hidungnya di kening dan pucuk hidungku.

"Ve heran dengan sikap Bunda yang sekarang kak. Ve berpikir ini rencana Fadel.. Ve nggak mau kehilangan kakak. Aku mencintaimu, Kak ..." ucapku dengan suara bergetar.

"Kakak juga sangat mencintaimu, kakak juga nggak akan bisa jika harus kehilangan Ve. Soal sifat bunda yang berubah, biar kakak yang cari tau penyebabnya, sekarang kita nikmati saja keadaan kita saat ini, ya ..." terangnya. Kuanggukkan kepalaku, mengiyakan sarannya.

Kurasakan ia kembali mencium keningku dengan lembut, kunikmati setiap ciuman yang diberikannya padaku.

Biarlah seperti ini dulu, karena gue nggak tau kapan keadaan ini akan berakhir. -Kevin

Tuhan jangan biarkan waktu ini berakhir, ijinkan kami untuk selalu bersama.

Kami yakin cinta ini adalah anugerah yang telah Kau berikan dalam hidup kami, dan kami percaya ada rencana indah yang telah Kau siapkan bagi cinta ini....

***

Semua Karena Cinta (Completed) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang