Veerisha merasa hidupnya telah sempurna saat kehadiran Kevin Wijaya, pria tampan yang kini telah menjadi seorang dokter muda. Mereka bertemu pertama kali saat Veerisha liburan ke New York dan Kevin sedang kuliah di New York.
Namun perjalanan cinta...
Pagi ini aku males sekali untuk berangkat kekampus. Mengingat kejadian yang kualami kemaren membuat aku males keluar kamar.
Bekas tamparan Bunda kemarin masih menyisahkan nyeri dipipi kiriku.
Ternyata seperti ini rasanya kena tampar.. Jujur, ini tamparan pertama yang aku rasakan selama hidupku. Tapi mengapa harus Bunda ku sendiri orang yang menamparku untuk pertama kalinya.
Rasanya begitu sakit, Bun..
Flashback!
"Veerisha!" panggil bunda saat melihatku akan pergi keluar rumah. "Apa Bun?" tanyaku.
"Kamu mau kemana? Huh!?" "Ve mau jalan sama Azka dan Vira bun!"
"Kamu lupa yah? Hari ini kan kamu sama Fadel mau kebutik Bunda untuk lihat gaun yang udah Bunda desain khusus untuk pernikahan kalian besok.." terang Bunda.
"Bunda.. Ve sudah bilangkan sama Bunda kalo sampai kapanpun Ve nggak akan pernah mau nikah sama Fadel!" kataku kesal.
"Kamu harus mau Ve! Nggak ada alasan untuk kamu menolak Fadel! Ngerti kamu!" bentak Bunda yang membuatku tertegun.
Jarang-jarang Bunda berbicara keras seperti ini kepadaku. Itu sebabnya aku tertegun saat melihat Bunda membentakku seperti ini.
"Tentu Ve punya alasan untuk menolak Fadel, Bun. Ve pacarnya kak Kevin! Dan Ve cuma akan menikah dengan kak Kevin!" cetusku dengan suara sedikit meninggi.
Jujur sebelumnya aku tidak pernah bicara keras seperti ini kepada Bunda. Aku sangat takut membuat Bunda sedih karena kata-kataku. Itulah komitmen ku sejak dulu.
Tapi sekarang komitmen itu sudah tidak ada lagi padaku. Aku benar-benar tidak tahan lagi dengan Bunda yang terus-terusan bahas tentang pernikahanku dengan Fadel.
"Cukup Ve! Lupakan Kevin! Anggap saja dia sudah mati. Disini cuma ada Fadel, dan kamu harus tetap menikah dengan Fadel! Sekarang kamu masuk kerumah Ve!" kata Bunda dengan lantang.
"Bunda! Kak Kevin belum mati! Ve nggak mau nikah sama Fadel! Kalo Bunda suka sama Fadel, yaudah Bunda aja yang nikah sama Fadel!!" teriakku histeris tak terima dengan ucapan Bunda.
"Jaga ucapan kamu Ve, Bunda nggak pernah ngajarin anak Bunda berkata kasar seperti itu!" kini emosi Bunda pun melonjak.
"Oohh... jadi ternyata Bunda masih menganggap Ve ini anak Bunda, setelah bunda memperlakukan Ve seperti ini? Kenapa Bunda lebih memilih meikahkan Ve dengan Fadel pria yang Ve benci daripada dengan kak Kevin pria yang sangat Ve cintai! Asal bunda tahu Ve menyesal... menyesal punya ibu seperti Bunda!"
Plaakk...!!!
Ucapanku terhenti ketika tamparan itu melayang ke wajahku, mengalirkan perih yang tetamat sangat di pipiku.
Namun rasa sakit yang aku rasakan di pipi kiriku itu tidak sebanding dengan rasa sakit di hatiku. Sungguh rasanya sangat menyakitkan, hatiku serasa hancur berkeping-keping.
"Bunda!" teriak seseorang dari kejauhan.
Ternyata itu kak Rayn, aku menatapnya dengan mata basahku. Dia pulang...
"Ada apa ini Bunda, kenapa Bunda menampar Ve?" tanya kak Rayn.
Aku melihat Bunda menatap tangan kananya yang baru saja menampar pipi kiriku itu.
Aku melihat sorot matanya penuh dengan penyesalan. Aku masih memegangi pipi kiriku, rasanya memang perih tapi tidak seperih hatiku.
Baru kali ini Bunda melayangkan tamparannya padaku. Sebelumnya Bunda tidak pernah berlaku kasar seperti ini padaku, walau seemosi apapun Bunda tidak pernah main tangan seperti itu.
Apa karena ucapan ku tadi? Ya Tuhan apa yang sudah aku ucapkan tadi? Aku benar-benar menyesali kebodohan mulutku ini, aku memang pantas mendapatkan tamparan itu. Aku anak durhaka.
"Ma-maaf..." ucapku lirih dan air mata ini terus berlinang.
Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, hatiku sangat sakit dan merasakan perasaan bersalah sekaligus. Hanya kata maaf yang bisa terlontar dari bibirku.
"Maafin Ve bunda..." ucapku seraya pergi dari hadapan mereka semua.
"Veerisha!" panggilan kak Rayn tidak membuat langkahku terhenti, aku tetap berjalan menuju kamarku dengan berlinang air mata.
Flashback off....
Vee kangen sama Bunda yang dulu, Bun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ingin rasanya aku mencurahkan semua sakit ini kepada Kak Kevin. Aku sangat membutuhkan mu..
Tapi tunggu...!
Tadi malam seingatku aku sedang menangis didalam battube, lalu tertidur. Tapi pagi ini aku bangun sudah berada diranjang.
Aku merasakan kak Kevin ada disampingku tadi malam. Pasti ia yang telah mengangkatku dari battube dan memindahkanku ke ranjang ini.
Tapi kenapa ia tidak membanguniku jika ia benar-benar sudah kembali?
Aku harus menelponnya! Mungkin sekarang handphonenya telah aktif karena ia sudah berada di Jakarta.
Kuambil handphoneku yang berada di atas nakas. Ku tekan tombol telepon dan langsung terlihat panggilan keluar yang bertuliskan nama kak Kevin, karena setiap saat aku selalu menghubunginya.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan..
Ya Tuhan! Kenapa masih sama.. Tapi aku tidak mungkin salah.. Tadi malam aku benar-benar merasakan kehadirannya, itu benar-benar nyata.
Mungkin ia masih capek karena baru pulang dari Malaysia sehingga belum sempat mengaktifkan handphonenya.
Lebih baik aku kerumah Kak Kevin, pasti dia seneng! Aku sangat merindukanmu kak..
Aku harus siap-siap sekarang! Huh!! Akhirnya...
***
Sedih liat Veerisha uyyh!!😢
Vomment jangan lupa yah kk! Karena itu sangat berarti.. 😚 Tqtq🙏