Part 19

151 9 0
                                        

"Kamu tidak perlu kangen sama kakak Ve..! Aku tidak kemana-mana, aku selalu berada disampingmu.."
-Kevin
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


Rindu ini semakin menyiksaku
Hari-hariku selalu dihiasi dengan bayangan senyumanmu, bidadari kecilku.
Aku selalu berharap ini tidak nyata!
Rasanya baru sebentar kita bersama
Tapi kita diharuskan berpisah seperti ini..
Aku tak bisa menyalahkan takdir, menyalahkan Bunda mu..
Bahkan menyalahkan mu sayang..
Lantas siapakah yang salah?
Mungkinkah ini semua adalah kesalahan diri ini yang begitu mencintaimu..
Diri ini terlalu menyayangimu
Kau adalah candu bagiku..
Ya mungkin memang benar
Ini kesalahan diriku..
Yang terlalu mencintaimu..
Tapi inilah kenyataannya, bahwa aku sangat mencintaimu
Dan akan selalu mencintaimu..
Selamanya... -Kevin Wijaya

Kevin pov :

Hari ini sepertinya hati ini sudah tidak bisa lagi menahan rindu yang telah ku pendam selama satu bulan ini.

Satu bulan yang lalu aku pamit sama Veerisha dan keluarganya pergi ke Malaysia untuk mengisi acara seminar.

Tapi bukan itu kebenarannya.

Aku tidak pergi kemana-mana, aku masih di Jakarta Ve. Aku juga selalu memantau mu! Di kampus, bahkan dirumah.

Ingin rasanya aku menghapus air mata yang membasahi pipimu dek.
Tapi kakak sudah berjanji kepada Bunda mu untuk pergi dari hidupmu.

Kakak akan merelakanmu bersama Fadel, meski itu sangat menyiksa hati kakak Ve.

Namun malam ini kakak akan mengingkari janji kakak kepada Tante Widya untuk tidak menemuimu.

Ya, hanya untuk kali ini saja!

Kini aku sudah berada di depan rumah Veerisha, gadis yang sangat aku rindukan.

Kulihat pintunya sudah tertutup rapat, lampu rumahnya pun hanya tinggal sebagian yang menyala. Mungkin penghuni rumah ini telah terlelap.

Aku mengarahkan langkahku kearah samping rumah Tante Widya, dimana kini aku telah melihat balkon kamar bidadari kecilku.

Kulihat lampu kamarnya sudah mati, menyisahkan lampu tidur yang menyala dengan cahaya yang remang-remang.

Mungkin Veerisha telah terlelap.

Ku dorong knop jendela kamarnya dan ternyata tidak di kunci.
Kulangkahkan kakiku memasuki kamarnya hati-hati.

Aku memang datang untuk menemuimu Ve, tapi tidak untuk memperlihatkanku dihadapanmu. Karena itu hanya akan menambah rasa sakit dihatimu. Karena aku akan kembali pergi meninggalkanmu untuk selamanya.

Ku lihat sekeliling kamarnya kosong, kemana dia?

"Apa dia dikamar mandi?" ku lihat pintu kamar mandi itu sedikit terbuka. Ku buka lebih lebar secara perlahan, aku melihat tubuh mungil itu meringkuk di dalam battube.

"Kamu kenapa sayang? Kenapa kau terlihat begitu rapuh.." gumamku lirih menatap sosoknya yang kini terlelap, ku sentuhkan jemariku di bekas sisa jejak air mata yang mulai mengering di pipinya.

"Kamu bisa sakit kalau tidur disini"
ku angkat tubuh mungilnya itu dari battube, ku gendong dan ku bawa ke atas ranjangnya membaringkannya di sana. Matanya masih terpejam tapi aku tahu dia tidak tertidur.

"Tidurlah.." ku kecup keningnya sebelum beranjak pergi.

Ketika aku akan membalikan badanku meninggalkannya tiba-tiba tangan mungil itu menggenggam jemariku. Dan waktu aku menatap wajahnya ternyata dia masih memejamkan matanya, aku kembali mendekatinya.

"Ya Tuhan.. Sepertinya bidadari ku ini merasakan kehadiranku disini.."

Akhirnya aku pun berbaring di sampingnya, ku selipkan lenganku di sela kepalanya, ku jadikan lenganku sebagai bantalan bagi kepalanya.

Ohh... aku sangat merindukan gadis kecilku ini, tapi mengapa saat kami bertemu keadaannya jadi seperti ini? Apa aku salah karena kemarin aku pergi dari sisinya, meninggalkannya sendiri. Bodohnya aku...

Tanganku yang bebas bermain dengan rambut halusnya, sesekali ku ciumi aroma khas rambutnya, aroma buah Strawberry. Selalu seperti ini tak pernah berubah aku suka sekali aromanya itu.

Kulihat pipi kirinya yang masih memerah dan tanpa sengaja aku menyentuhnya membuatnya mengernyitkan dahinya, aku tahu bekas tamparan itu pasti sakit, ini pertama kalinya ia mendapatkan tamparan seperti itu.

"Kakak tau hatimu jauh lebih sakit dek..." gumamku.

Rasanya lirih sekali saat melihat wajah bidadari ku yang tengah bersedih seperti ini, aku hanya bisa membelai rambutnya takut membuatnya bangun dan mengetahui kehadiranku saat ini.

Tak terasa aku pun ikut meneteskan airmataku, aku tak bisa membayangkan bagai mana jika hatinya terluka kembali. Kejadian ini saja sudah membuatnya rapuh seperti ini apa lagi jika dia tahu rahasia itu, aku tidak akan sanggup untuk melihatnya hancur seperti ini lagi.

Maafkan kakak Ve, kakak harus bagai mana? Haruskah kakak egois atau harus mengalah... kedua hal itu pasti akan melukai kita, menyakitimu dan aku...
Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan?

Buat semua ini menjadi lebih mudah bagi kami, aku tidak mau melihatnya hancur dan terpuruk seperti ini lagi. Aku benci melihat air matanya! Aku ingin dia selalu tersenyum dan tertawa...
Aku ingin dia bahagia..
Selamanya...

***

Uugh!! Jadi baper😚

Vommet kalian sangat berharga looh... Penyemangat bagiku!! Tq

See you😉

Semua Karena Cinta (Completed) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang