Part 8

239 11 0
                                        

Author Pov

Terlihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang hampir menginjak angka 40 tahun ini sedang berdiri dibalkon yang berada di ruang kerja suaminya.

Ia tengah melihat sebuah map berwarna biru yang membawanya pada kenangan sebuah kejadian yang selama ini ingin ia hapus, namun itu tak akan pernah bisa meskipun peristiwa itu telah lama berlalu.

Bening kristal itu pun mulai mengalir dari sudut matanya membasahi kedua pipinya ketika mengingat saat ia menggendong bayi perempuan yang ia bawa dari panti asuhan itu.

Belaian lembut di pundak wanita itu membuatnya memandang sosok yang kini tengah tersenyum lembut padanya.

Sosok pria paruh baya yang masih sangat tampan di matanya itu mampu melihatkan senyum simpul di sudut bibirnya.

"Tak usahlah kau ingat itu lagi Bun! Aku tak suka melihatmu macam ini, bukannya Bunda dulu sudah berjanji tak akan mengingat itu lagi ..." ucap sang pria sambil memeluk wanita yang sangat dicintainya itu dari belakang.

"Maaf ..." ucap wanita itu membelai lembut pipi pria yang telah menjadi suaminya.

"Kali ini aku memaafkanmu ... tapi kau harus ingat jangan pernah mengingat itu lagi, Kamu tahu yang kita lakukan itu adalah hal yang mulia. Veerisha adalah anugerah terbesar dalam hidup kita. Ingat itu..." kecupan hangat mendarat di bahu wanita itu ketika mendengar perkataan sang pria yang ia cintai.

"Tapi bagaimana dengan Ve? Sampai kapan kau akan membohongi dan menyimpan rahasia besar ini darinya? Anak itu berhak tahu, Bun..."

"Tidak, Yah! Ve selamanya akan tetap menjadi anakku, sampai kapan pun akan tetap seperti itu! aku akan melenyapkan isi dari map ini, Yah. Melenyapkan rahasia besar yang aku simpan selama ini. Rahasia tentang surat adopsi dari panti asuhan ini. jika isi map ini jatuh ke tangan Ve, pasti dia akan tahu bahwa dia bukanlah anak kandungku. Aku tidak ingin Ve tau kalau orangtuanya telah meninggal dunia! Aku nggak mau Ve membenciku, Yah...." Sang suami hanya bisa memeluk tubuh istrinya yang tengah terisak, dia tidak bisa berkata apa pun tentang tekad dan niat istrinya itu walaupun keputusan istrinya itu salah.

***

Terlihat sosok masuk ke dalam ruang kerja setelah sepasang suami istri itu meninggalkan ruangan itu.

Sosok itu menghampiri meja kerja yang rapi, pandangan sosok itu mengarah pada sebuah map berwarna biru yang berada di atas meja.

Terlihat ia mengeluarkan ponselnya dan menekan aplikasi bergambar camera.

Klik

Klik

Klik

Terdengar beberapa suara memotret dari ponsel ditangannya.

Terlihat senyuman kemenangan dibibir sosok tersebut.

Kenak lo Ve, lo nggak akan bisa pergi dari gue. Selamanya lo akan jadi milik gue.

***

"Mungkin ini yang terbaik. Aku akan melenyapkan semua bukti-bukti ini. Nggak ada satu orangpun yang bisa melihat bukti ini lagi" ucap wanita paruh baya ini sambil mengeluarkan korek api disakunya.

Ia pun menyalakan dan meletakkan korek api itu keatas map berwarna biru yang ia letakkan diteras balkon kamarnya.

Syukurlah! Semua sudah menjadi abu. Ve selamanya akan menjadi putriku. Dan aku selamanya akan menjadi Bunda nya.

Semua Karena Cinta (Completed) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang