Veerisha merasa hidupnya telah sempurna saat kehadiran Kevin Wijaya, pria tampan yang kini telah menjadi seorang dokter muda. Mereka bertemu pertama kali saat Veerisha liburan ke New York dan Kevin sedang kuliah di New York.
Namun perjalanan cinta...
"Waktu yang terlampaui tanpamu terasa begitu lambat. Waktu demi waktu kulalui tanpa dirimu, tanpa senyummu, tanpa suaramu, tanpa candamu. Kau tahu hal itu membuatku tersiksa... Apakah kau tahu, jika aku di sini kesepian? Apakah kau tahu, jika aku merindukanmu? Veerisha kembalilah, aku merindukanmu sampai sakit rasanya..." -Kevin °°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
***
Authot pov
Bunyi alat penunjang kehidupan itu menggema di seluruh penjuru ruangan khusus VIP itu, menandakan orang yang terbaring itu masih memiliki nyawa.
Ruangan yang serba putih itu menjadi saksi bisu beberapa minggu belakangan ini di mana seorang gadis terlelap di dalam tidur panjangnya.
Terlihat seseorang memasuki ruangan itu, ada sebuket bunga mawar putih yang di bawanya. "Morning sleaping beauty.." Kevin mengecup sayang kening gadis yang tengah terlelap itu, terlihat masker oksigen itu masih berembun menandakan pemilik tubuh itu masih bernyawa. Kevin tersenyum menatap wajah cantik kekasihnya itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selama beberapa minggu ini Kevin hampir setiap hari tidak pulang, dia sudah menganggap rumah sakit itu adalah rumahnya sendiri apa lagi semenjak Veerisha di rawat di sana. Pria itu kekeh dengan keinginannya untuk menemani Veerisha di rumah sakit. Tapi setelah Rayn dan Sekar berhasil membujuknya, Kevin akhirnya mau pulang juga.
Orang tua Kevin, Ridwan dan Ratna juga sudah sering menjenguk gadis yang sangat dicintai oleh putranya itu. Ratna yang selalu setia menguatkan hati Widya akhir-akhir ini.
Walaupun Kevin setiap hari menemani Veerisha di rumah sakit tapi pria itu tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai Dokter. Kevin masih membuka prakteknya walau tak seintens kemarin-kemarin.
Saat pagi seperti ini Kevin menyempatkan diri untuk datang menemui Veerisha di kamarnya, dan tak lupa selalu membawakan sebuket mawar putih kesukaan gadisnya itu, dan di saat siang sampai sore Kevin kembali ke pekerjaannya seperti bisanya.
Dan menjelang malam Kevin kembali menemani Veerisha, berceloteh dengan gadis itu walaupun tak ada respon sama sekali dari bidadarinya itu. Kevin tetap percaya suatu saat nanti mata cantik gadisnya itu akan kembali terbuka untuknya.
"Sampai kapan kamu akan terlelap seperti ini?" ucap Kevin lirih. "Aku telah menciummu ribuan kali tapi kamu tidak juga membuka mata cantikmu itu, tidak tahu kah kau jika aku sangat merindukan senyumanmu itu. Aku mohon sadarlah.." lirih Kevin.
Pria itu menggenggam erat jemari Veerisha dan sesekali mengecupnya dengan penuh perasaan, ada setetes keristal yang berhasil lolos dari sudut mata gadis itu dan hal itu membuat Kevin terkejut.