"Bahagia letak nya dihati,bukan pada perkataan orang lain."
~2016~
Angin berhembus menembus kulit, ku rasakan dingin nya sampai menusuk tulang belulang. Udara lembab menyelimuti sekitar, hujan baru saja reda. Aku masih memjamkan mata di bawah pohon rindang dekat fakultasku. Aku merasakan ada yang mengelus pipi ku dengan lembut. Dengan rasa kantuk yang mendalam aku mencoba membuka mata, samar terlihat laki-laki memakai kemeja biru tua.
"Ai, bangun sayang. Disini tidak baik untukmu tidur." Aku masih enggan membuka mata, hanya saja aku mendengar perkataannya dengan samar.
"Mmmm...." Aku hanya menggeliat.
"Ai, bangun sayang. Kakak sudah disini."
Aku perlahan membuka mataku. Terlihat laki-laki yang ku tunggu sejak tadi. Ia tersenyum sangat manis. Bahkan lebih manis dari sesendok madu yang biasa ku minum.
"Kakak dari mana saja? Aku menunggu sampai tertidur." Aku sedikit merajuk dan memanyunkan bibir.
"Maaf ya, kakak tadi menemui Profesor Anton. Itu pun mendadak, kakak kan sudah nge-line kamu."
"Handphone aku lowbet jadi aku gak tahu sama sekali. Aku kedinginan tahu disini."
"Ma'afin kakak ya sayang." ucap nya lembut. Kak Abram menyelimuti tubuhku dengan jas putih yang dibawa nya. Jas yang akan menemani hari-hari nya di rumah sakit nanti. Ia mengelus pipi chubby milikku dengan tersenyum.
Aku dan Kak Abram berjalan menuju parkiran mobil. Pria disampingku ini memegang tanganku tanpa sedikitpun ingin melepasnya, justru ia mempererat hingga hati ku merasa hangat dan tersenyum saat ia menatap ku dengan senyuman andalannya.
Seluruh mahasiswa sekitar kampus memandangi kami berdua. Aku sudah biasa mendapatkan tatapan demikian. Mengingat laki-laki di samping ku ini adalah Mahasiswa Kedokteran yang terkenal dengan IP yang selalu cumlaude serta wajah tampannya yang mendukung. Ia pun bahkan menjadi asisten dosen. Di mata para wanita ia adalah sosok laki-laki yang perfect.
"Kak, kita sudah hampir satu tahun menjalani hubungan. Tapi, mengapa mereka semua masih suka memperhatikan kita? Terutama aku selalu mendapatkan tatapan tajam dan tidak suka dari banyak perempuan." Aku menghela nafas mengingat diriku yang teramat menyedihkan.
Terkadang diri ini merasa tak ada apa-apa nya jika sedang berjalan dengan Kak Abram, terlebih tatapan mereka yang mendukung untuk ku pergi saja karena tak pantas untuk nya.
"Biarkan saja, mungkin mereka ingin seperti kita." Kak Abram tersenyum sangat manis, ucapan nya selalu menjadi penenang. Layaknya sedative, obat yang menenangkan seseorang.
"Kakak beruntung punya kamu, terima kasih untuk tetap setia." Ia bicara dengan tulus, aku bisa melihat dari mata nya.
"Kenapa harus merasa beruntung? Aku hanya gadis biasa di antara perempuan-perempuan yang memuja kakak." Aku menatap wajah Kak Abram dengan penuh tanya.
"Siapa bilang kamu gadis biasa? Kamu itu istimewa, kamu itu gadis yang cerdas dan baik hati. Kamu selalu memperingati kakak ketika kakak salah dalam melakukan sesuatu hal. Selalu mendukung impian kakak dan tak pernah lelah memahami kakak. Kamu wanita yang sabar dan cantik. Cantik mu bukan hanya di wajah tapi juga di hati. Sesibuk apapun kakak, kamu selalu mau mengerti meskipun kakak tahu kamu terkadang kecewa, sedih dan menangis sendirian. Dan hal yang kakak suka dari kamu itu sikap manja kamu." Kak Abram tersenyum dan mengelus puncak kepala ku.
Senyumku melengkung tanpa diminta. Baru kali ini ia segamblang itu mengatakan segala hal nya. Aku merasa tersentuh sekaligus bahagia karena menjadi miliknya. Mata ku berkaca-kaca.
"Tumben banget mengucapkan kata-kata yang romantis." cibir ku kemudian menyembunyikan kebahagiaan yang membuncah dalam dada.
"Giliran romantis malah diledek, hmmm..." Kak Abram kemudian menyalakan mesin mobil nya. Aku pun tersenyum menatap wajahnya yang lucu kemudian tertawa.
"Iya deh iya, ngambekan ih calon pak dokter ini." ucap ku terkekeh. Kak Abram menatapku dengan senyum mautnya lalu mengelus puncak kepala ku.
"Bersama laki-laki ini aku bisa kuat untuk bertahan. Dan bersama laki-laki ini, aku tahu bagaimana untuk menjadi sosok wanita yang pantas untuk nya."
(Aila Naras Dimantoro)
.
.
.
.
.
Assalamu'alaikum para pembaca setia yang cerdas :) gimana nih cerita nya?
Beri vote dan komentnya ya.... ;)
KAMU SEDANG MEMBACA
The Greatest Husband
RomanceSaat pertama kali Abram menatap Aila dengan mencuri-curi kesempatan. Saat Abram mencoba menghidupkan suasana dan renyah tawa untuk mendekati Aila. Di suatu tempat yang akhirnya menjadi tempat favourite untuk mereka. Akan kah mereka terus menyatu dan...
