You're My Happines

2.1K 116 6
                                        

"Tidak semua orang mau menceritakan kisah cinta nya. Saat ada kisah yang tak pernah didengar selalu dianggap mustahil. Namun nyata nya kisah cinta yang tak mungkin orang fikir, benar adanya dalam dunia nyata."

"Ai, dipanggil dosen dokter di kantor, dokter Assyraf." ucap Reina dari pintu kelas.

"Oke, makasih Rei." jawabku tersenyum. "Mon, aku ke kantor dulu ya."

"Cie, mau ketemu calon suami. Uhuk ." ucap Mona mencoba menggoda ku.

"Apaan sih Mon, jangan bikin gosip deh."

Hampir setiap hari Mona menggoda ku dengan kata calon suami meskipun benar apa yang dikatakannya untuk saat ini. Yang Mona tahu saat ini aku dekat dengan dokter Assyraf, ya hanya sebatas itu yang Mona tahu. Aku belum memberitahu Mona bahwa semalam aku menerima lamaran dokter Assyraf.

Sampai di depan pintu kantor,aku melihatnya sedang bercengkrama dengan dosen lainnya. Ruangan tetap dokter Assyraf memang ada di fakultas kedokteran, sementara di jurusan kebidanan ia tidak memiliki ruangan pribadi.

"Assalamu'alaikum." aku menyalami semua dosen yang ada disana.

"Kenapa nak?" tanya Bu Dina dosen mata kuliah askeb kegawatdaruratanku.

"Saya dapat pesan dari Reina bu bahwa saya dipanggil oleh dokter Assyraf."

"Oh iya, silahkan nak."

"Terima kasih bu." jawabku tersenyum.

"Ah, si dokter mah bisa-an aja. Milih nya mahasiswi yang cantik." ucap Bu Anggia.

"Kapan dok dinikahin dok?" tanya Bu Irma.

Sementara aku terheran dan bingung dengan semua pembicaraan ini.

"Ah sudah-sudah, Ibu-ibu ini jangan menggoda saya terus. Saya permisi dulu ya Bu, pinjam mahasiswinya sebentar untuk urusan mata kuliah lusa."

"Lama juga gapapa dok." Bu Dina terkekeh begitupun dengan dosen lainnya.

Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Mengapa semua dosen bicara demikian? Apa Kak Assyraf mengatakan sesuatu? Jika ya, aku benar-benar merasa malu dan salah tingkah begini.

"Ya Allah nak, senang Ibu kamu akan jadi istri dokter Assyraf. Tapi sedih juga padahal Ibu mau menjodohkan kamu sama keponakan Ibu." ucap Bu Dina yang memang sudah senior itu. Aku hanya tersenyum.

"Kalah start sama saya kalau gitu Bu." ucap dokter Assyraf sambil tertawa.

"Tinggal ya Ibu-ibu, assalamu'alaikum." ucap dokter Assyraf.

"Permisi ya bu, Assalamu'alaikum." ucapku.

"Wa'alaikumussalam."

Saat diluar kantor aku langsung memburu pertanyaan pada dokter Assyraf.

"Dokter bicara apa dengan dosen-dosen di kantor?" tanyaku heran.

"Gak bicara apa-apa." Ia tersenyum.

"Bohong. Terus kok bisa semua dosen menggoda begitu kayak tadi?"

"Ya siapa lagi kalau bukan Mama,sayang."

"Kalau dikampus jangan panggil 'sayang'." ucapku berbisik.

"Memang kenapa?"

"Ih malu tahu, yang orang tahu kan kita mahasiswa dan dosen."

"Iya deh, ma'af ya sayang nya Mas."

"Kakak?!" ucapku melotot padanya yang dibalas dengan tertawa.

"Kamu tuh lucu ya, gini ya rasanya punya pasangan beda sembilan tahun."

Aku menyikut lengannya kemudian berjalan mendahuluinya.

Sampai di ruang dokter ia memberikan beberapa lembar kertas. Aku hampir melongo membaca kertas tersebut.

"Seriusan dok mau ngasih tugas sebanyak ini?"

"Iya, saya serius."

"Astaghfirullah."

"Nanti Mas bantu untuk kamu."

"Terus nanti teman-teman yang lain bagaimana?"

"Ya mereka kerjakan sendiri."

"Dasarrr." cibirku.

"Nanti malam jam tujuh keluar sama Mas ya?"

"Kemana?"

"Makan malam."

"Gak mau, sibuk mau ngerjain tugas."

Dokter Assyraf setengah duduk di meja nya sambil melipat kedua tangannya.

"Kenapa dokter menatap seperti itu?" tanyaku

"Mas, Aila."

"Gak mau, geli."

"Oh jadi gitu." Dokter Assyraf mendekat dan ingin menggelitiki ku.

"Dokter?! Please, aku anti digelitikin gitu." Ia memang mengetahui kelemahan ku satu ini dari Bunda. Sangat menyebalkan.

"Kalau gak mau harus nurut."

"Dasarr pemaksaan, memang apa yang salah coba dengan panggilan dokter atau kakak?"

"Ya kurang romantis sayang."

"Huekkk, geli tahu."

"Oh jadi gitu?" ia bersiap menggelitiki ku lagi.

"Ah, iya ampun-ampun Mas ku kesayangan yang paling ganteng seantero jagad raya."

Dokter Assyraf tersenyum kemudian mengelus puncak kepala ku.

The Greatest HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang