"Memilih pasangan hidup bukan seperti membeli baju yang apabila sudah tidak cocok, kita bebas membuang nya dan membeli yang baru."
Pagi ini aku menemani Mas Assyraf untuk visite pasien di klinik Morula milik nya. Ada satu pasien yang membuat hati ku terenyuh. Membuat ku tersenyum getir.
"Bagaimana bu keadaan nya?" tanya ku pada Ibu Nun yang baru melahirkan semalam.
"Ya Alhamdulillah mba."
"Tidak ada rasa pusing ya bu?" tanya ku lagi.
"Enggak mba, Alhamdulillah merasa sehat."
"Sarapan nya jangan lupa dimakan ya Bu." ucap dokter Assyraf.
"Iya dok, makasih ya dok sudah menyelamatkan saya dan bayi saya." ucap Ibu Nun dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama Bu, semua atas kehendak Allah, saya hanya sebagai perantara, sudah tugas saya menjadi seorang dokter untuk memberikan yang terbaik, sesuai dengan kemampuan saya." ucap dokter Assyraf. Aku tersenyum mendengar penuturan Mas Assyraf.
"Iya dok, saya bersyukur masih ada orang-orang yang baik sama saya. Semalam saja saya dirujuk dari bidan ditemani keluarga yang akan mengadopsi anak saya ini. Suami saya gak perduli, dia cuek aja." ucap Ibu Nun dengan mencoba tegar yang bisa ku lihat dari sorot mata nya.
Aku dan Mas Assyraf saling memandang. Aku merangkul Bu Nun. "Ibu yang sabar ya, dari semenjak hamil suami Ibu juga demikian? Sebelumnya suami Ibu setuju kalau anak ini akan di adopsi?" tanya ku dengan lembut.
"Dari semenjak menikah Mba, dia baik nya cuma satu dua minggu usia pernikahan, setelah nya baru ketahuan semua perilaku buruk nya. Dia setuju-setuju aja anak nya di adopsi karena dia gak mau saya cuma dirumah aja ngurus anak, mau nya dia saya yang kerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Susah Mba, sudah saya nasehatin tapi tetap saja. Anak-anak saya yang dua juga masih kecil-kecil, masih pada sekolah SD." ucap Ibu Nun dengan tatapan penuh kesedihan dan kegetiran. Aku yang mendengar penuturan nya membuat mata ku berkaca-kaca.
"Ini sudah masuk dalam KDRT kasus nya bu, kenapa ibu tidak melapor saja melalui ranah hukum ke pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak?" tanya Mas Assyraf.
"Enggak dok, saya sabar saja, kasihan anak-anak. Cuma ya kalau setelah ini dia gak berubah juga, saya rencana nya mau menceraikan dia. Jujur, saya juga capek dok, Mba. Kalau saya nasehatin untuk berhenti judi pasti selalu berontak gak keterima. Waktu saya melahirkan anak pertama pun, besok nya saya udah melakukan pekerjaan rumah tangga. Semua nya saya melakukan sendiri, dia gak perduli sama sekali. Saya juga disini ikut suami, gak punya saudara ataupun keluarga disini."
SubhanAllah, hati ku merasa begitu tersayat mendengar cerita dari Ibu Nun. Aku masih tak percaya bahwa ada kisah rumah tangga yang begitu memprihatinkan. "Tapi anak-anak ibu apakah mengetahui perilaku bapak nya yang demikian?"
"Ya mereka tahu mba, kadang menangis kalau saya berantem gitu sama bapak nya. Kalau sudah marah, bicara nya kasar."
"Ibu yang sabar ya bu, Ibu hebat dan keren bisa kuat sampai pada tahap ini demi anak-anak." ucapku seraya memeluk Ibu Nun.
"Mungkin karena saya juga sudah terbiasa mba, jadi sudah kebal. Delapan tahun sudah saya menjalani kehidupan rumah tangga dengan dia. Meskipun usia kami jarak nya jauh, tapi seperti saya yang mengayomi dia. Selama delapan tahun pernikahan ini juga saya yang menjadi tulang punggung keluarga. Kalau saya gak cari uang ya gak makan, kasihan anak-anak."
"Kalau menurut saya, ibu juga berhak bahagia. Bukan maksud saya mencampuri urusan ibu, semua kembali lagi ke Ibu. Memang harus sabar menghadapi pria demikian. Kalau ibu masih mau mempertahankan rumah tangga ibu demi anak-anak, ibu harus banyak berdo'a agar diluluhkan hatinya. Saya berharap juga ada suatu kejadian yang membuat suami Ibu berubah menjadi lebih baik. Tapi, kalau pun ibu akan mengambil jalur hokum, sah-sah saja dari segi hukum maupun agama. Karena suami Ibu pun selama ini tidak menafkahi keluarga. Karena sudah kodrat nya seorang laki-laki atau suami adalah pencari nafkah, menjadi tulang punggung keluarga." ucap Mas Assyraf dengan kata-kata nya yang terdengar bijaksana.
"Iya mba, benar apa yang dikatakan oleh dokter Assyraf." ucap ku tersenyum sambil mengelus punggung Ibu Nun.
Ibu Nun tersenyum. "Iya mba, dok. Nanti saya fikirkan lagi dan rundingan dengan keluarga saat nelpon. Terima kasih ya mba, dan dokter juga, sudah mendengarkan cerita saya dan memberikan solusi. Saya bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik."
"Iya Bu, semoga semua permasalahan ini menemukan jalan keluar yang tepat. Dan semoga ibu mendapatkan pahala atas kesabaran ibu selama ini. Allah gak tidur, Bu." ucapku seraya memeluk Ibu Nun kembali.
"Kalau gitu saya sama istri saya pergi visite pasien selanjutnya ya bu. Sarapan nya dimakan biar kuat menjalani kehidupan." ucap Mas Assyraf kemudian terkekeh mencoba mencairkan suasana yang sempat haru. Ibu Nun pun tertawa.
"Si dokter bisa aja goyan nya, tapi benar juga. Walah, jadi ini istri nya dokter toh?" ucap Ibu Nun seperti tak percaya.
"Iya bu, ini istri saya."
"Ayu tenan yo, masih muda. Saya kira yang lagi praktek disini, tapi saya mikir tadi kok ya ndak pake seragam. Saya tadi mikir, opo perawat opo dokter gitu mba nya." ucap Ibu Nun dengan ekspresi bingung.
Spontan aku terkekeh. "Iya dong Bu, istri saya memang harus cantik." ucap Mas Assyraf kemudian tertawa. "Ini rahasia kita aja ya bu, mau tahu gak kenapa istri saya masih muda banget? Dia mahasiswi saya tadinya, dia bidan. Cantik ya bu?" ucap dokter Assyraf setengah berbisik, seolah-olah ini adalah rahasia besar. Padahal seluruh orang yang bekerja di disini sudah tahu bahwa aku adalah istrinya.
"Apaan sih kamu Mas." ucapku seraya mencubit pelan pinggang nya kemudian tertawa kecil.
"Gusti Allah.... Yo memang ayu tenan istri nya si dokter, gak salah pilih. Pintar juga dokter milih mahasiswi nya yang masih muda." ucap Ibu Nun terkekeh. "Saya kira dokter ini sudah punya istri dan anak umur 5 atau 8 tahun gitu." ucap Ibu Nun kemudian.
"Ibu adalah orang kesekian yang mengira suami saya demikian bu. Maklum bu dia lama membujang demi bertemu dan berjodoh dengan saya." ucapku seraya terkekeh sambil melirik Mas Assyraf.
"Hmmm....seneng banget deh kayak nya ya kalau soal tua dan muda." ucap dokter Assyraf
Ibu Nun tertawa melihat Mas Assyraf. "Ya gapapa dok, justru bagus biar dokter selalu merasa muda karena terbawa dengan pribadi Mba nya yang ceria dan energik. Dan Mba beruntung, karena seperti nya dokter ini orang nya sangat mengayomi. Sama pasien saja sopan, lembut, ndak pernah bicara kasar, malah suka guyon, bercanda mulu."
"Do'ain ya Bu untuk rumah tangga kami, semoga sampai jannah." ucapku.
"Aamiin Yaa Allah, Iya Mba, InsyaAllah orang baik mah pasti selalu dijaga sama Allah. Semoga bahagia selalu dan dikaruniai anak-anak yang shalih shaliha."
"Aamiin Yaa Allah." ucapku berbarengan dengan Mas Assyraf.
"Harusnya kami ya bu yang mendo'akan kehidupan rumah tangga Ibu." ucap Mas Assyraf seraya terkekeh.
"Ya sama-sama mendo'akan yang terbaik lah dok." ucap Ibu Nun kemudian tersenyum.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
The Greatest Husband
Storie d'amoreSaat pertama kali Abram menatap Aila dengan mencuri-curi kesempatan. Saat Abram mencoba menghidupkan suasana dan renyah tawa untuk mendekati Aila. Di suatu tempat yang akhirnya menjadi tempat favourite untuk mereka. Akan kah mereka terus menyatu dan...
