"Sekecil apapun perlakuan seorang pria terhadap wanita,
selalu mampu memberikan pengaruh bagi wanita tersebut.
Hal itu berlaku pada perlakuan baik maupun buruk."
[The Greatest Husband]
Pria dengan kemeja biru muda dilapisi jas snelli khas seorang dokter itu sedang menuliskan hasil USG pada buku periksa pasien. Wajah nya selalu terlihat dingin namun memiliki daya tarik yang selalu membuat para wanita tersenyum mengagumi. Pada calon ibu dihadapan dokter Assyraf misalnya, sejak tadi tak mampu menahan senyum kagum. Dokter Assyraf tak sadar bila ia sudah diperhatikan. Sementara Bidan Fitri sudah paham dengan para pasien yang selalu terpesona dengan rekan kerja nya itu.
"Mba bisa periksa lagi bulan depan atau kalau ada keluhan ya, atau bisa periksa rutin di bidan terdekat." ucap dokter Assyraf tersenyum ramah.
"Oh iya dok, makasih ya dok."
"Sama-sama." ucap dokter Assyraf mengangguk tersenyum.
"Permisi dok, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam wr.wb."
"Duh, dokter nya ganteng banget, kayak masih muda gitu." ucap pasien tersebut yang baru keluar dari ruang periksa.
"Iya sih emang ganteng, inget udah punya suamik kamu itu." ucap temannya yang menemani perempuan tersebut periksa kehamilan pertama nya.
"Hahaha....gue cuma muji ciptaan Tuhan aja loh Gis."
Aila menghampiri suami nya yang masih memiliki jadwal praktek. Ia duduk menunggu suami nya yang sedang melakukan USG.
"Eh, ada Nyonya Assyraf." ucap bidan Fitri yang sore ini memiliki jadwal shift bersama suami Aila.
"Iya Mba, Mas Assyraf masih meriksa?" Aila tersenyum seraya mata nya melirik ke arah tirai yang tertutup.
"Iya sebentar lagi selesai. Bawa apa tuh?"
"Oh ini bekal untuk Mas Assyraf, tadi aku bawain donat, pudding dan coffee cup. Aku taruh di depan, untuk mba dan semua yang lagi jadwal shift." ucap Aila seraya tersenyum.
"Aduhhh....baik nya istri dokter Assyraf ini. Makasih ya cantik. Oh iya Mba ke depan dulu ya kalau gitu, lagian ini juga pasien terakhir."
"Oke Mba."
"Loh, sayang disini?" ucap dokter Assyraf yang baru saja selesai memeriksa pasien. Sementara Aila tersenyum.
"Baru lima menit aku duduk disini."
"Mba Aila, ini mba Aila kan ya? calon bidan yang pernah PKL di rumah sakit."
"Oh iya bu, dengan ibu siapa ya bu? Maaf bu, Aila lupa nama ibu tapi Aila ingat waktu itu ibu dirawat karena habis keguguran kan ya bu?"
"Iya betul sekali Mba, Alhamdulillah saya sudah hamil lagi sekarang, do'ain ya Mba biar lancar sampai persalinan."
"Aamiin Ya Allah, sehat terus ya bu."
"Iya makasih Mba, sekarang sudah lulus?"
"Alhamdulillah sudah, baru tahun ini lulus." ucap Aila tersenyum, ia tak percaya bisa bertemu dengan pasien nya ketika itu. Aila merasa bahagia karena masih diingat oleh Ibu tersebut.
"Selamat ya mba, semoga menjadi bidan yang amanah dan sukses."
"Aamiin Ya Allah, terima kasih banyak do'a nya bu."
"Waduhhh....reuni pasien dengan bidan nya nih cerita nya." ucap dokter Assyraf terkekeh.
"Hehehe.... Iya dok, maaf dok, mba Aila ini baik sekali sih orang nya, ramah dan lembut. Anggun orang nya, saya suka dengan kepribadiannya, beruntung sekali kalau yang menjadi pendamping nya nanti."
Dokter Assyraf senyum-senyum. "Khem...khemmm....oh iya dong bu, memang benar beruntung banget yang bisa menjadi suami nya. Ibu tahu gak siapa suami nya?" tanya dokter Assyraf yang membuat Aila tersenyum malu-malu.
"Loh memang nya mba Aila sudah menikah?" tanya pasien tersebut yang bernama Ibu Verny. Aila hanya mengangguk dengan tersenyum malu.
"MasyaAllah, serius mba? Alhamdulillah, orang cantik dan baik mah cepet ya dilamar nya, hehhehe..... orang mana suami nya mba?" tanya Ibu Verny yang sedang mengandung anak ke tiga.
"Khem...khem...." dokter Assyraf berdehem sambil menunjuk diri nya sendiri.
"Walah, jadi dokter toh suami nya Mba Aila? Saya kira dokter Assyraf ini sudah punya istri dan anak." ucap Ibu Verny yang begitu terkejut tak menyangka.
"Iya Bu, do'ain ya untuk rumah tangga Aila." ucap Aila tersenyum sumringah. "Suami saya terlihat sudah Bapak beranak satu ya bu? Maklum bu faktor umur." Aila terkekeh sambil melirik suami nya.
"Jangan ngomongin umur dong, meskipun udah kepala tiga masih banyak penggemar nya ini." ucap dokter Assyraf dengan percaya diri.
"Percaya diri nya selalu selangit." ucap Aila meledek suami nya itu.
Sementara Ibu Verny tertawa melihat kedua pasangan itu. "Haduh, jadi bahagia Ibu lihat kalian. Ibu do'akan pernikahan nya sakinah mawaddah warahmah, dikaruniai anak-anak yang shalih shaliha dan menggemaskan. Memang cocok, si dokter tampan dan mba Aila cantik, cocok... cocok.... Dokter kandungan sama Bidan." ucap Ibu Verny tersenyum bahagia. "Duhhh....Ibu masih gak nyangka, jadi ikut bahagia. Orang baik mah pasti ketemu orang baik juga ya? Serasi sekali." ucap Ibu Verny sambil mengelus lengan Aila.
"Aamiin Yaa Allah, makasih ya Ibu." ucap Aila tersenyum.
"Waduh, karena si Ibu hari ini udah buat saya bahagia, gratis bu untuk ibu, jadi gak usah bayar. Khusus untuk Ibu setiap periksa ke sini tidak saya kenakan biaya."
"Ah, serius dok, jangan gitu dok, Ibu jadi gak enak gini."
"Gapapa Bu, tenang aja, suami saya mah emang suka gitu kalau lagi bahagia, sukanya bagi-bagi. Yang penting do'ain aja biar pasien suami saya ramai terus." ucap Aila terkekeh.
Ibu Verny terkekeh "Haduhhh....jadi gemash ibu sama kalian, memang pasangan yang sama-sama berhati baik. Ibu selalu do'akan untuk rumah tangga kalian, semoga ramai terus ya pasien nya."
"Aamiin, Aamiin Ya Allah. Makasih banyak Ibu." ucap dokter Assyraf tersenyum bahagia.
"Kalau gitu Ibu pamit ya."
"Iya bu, hati-hati. Salam untuk bapak dan keluarga ibu ya." ucap Aila memeluk Ibu Verny.
"Iya Mba, bahagia selalu ya. Dijagain ya dok mba Aila nya, susah ini mencari yang seperti ini."
"Siap bu, emang susah Bu nyari yang kayak dia, unik dan aneh orang nya." ucap dokter Assyraf terkekeh.
"Ihhh kamu mah." ucap Aila merajuk yang terlihat begitu menggemaskan.
"Sayang....sayang....bercanda sayang." ucap dokter Assyraf terkekeh seraya memeluk istrinya dari samping.
"Duhhh....romantis nya pasangan muda ini." ucap Ibu Verny terkekeh.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
The Greatest Husband
RomanceSaat pertama kali Abram menatap Aila dengan mencuri-curi kesempatan. Saat Abram mencoba menghidupkan suasana dan renyah tawa untuk mendekati Aila. Di suatu tempat yang akhirnya menjadi tempat favourite untuk mereka. Akan kah mereka terus menyatu dan...
