Nyonya Perwira

2.5K 136 13
                                        

"Sesuatu hal yang disuka selalu memberikan energi positif yang membuat diri ingin menjadi terbaik bahkan menghasilkan sesuatu yang terbaik."

Menjadi istri dari seorang Muhammad Assyraf Perwira, tak pernah terbayangkan sebelumnya olehku. Setiap kali berbeda pendapat, hampir saja kami bertengkar hebat karena hal kecil, bersyukur Mas Assyraf adalah tipe yang selalu mengalah saat aku sudah marah. Pagi ini aku akan menemani Mas Assyraf ke luar kota untuk symposium. Semua barang yang akan dibawa sudah ku packing sejak semalam. Ku lihat wajah lelah Mas Assyraf yang masih terlelap. Baru saja ia kembali dari rumah sakit untuk operasi cito.

Terkadang melihatnya membuat ku menjadi haru, mata ku bahkan kini berkaca-kaca. Mas Assyraf pernah bilang "Saat kamu menjadi istri ku, Mas mau kamu tidak bekerja dirumah sakit ataupun klinik. Kalau kamu mau lanjut kuliah Mas sangat setuju dan Mas mengizinkan kamu bekerja nanti nya hanya sebagai dosen."

Latar belakang kami yang sama-sama kesehatan dan sangat menyita waktu memang harus ada yang mengalah untuk salah satu nya. Mas Assyraf sudah sangat sibuk bekerja sebagai dosen, kemudian praktik di rumah sakit dan masih harus membuka praktik di Klinik nya. Sesekali aku hanya membantu mengurus klinik nya saat ada pasien USG, konsul ataupun operasi sectio caesaria.

"Mas...bangun. Ayo siap-siap." aku memanggil nya dengan lembut sambil mengusap bahu nya.

"Hmmm..." Mas Assyraf mencoba membuka mata nya.

"Ayo bangun, Mas mandi dulu, baju nya sudah Ai siapkan dan sarapan sudah siap. Mas mau disiapkan kopi?" tanya ku sambil tersenyum.

"Makasih ya sayang. Iya boleh." ucap Mas Assyraf kemudia ia duduk untuk mengumpulkan kesadarannya.

"Ya sudah Ai turun ke bawah dulu ya." ucap ku yang dibalas dengan anggukan Mas Assyraf.

***

Sampai di hotel aku langsung merebahkan tubuh ku. Lelah juga rasa nya. Aku melihat ada notifikasi chat dari Mona.

"Nyonya Perwira apa kabar? Gimana rasa nya udah jadi istri dari dosen sendiri yang super hits? Hahhhah..."

"Apaan sih, hobi banget deh ngeledekin mulu." balas ku. Ku lihat Mona langsung me-read dan langsung mengetik.

"Ih gue gak ngeledek ya, kan kenyataan. Para mahasiswi jadi patah hati nasional nih karena dosen tampan, single, hits, oke punya, udah soldout hahhaha....."

"Lebay deh, kamu tuh kapan dihalalin? Jangan kebanyakan nabung dosa, hahhaha..."

"Jahat ih kamu, tahun depan InsyaAllah, do'ain gue dong."

"Hahha.... iya selalu Mon, ya udah aku tinggal dulu ya. Pak suami minta ditemenin ke bawah untuk makan sekaligus ketemu teman-teman seprofesi nya."

"Baiklah nyonya Perwira." balas Mona dengan emot meledek.

"Kenapa nih istri Mas dari tadi senyum-senyum setiap liat layar smartphone." ucap Mas Assyraf dengan menggoda.

"Karena lucu, biasa Mas si Mona." ucap ku seraya terkekeh.

"Kenapa lagi mahasiswi saya yang satu itu?" tanya Mas Assyraf penasaran.

"Ada deh." ucapku. "Ayo katanya mau ke bawah." ajak ku menggandeng lengan nya.

Kami pun sambil mengobrol saat jalan. Sesekali Mas Assyraf memberikan pertanyaan receh nya.

"Sayang." ucap Mas Assyraf.

"Hmmm."

"Ikan-ikan apa yang bau nya ngangenin?"

Aku terdiam sambil berfikir. "Mmmm.... gak tau. Emang apa?"

"Amisssyuuuu (I miss You)." ucap Mas Assyraf kemudian terkekeh.

"Apaan deh receh banget kamu Mas." aku pun ikut tertawa.

Sampai di resto hotel, Mas Assyraf menghampiri rekan-rekan sejawat nya yang juga akan symposium. Mereka pun bersama istri dan anak nya.

"Widih....manten baru apa kabar nih?" tanya salah seorang teman Mas Assyraf yang tubuhnya sedikit berisi.

"Baik dong." jawab Mas Assyraf.

"Aura pengantin baru mah beda ya, hahahha...." ucap teman Mas Assyraf yang memiliki lesung pipi di bagian kanan.

"Cantik ya istri lo." ucap teman Mas Assyraf yang tubuhnya sedikit berisi.

Aku hanya tersenyum. "Iya dong." ucap Mas Assyraf.

"Saya dokter Ben, ini istri sama anak saya. Assyraf ini sejawat saya saat kuliah spesialis." ucap dokter Ben yang memiliki tubuh sedikit berisi itu.

"Salam kenal dok, Kak..." ucap ku seraya tersenyum dan menyapa istri dokter Ben dengan panggilan Kak.

"Kalau saya dokter Wisnu, Alhamdulillah masih jomblo, kalau ada temen kamu yang single bisa comblangin ke saya." ucap dokter Wisnu kemudian tertawa.

Aku hanya tersenyum, ternyata rekan sejawat Mas Assyraf ada yang masih single juga toh.

"Hadeuh Nu, mau yang model apa lagi sekarang perempuan nya? Dia ini udah Mas comblangin tiga kali sayang, tapi masih belum nemu yang cocok juga katanya." ucap Mas Assyraf pada ku.

"Hahhaha iya bener itu." ucap dokter Ben.

"Gak ke pengen nikah apa Nu? Liat tuh si Assyraf aja akhirnya nikah juga." ucap istri dokter Ben terkekeh sambil menyuapi anak nya yang berusia enam belas bulan.

"Jodoh itu gak bisa dipaksa, selow aja, santuy, iya kan dek?" ucap dokter Wisnu menatapku.

"I-iya dok." ucap ku.

"Udah ah jangan bahas gue, mending bahas pengantin baru ini nih. Jadi gimana cerita nya ini pak dosen dengan mahasiswa nya bisa terjalin kontak atas nama cinta? Hahahha...." ucap dokter Wisnu.

"Iya bener-bener, belum denger gue juga, keren loh apalagi kalian beda usia sembilan tahun."

"Ya emang udah takdir nya, Allah yang ngasih jalan ini, mungkin kalau gue gak ngegantiin Profesor Anton buat ngajar di jurusan kebidanan gak akan ketemu dia kali ya." ucap Mas Assyraf.

Kalau mengingat kilas balik kisah ku dan Mas Assyraf memang tak pernah bisa di duga. Tak pernah terbayangkan aku dan Mas Assyraf sampai pada tahap ini. Bahkan kini aku berada di lingkaran dunia Mas Assyraf yang seringkali membuat ku terkagum.

The Greatest HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang