Memories and Future

2.2K 106 3
                                        


Keharuman mulai tercium

Saat kelopak-kelopak indah itu mulai memekar

Indah dan berwarna

Mengingat saat pertama kali

Bahwa kamu menyemai di peraduan

Saat itu senja sedang manis-manis nya

Beberapa kali rintik hujan hadir

Selalu ada pelangi sebagai penawar

Kamu mengajarkan pada ku

Bahwa hidup tidak selama nya tentang kesedihan

Kehampaan dan kehambaran semata

Kamu benar bahwa kesabaran

Membawa ku pada sesuatu yang lebih baik

Aku percaya itu

Aku menghirup aroma tanah yang tercium sambil merasakan setiap tetes hujan yang terkena wajah ku. Aku bersyukur tak ada guntur atau pun kilat yang begitu hebat sehingga aku bisa merasakan setiap tetes nya dari atas balkon kamar ku. Aku semakin merasakan sesak yang membuat air mata melebur bersama air hujan. Aku tersenyum getir membayangkan semua sakit yang ku rasakan.

Aku tidak tahu harus berkata apa dengan segala fikir ku yang kian bercabang. Ada saat aku begitu merindu tentang nya yang tak tertahan. Ada rasa cemburu dan amarah yang ku pendam dengan sangat apik ketika melihat nya bersama yang lain. Apakah aku begitu egois? Maafkan aku jika demikian. Tapi, yang jelas aku tidak mengganggu mu kan? Kamu tetap bebas memilih kebahagiaan mu sendiri.

"Kak?"

"Iya?" Abram tersenyum padaku. Aku sedang duduk di bangku taman.

"Setelah lulus, nanti kakak mau lanjut kuliah spesialis apa?"

"Hmmm...apa ya? Kamu mau nya kakak ambil spesialis apa?"

"Ih kok kakak nanya aku, kan kakak yang mau kuliah."

"Ya kan kakak pengen minta pendapat mu."

"Gitu ya? Obgyn aja kak, atau Pediatri?"

"Kenapa gitu? Kakak gak mau obgyn."

"Kenapa kak?" aku menatap manik mata nya.

"Biar beda sama kamu, kakak pengen spesialis bedah syaraf."

"Gitu ya Kak."

"Iya Sayang."

"Padahal aku pengen nya kakak spesialis obgyn." Aku mengerucutkan bibir dengan raut wajah sedih.

"Jangan sedih gitu dong. Kan kata mu kakak yang mau kuliah jadi kakak yang harus memilih." Kak Abram mengelus puncak kepala ku dan tersenyum. Sementara aku hanya menganggukkan kepala.

Aku jadi teringat setahun yang lalu, saat dimana aku masih menjalin hubungan dengan Kak Abram. Kepingan kenangan bersama nya selalu terputar di kepala ku layak nya sebuah film. Setiap keping kenangan bersama nya tidak pernah bisa hilang. Aku selalu merasakan rindu.

***

Mata ku terasa panas dan berkaca-kaca, ku pegang kening ku terasa panas. Badan ku terasa lemas dan terasa terasa sangat kantuk. Aku sudah tidak fokus melihat dosen di depan yang sedang menerangkan mata kuliah. Samar-samar aku melihat pria berkemeja putih itu. Dan semua terasa gelap.

"Ai..." Mona menepuk pundak Aila namun tidak ada respon.

"Ai...bangun, kuliah sudah selesai. Tumben banget ini anak tidur di jam kuliah." Mona menepuk pundak Aila sekali lagi dan membisikkan di telinga. Mona memegang kening Aila.

"Ya ampun Ai, badan kamu panas banget. Pantas saja kamu tertidur saat perkuliahan. Aduh, muka nya pucat banget lagi."

Dokter Assyraf yang masih di kelas sedang membereskan tas nya di meja depan pun menghampiri Aila dan Mona. Saat itu semua mahasiswi yang lain sudah meninggalkan kelas kecuali Mona dan Aila.

"Aila kenapa, Mon?" suara berat itu membuat Mona mendongak menatap dokter Assyraf.

"Badan Aila panas banget Dok, wajah nya juga pucat. Sejak tadi tidak bangun-bangun. Saya sudah menepuk pundak nya berkali-kali untuk membangunkannya."

Dokter Assyraf memegang kening Aila. "Ya sudah kita bawa ke klinik saja. Kamu bisa bantu saya kan?"

"Oh iya Dok, bisa."

"Kamu papah Aila sampai masuk ke mobil saya. Saya tidak bisa menggendongnya karena ini lingkungan kampus. Saya khawatir nanti berimbasnya pada Aila."

"Iya dok, siap."

"Ya sudah, kamu ikuti saya dari belakang ke parkiran mobil."

Mona memapah Aila sampai depan pintu mobil dokter Assyraf. Kemudian dokter Assyraf membantu Aila untuk masuk ke dalam mobil. Aila sedikit menggeliat.

"Emmm.....aku dimana, aku mau istirahat." dengan mata yang masih terpejam. Aila tidur pulas kembali.

Tiba-tiba smartphone Mona berbunyi. "Angkat saja." ucap dokter Assyraf.

"Hallo...? Iya Ce."

"Oh iya aku lupa. Maaf Ce, siap-siap. Baik, Mona ke sana."

"Ada apa? Ada masalah?"dokter Assyraf bertanya pada Mona.

"Maaf Dok, saya harus hadir rapat untuk seminar minggu besok. Saya tidak bisa ikut dokter, gimana ya Dok? Atau saya telpon orang tua Aila saja ya biar mereka jemput Aila di sini. Bagaimana Dok?"

"Lebih baik jangan di telpon, saya khawatir nanti orang tua Aila panik. Tidak apa, biar saya sendiri yang bawa Aila ke klinik saya."

"Maaf banget ya Dok, saya merasa tidak enak dan kurang sopan."

"Gak papa, santai saja. Ya sudah saya tinggal ya, saya harus segera bawa Aila ke klinik" Dokter Assyraf tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil.

***

Sejak perkuliahan berlangsung tatapan ku sesekali mengarah pada Aila. Kelihatannya ia sedang tidak sehat. Mata nya begitu sayu. Benar saja tidak lama ia tertidur saat saya menerangkan materi terakhir. Saya benar-benar khawatir dengan kondisi nya. Ia tak pernah lepas dari mata saya.

Saat mengakhiri pertemuan kuliah hari ini,tatapan saya masih tertuju pada Aila sambil membereskan laptop yang saya bawa. Semua mahasiswa satu per satu meninggalkan kelas kecuali Aila dan Mona. Saya melangkah kan kaki ke tempat mereka. "Aila kenapa, Mon?" saya bertanya pada Mona yang sudah saya tahu jawaban nya. Wajah nya pucat dan kening nya sangat panas. Ia demam tinggi.

Saya meminta Mona untuk memapah Aila sampai mobil karena saya tak mau Aila menjadi bahan perbincangan anak-anak kampus. Maaf kan saya Ai, mungkin lebih baik seperti ini dahulu. Saya tahu kamu pun akan menolak bila saat ini kamu sadar. Saya khawatir kedekatan kita justru menjadi boomerang untuk diri mu sendiri. Saya ingin menjaga mu meskipun saya seringkali ingin menunjukkan pada publik.

Saya menatap wajah polos nya. Ia sangat cantik meskipun sederhana. Sudah sebulan penuh saya tidak melihat nya karena kesibukan dan ada acara symposium di luar kota. Saat di mobil ia terus mengigau dan menyebut "Bunda" membuat saya tertawa dengan sikap manja nya.

"Jeda waktu yang hadir di antara kita telah menjadi ruang rindu. Dan saya mulai terbiasa untuk merasakan hal tersebut."

(dr. Muhammad Assyraf Perwira, Sp.OG)

The Greatest HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang