"Dimana letak rindu yang ku sampaikan pada senja? Meski langit tahu kejujurannya bahwa ada duka yang membalut erat. Namun kau tak sudi untuk mau tahu dan tertawa tanpa rasa malu."
Sebuah notifikasi mengangetkan ku,aku terdiam sejenak dengan nuansa fikir yang shocked. Ada rasa sesak yang penuh dalam dada, seakan membutuhkan oksigen lebih aku menarik nafas dalam dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dan aku masih bertanya "Ada apa? Mengapa? Haruskah aku menangis kembali?" tanyaku dalam bungkam.
"Tidak! Aku berhak berbahagia atas kebahagiaan ku sendiri. Dan aku percaya pada hokum Tuhan. Seharus nya aku bersyukur bahwa Tuhan menunjukkan dirinya yang tak berkompeten dan tak bisa dipercaya pada apa yang pernah terucap."
Di dalam otakku mulai beradu berbagai pertanyaan dan mencari sebuah ketenangan. Aku meringis dan tersenyum kecut mengingat apa yang telah berlalu dan terjadi padaku dulu.
Tanganku mengetik untuk membalas pesan tersebut "Alhamdulillah kalau dia menemukan kebahagiaan nya kembali bersama yang dulu, sebelum denganku."
Aku menarik nafas panjang "Terima kasih Kak Abram untuk menunjukkan siapa dirimu, aku telah menjadi sadar diri." ucapku dalam diam.
"Sudah dapat apa yang dicari?" tanya seseorang dengan suara bass itu.
"Udah kok Mas." ucapku tersenyum. Aku tersenyum lebih bahagia saat menatapnya. Ia sosok yang tak pernah meninggalkanku dan selalu meyakinkan ku meski ku ragu. Ia yang mengajarkan ku arti ketulusan dan keseriusan dari seorang pria.
"Kamu kenapa sih? Senyum nya bahagia banget. Baru sadar ya kalau calon suami mu ini tampan?"
"Hishhhh." Aku memutar bola mataku malas dan berjalan menuju kasir. Ia menyamai langkahku dan terus menggoda yang membuat diriku tak kuasa menahan tawa.
*Kampus POV*
Rutinitas mahasiswa kampus yang begitu padat membuatku menikmati hari-hari yang melelahkan. Seseorang melambaikan tangan dari kejauhan yang bisa ku tebak bahwa itu adalah Mona. Aku menuju ke arah nya.
"Kamu dari mana aja sih Ai?"
"Perpus."
"Gak bosen apa belajar mulu."
"Enggak."
"Eeerrrr....iya deh percaya Ratu Buku mah."
"Apaan sih, lebay kamu." aku terkekeh.
"Loh bener kan aku? untung aja kamu udah di mau dijadiin hak milik dokter Assyraf jadi aman masalah jodoh."
"Sssssttt, apaan sih. Tolong ya jangan buat gosip."
"Kok gosip sih kan emang kenyataan."
"Aduh Mona udah ah gakmau bahas, aku gak suka ngomongin di depan umum gini."
"Ya gapapa dong, biar semua orang tahu kalau kamu calon istrinya dosen dokter yang kece badai sejagad seantero kampus dan wilayah ini."
"Apaan sih kamu lebay banget, aku gak suka publish sebelum ijab kabul terjadi. Oke?"
"Unchhh....sesuatu banget sih kamu Ai, rahasia-rahasiaan gitu."
"Udah ah aku mau pesan makan, laper. Capek ladenin kamu si Ratu lebay." Aku tertawa kemudian beranjak dari kursi untuk memesan makanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Greatest Husband
RomanceSaat pertama kali Abram menatap Aila dengan mencuri-curi kesempatan. Saat Abram mencoba menghidupkan suasana dan renyah tawa untuk mendekati Aila. Di suatu tempat yang akhirnya menjadi tempat favourite untuk mereka. Akan kah mereka terus menyatu dan...
