"Pernikahan itu tak mudah, tapi denganmu aku percaya, kamu bisa membimbing ku meraih Jannah-Nya."
"Assalamu'alaikum." ucap dokter Assyraf saat di depan pintu rumah nya seraya memijit bel.
"Wa'alaikumussalam..." ucap salah seorang asisten rumah tangga seraya berlari menuju pintu utama.
"Malam sekali Den pulang nya."
"Iya Mbok, jadwal operasi saya padat hari ini ditambah mengajar dikampus terlebih dahulu."
"Oh begitu Den." ucap Mbok Karti, asisten rumah tangga dokter Assyraf yang sudah sangat senior. Dokter Assyraf memiliki empat asisten rumah tangga yang memiliki tugas masing-masing. Selain itu, ada tukang kebun, satpam serta supir pribadi. Jika dihitung ada tujuh orang yang bekerja di rumah dokter Assyraf.
"Aila dimana Mbok?"
"Ada dikamar seperti nya Den, terakhir mbok lihat neng Aila masuk kamar."
"Ya udah kalau gitu saya ke atas dulu ya mbok."
"Iya Den."
Dokter Assyraf mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum membuka nya. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." ucap Aila dengan tersenyum seraya mencium tangan suami nya itu.
"Kamu udah gak marah sama Mas?" tanya dokter Assyraf pada istri nya yang masih belia itu.
Aila tersenyum mendengar pertanyaan dari suami nya itu. "Ma'afin sikap kekanakan Aila ya Mas, Aila mudah banget ngambek sama Mas, padahal kepentingan pasien jauh lebih penting dibanding kita pergi makan berdua."
Dokter Assyraf mengelus puncak kepala Aila dengan sayang sambil tersenyum. "Jadi cerita nya mengaku bersalah nih?" dokter Assyraf sangat memaklumi sikap kekanakan istri nya. Baginya hal tersebut adalah wajar saja karena usia Aila yang masih belia, terlebih mereka terpaut jarak usia sembilan tahun.
Aila mengangguk. "Ya meskipun Aila kadang suka ngerasa sebal sama Mas, tapi yaaaa.... mau gimana lagi, udah resiko."
Dokter Assyraf tersenyum jahil. "Jadi nyesel nih nikah sama Mas?"
Aila menggelengkan kepala nya. "Enggak kok. Meskipun Mas nyebelin, tapi Mas banyak nilai plus nya. Kata teman-teman angkatan Aila sih Aila beruntung nikah sama Mas. Dikampus kan Mas Assyraf jadi dosen idaman para mahasiswi."
"Masa? Kamu muji Mas nih ceritanya?" ledek dokter Assyraf.
Aila memasang wajah malas dengan sikap percaya diri suami nya itu. "Siapa yang muji, kan itu kata teman-teman angkatan Aila. Aku mah biasa aja tuh."
"Yakin biasa aja?"
Aila mengangguk mantap. "Iya." Jauh di dalam lubuk hati Aila, sebenar nya ia pun begitu mengagumi suami nya itu.
"Ya udah kalau gitu gak jadi deh Mas kasih ini." Dokter Assyraf mengeluarkan setangkai mawar merah dari tas nya dan strawberry beserta coklat. Aila memang sangat menyukai buah strawberry.
"Ih apaan deh, kalau mau ngasih Aila ngasih aja, kenapa harus pakai persyaratan."
"Oh jadi kamu mau nih cerita nya." goda dokter Assyraf yang membuat Aila merasa sebal.
"Pamali tahu kalau udah niat ngasih tapi malah gak jadi." ucap Aila sambil memalingkan wajahnya dan sesekali melirik ke arah suami nya.
"Masa sih? Kok Mas baru dengar pepatah itu." ucap dokter Assyraf seraya mendekatkan wajah nya yang membuat Aila tersipu malu.
"Iiihhh, Aila sebal sama Mas, jadi suami nyebelin banget deh." wajah Aila sudah memerah menahan malu dan kesal karena ulah dokter Assyraf. Sementara dokter Assyraf tertawa melihat tingkah istri nya yang menurutnya begitu menggemaskan.
"Uhhh...sayang...sayang....bercanda sayang." ucap dokter Assyraf dengan menahan tawa nya.
"Bodo, Aila kesal."
"Jangan ngambek dong, sini Mas suapin buah strawberry nya."
"Gak mau."
"Yakin gak mau? Enak loh." goda dokter Assyraf dengan memakan satu buah strawberry.
"Bodo, ya udah Mas abisin aja sendirian."
"Cieeee ngambek, Mas cium nih kalau ngambek gitu, lucu banget sih."
"Iiihhh Mas nih, suka banget deh godain Aila."
"Ya abis istri Mas yang masih belia ini lucu banget deh."
"Hmmmm." Aila hanya bergumam sambil memutar mata nya malas.
"Bener Mas cium nih ya." dokter Assyraf mencium pipi Aila gemas.
"Iiihhhhh.....Mas Assyraf."
"Masih ngambek nih?"
"Bodo." ucap Aila menahan senyum.
"Ya udah Mas cium lagi." Dokter Assyraf kemudian mencium Aila untuk kedua kali nya.
"Ih Mas Assyraf, Aila kan gak mau." ucap Aila kemudian tertawa.
Dokter Assyraf tak berhenti menggodai istri nya itu yang membuat Aila akhirnya luluh dan tertawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Greatest Husband
Storie d'amoreSaat pertama kali Abram menatap Aila dengan mencuri-curi kesempatan. Saat Abram mencoba menghidupkan suasana dan renyah tawa untuk mendekati Aila. Di suatu tempat yang akhirnya menjadi tempat favourite untuk mereka. Akan kah mereka terus menyatu dan...
