Your Happines

2.1K 153 23
                                        

"Saya bahkan mendiagnosa diri sendiri, mendoktrin bahwa saya teramat merindukanmu. Namun, kini bahkan bayanganmu pun bukan lagi milik saya."

[Abram Mahendra Al-Fatih]

Abram menatap langit sambil menarik napas dalam. Banyak bintang bertaburan dengan keindahan cahayanya. Berkali-kali ia menghembuskan napas nya kasar. Pria yang sedang menjalani masa internship itu mengambil smartphone nya dari saku jas snelli miliknya. Ditatapnya sebuah gambar seorang gadis. Abram tersenyum, namun senyumnya terasa getir dan ada rasa penyesalan.

"Kenapa lu?" tanya Fadli teman Abram sejak awal masuk fakultas kedokteran. Abram menoleh kemudian menyunggingkan senyumnya.

"Aila lagi?" tanya Fadli memastikan. Abram hanya diam kemudian menarik nafas dalam.

"Move on. Ini udah pilihan lo sendiri. Relakan dia bersama Kak Assyraf. Sebentar lagi dia mau jadi istri orang."

Abram hanya tertunduk. Ada rasa penyesalan yang masih belum terselesaikan. Bahkan bayangan Aila begitu terasa dan selalu ada, betapa besarnya pengaruh Aila bagi Abram meskipun Abram sempat memiliki sebuah hubungan dengan perempuan lain. Hal itu tak mengikis peran Aila dihati Abram. Ia menyadari bahwa dirinya sudah begitu menyakiti hati Aila dimasa yang lalu.

***

"Assalamu'alaikum." sebuah pesan dari Kak Abram membuat jantung Aila berdegup dan tangannya sedikit tremor.

"Wa'alaikumussalam." dengan perlahan Aila mengetik sambil mengatur nafasnya.

"Astaghfirullah, tolong hamba Ya Allah untuk mengontrol diri." batin Aila.

"Selamat ya atas lamarannya dengan dokter Assyraf. Jodoh gak pernah bisa ditebak ya. Semoga menjadi cinta sejati dunia akhiratmu. Kakak merestui untuk kebahagianmu. Semoga kita tetap bisa silaturahmi."

Ada rasa sesak yang hadir saat Aila membaca pesan tersebut. "Astaghfirullah." ucap Aila pada dirinya sendiri.

"Terima kasih Kak. Semoga kakak pun akan menemukan cinta sejati dunia akhirat Kakak."

Setelah pesan tersebut terkirim. Aila mematikan kamar tidurnya kemudian bergegas untuk terlelap dalam tidurnya.

***

Suasana kampus ramai seperti biasa nya, banyak mahasiswa berlalu lalang. Dokter Assyraf memarkirkan mobilnya ditempat parker dosen. Pria itu tersenyum dengan seorang wanita yang duduk di samping nya.

"Kangen diajarin sama Mas gak?" goda dokter Assyraf yang memang sebelumnya adalah dosen Aila.

"Apaan sih." ucap Aila terkekeh.

"Cie yang mau dinikahin sama dosen sendiri."

"Apaan sih Mas, receh banget." ucap Aila tertawa. "Lagian kan aku udah lulus, jadi aku bukan mahasiswa Mas lagi."

"Iya-iya. Bukan mahasiswa Mas lagi tapi calon istri Mas."

"Hish mulai deh." Aila memutar bola mata nya malas kemudian tersenyum.

"Ya udah katanya mau ngambil ijasah, Mas mau ngajar anak kedokteran dulu."

"Iya siap bos."

Kedua nya turun dari mobil kemudian jalan terpisah. Beberapa mahasiswa ada yang memperhatikan Aila kemudian sedikit berbisik. Aila tak memperdulikannya, sudah biasa ia mendapatkan pemandangan seperti itu.

***

"Mas aku tunggu di taman kampus dekat fakultas kedokteran ya." Aila mengetik pesan kemudian mengirimkannya pada calon suami nya itu. Aila menyeruput es kopi nya sambil membaca buku yang ia bawa. Sebagai teman menunggu calon suami nya itu.

"Hai. Boleh duduk disini?" seorang mahasiswa berkumis tipis bertanya pada Aila hingga membuat Aila mendongak kemudian mengangguk. Mahasiswa itu kemudian duduk setelah mendapat persetujuan dari Aila.

"Boleh kenalan? Namanya siapa? Gue Rendi." ucap mahasiswa tersebut mengulurkan tangan.

"Aila." jawab Aila dengan cuek tanpa menyambut uluran tangan Rendi. Pria itu kemudian menarik tangannya. Wajahnya menjadi sedikit kikuk.

"Mahasiswa dari fakultas mana?" tanya Rendi kemudian.

"Udah lulus." jawab Aila cepat.

"Oh."

Kemudian dokter Assyraf menghampiri Aila. Ia tak sendiri, namun ada seorang laki-laki disamping nya. "Khem..." dokter Assyraf berdehem. Aila tersenyum karena pria nya datang sementara Rendi sedikit terkejut. "Eh dokter." ucap Rendi dengan raut wajah yang sedikit shock.

"Lama ya sayang?" tanya dokter Assyraf pada Aila.

"Lumayan." jawab Aila.

Rendi semakin terkejut. "Aduh mampus gue, gak tau nya pacar nya dokter Assyraf, dosen lu sendiri. Bodoh banget sih lu Ren." Rendi merutuki dirinya sendiri.

"Kamu ngapain disini?" tanya dokter Assyraf pada Rendi.

"E-enggak kok dok, numpang duduk tadi. Maaf ya dok, ini udah mau pergi." ucap Rendi menyegir kuda kemudian segera beranjak pergi.

"Dasar dosen killer." ucap Aila terkekeh.

Sementara dokter Gilang tersenyum melihat tingkah dokter Assyraf, senior nya itu. "Loh Kak Gilang?" tanya Aila. Sementara dokter Gilang hanya tersenyum.

"Iya, kamu kenal?" tanya dokter Assyraf.

"Iya dokter Gilang kan kakak nya temen aku." ucap Aila yang dibalas anggukan dokter Assyraf.

"Ara apa kabar Kak? Sekarang dia dimana?" tanya Aila.

"Alhamdulillah baik, dia magang di klinik, masih keluarga juga yang punya klinik. Tante sendiri."

"Oalah gitu. Kakak rencana nya kemana?" tanya Aila lagi.

"Menggantikan dokter Assyraf sementara." jawab dokter Gilang, kemudian Aila menoleh ke wajah calon suami nya itu.

"Iya jadi dokter Gilang menggantikan Mas mengajar selama Mas ngambil cuti, karena kita juga sudah mendekati waktu pernikahan."

Aila kemudian mengangguk. "Gak nyangka juga ya Ai, ternyata kamu udah mau jadi istri dokter Assyraf." ucap dokter Gilang terkekeh. Sementara Aila menjadi tersipu kemudian tersenyum.

"Dia kepincut sama ketampanan saya waktu mengajar dikelas." ucap dokter Assyraf tertawa kemudian dibalas dengan tatapan tajam Aila.

"Percaya diri banget sih Mas, dasar ih." ucap Aila.

"Ya emang bener kan?" ucap dokter Assyraf kemudian mendapat cubitan dari Aila.

"Aw....sakit tauk." ucap dokter Assyraf.

"Biarin."

"Haduh.....maaf ini mah ya dok, jangan buat yang jomblo iri dong." ucap dokter Gilang kemudian mereka tertawa bersama.

The Greatest HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang