Clara tidak mengerti dosa apa yang sudah dia lakukan di dalam hidupnya selama ini. Orang tuanya meninggal satu tahun yang lalu dan kemudian sekarang dia dihamili anak sma. Gila. Begitu sadar saja, Clara sudah mendapat tatapan khawatir dari beberapa orang di sekitarnya dan melihat wajah cowok itu yang sedang dikompres dengan es batu dan seragamnya yang berlumuran darah.
Ada dua orang yang begitu asing di depannya sekarang. Ibu paruh baya yang menatapnya dengan wajah sembap dan juga pria paruh baya yang menghela nafas berkali-kali.
"Nak, Clara. Kami orang tuanya, Megantara"
Keningnya berlipat begitu mendengar nama Megantara diucapkan Ibu. Jadi cowok itu namanya Megantara. Entah, Clara hanya tidak begitu menyukai nama itu.
"Kami minta maaf" ibu itu kembali menangis dan mendapat rangkulan dari suaminya. Membuat Clara tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Kamu dan Megan harus menikah"
Clara menegang. Begitu juga dengan Megan yang sepertinya tidak menyukai ide sang Ayah yang terdengar begitu tiba-tiba.
"Pah, masa aku?" Tanya Megan dengan tidak terima lalu mendapat tatapan tajam dari Moreno juga Carlos
"Terus? Menurut kamu siapa, Megan?!" Suara pria itu meninggi dan terdengar sangat tegas. "Megan. Suka atau tidak suka, kamu dan Clara harus tetap menikah"
Clara bersandar dengan lemas. Gila. Ini namanya gila banget. Clara sudah berpikir kalau pria yang menjadi ayah anaknya adalah CEO tampan muda dan sukses bukan anak SMA yang berandalan seperti Megan. Memang hidup itu bukan roman picisan yang selalu berakhir bahagia.
Sementara Megan menelan ludahnya dengan terpaksa. "Pah..."
"Diam, Megan!" Papanya membentak sekali lagi
"Tapi... Tapi, tapi bagaimana Om? Megan kan, masih dibawah umur" Clara sangat malu mengatakan hal ini. Tapi dia tidak mungkin menikah dengan cowok sma yang tidak dicintainya sama sekali kan? Lagi pula Clara yakin kalau Megan belum punya ktp. Bisa-bisa KPAI lebih memilih untuk memenjarakan dirinya dibanding Megan. "Lagi pula, saya bisa kok membesarkan bubbles sendiri"
"Bubbles?" Kening Mama megan mengkerut
Carlos hanya menghela nafas mengerti kegundahan adiknya.
"Clara, kalau kamu tidak punya suami, anak kamu tidak akan memiliki akte. Oke kalau misalnya semua bisa diurus dengan menggunakan nama Megan. Tapi apa kamu mau anak kamu jadi bahan bully di sekolahnya ketika nanti dia ditanya kemana ayahnya?"
Clara menatap pria itu dengan dalam. Mencoba mencari argumennya sendiri untuk menghindari. "Tapi, bisa saja kan Om. Saya gak apa-apa kalau bagi jadwal untuk mereka sama Megan..." Clara menatap kakaknya ragu
Mama Megan menghela nafas cukup berat, "Clara. Ketika kami memberikan solusi, itu adalah cara terbaik yang kami miliki. Kamu tidak mungkin membesarkan mereka sendirian tanpa suami. Clara, ingat kalau Carlos juga masih harus sekolah dan menyelesaikan studinya. Kamu tidak berencana untuk menggantungkan hidup kamu sama Carlos kan?"
"Terus apa bedanya sama Megan tante?"
Megan mengangguk setuju, "Terus maksud Mama aku gak harus melanjutkan sekolah gitu?"
"Bukan" Papa Megan mulai bicara kembali, "Carlos nantinya pasti akan memilih pendamping hidupnya sendiri, Clara. Tidak mungkin kamu akan terus begantung sama Carlos. Sementara disini, Megan adalah ayah anak kamu. Jadi, tidak ada alasan lain selain menyatukan orang tua mereka demi anak kalian"
Carlos mengangguk mengerti, "Tapi, Om, dan Tante. Tidak ada gunanya memaksakan mereka berdua"
Megan dan Clara mengangguk setuju
"Saya masih bisa mengurus adik saya. Jadi, kalian tidak perlu khawatir" kata Carlos melanjutkan ucapannya
"Carlos..." Pria paruh baya itu kembali menegur Carlos dengan suara yang berat, "Carlos apa kamu pernah berpikir kalau keluarga besar kamu tidak akan membiarkan aib ini keluar?"
Carlos ternenung. Dia memang belum bicara pada keluarga besarnya mengenai kehamilan Clara.
"Apa kamu pikir mereka tidak akan mengambil Clara dari kamu dan membuat bayi-bayi itu diasuh orang lain? Apa kamu pikir kamu bisa menghandle kalau-kalau keluarga kamu datang tiba-tiba dan mengambil alih kepengurusan kalian karena hal seperti ini telah membuktikan ketidakbecusan kamu menjadi seorang kakak?"
Carlos tidak menjawab. Dia menelan ludah dan terlihat berpikir dengan sangat keras. Sangat tidak mungkin kalau apa yang diucapkan ayah Moreno itu tidak terjadi. Keluarga besarnya pasti akan memandang miring Clara dan dirinya
"Om sangat tahu ini hal yang terbaik. Megan, kamu akan menikah dengan Clara suka tidak suka satu minggu dari sekarang..."
"Pa!" Megan mengerang karena sudut-sudut wajahnya yang nyeri
"Gan..." Mamanya memanggil dengan lembut, "Kalau kalian bisa melakukannya suka sama suka kenapa sekarang gak bisa?"
"Because i'm not even fall for her, then why?!" Megan berteriak dengan marah
Moreno hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya. Dia diam saja tidak berusaha membantah ucapan sang Ayah yang sudah berkata
"Atau kalau kamu benar-benar tidak mau, kamu belajar ke luar Jakarta. Jangan Bandung atau bogor, Gan. Biar kakak kamu yang menikahi Clara dan menjaga dia juga anak-anak kamu"
"I'm what?" Tanya Moreno menunjuk dirinya sendiri. "Pa..."
Clara menggelengkan kepalanya. Tidak terima merasa dipermainkan seperti ini. "Gak. Aku gak mau menikah sama siapapun!"
"Ra..." Carlos mencoba menenangkannya
"Kalian bisa belajar mencintai kalau begitu..." kata Papanya melanjutkan dan memandang lurus kearah Moreno
"Then the same goes with Megan, Pa. Kenapa aku?" Tanya Moreno tidak terima dengan keputusan sepihak Papanya
"Kalau kamu mau lihat anak-anak kamu dari jauh memanggil Moreno Papa dan kamu hanya sebagai pamannya, fine. Kamu hanya akan kuliah selama lima tahun di luar kota tanpa pulang, Megan. Papa dan Mama tidak akan menemui kamu..."
Clara menatap dengan tajam. Memangnya pendapatnya tidak penting apa? "Om, tante sudah. Kalo emang kalian mau bayinya, Ara akan kasih kalian tetap kenal sama mereka tapi bukan begini caranya... Clara gak mau nikah!"
"Carlos jelaskan adik kamu masalah apa yang harus dia hadapi kalau dia keras kepala begitu" perintah Papa Moreno kepada Carlos dan Carlos hanya menghela nafas menyetujui
"Ra..." panggil Carlos pelan dan mendekati adiknya, "Kalo lo mau, anak lo gak ngalamin apa yang lo alamin kehilangan orang tua kita. Tolong terima menikah sama Moreno"
"Wait, what? Kenapa aku, Pa? Pah..." Moreno memandang Mamanya yang menatapnya prihatin
"Reno sudah punya penghasilan sendiri, kan? Sudah tinggal sidang. Sementara, Megan? Kamu pasti bisa, Ren"
Mendengar ucapan ibunya, Megan semakin tidak tenang. Dia sudah memikirkan ucapan Papanya tadi. Megan menelan ludah berulang kali memikirkan perkataan Papanya
"Fine. Aku aja. Tapi Megan sama sekali gak boleh pulang ke rumah, Pa, Ma"
Megan menatap Moreno tidak percaya
KAMU SEDANG MEMBACA
RH
Chick-LitThankyou yang sudah membuat RH sampai di peringkat 30 di chicklit. We're nothing without you. Cerita ini didedikasikan untuk followers saya. Maaf sebelumnya, terimakasih. Mabuk di kelab malam enggak bakalan bikin lo h...
