Althaf PoV
Aku menceritakan segalanya pada Asma, segalanya tentang pekerjaan rahasiaku itu. Setelah itu, aku memintanga berjanji untuk tidak membocorkan rahasia ini pada keluargaku, lalu mengantarnya pulang.
Asma menjadi bersikap lembut padaku, tidak ada umpatan atau pun amukan darinya setelah kuceritakan perihal masalah itu.
Apa yang kulakukan padanya tadi benar - benar bodoh dan di luar perkiraan. Entah apa yang ada di pikiranku, hingga bisa - bisanya memeluk tanpa melihat situasi.
Bahkan aku belum sempat hanya untuk sekedar meminta maaf padanya, pasti dia masih merasa shock karena perlakuanku tadi.
Dan entah apa jadinya aku bila Abi atau pun Ummi mengetahui, bahwa aku telah berani menyentuh gadis itu.
Yah, kupastikan aku tidak akan bisa bernapas dengan bebas setelahnya.
----------------
Asma PoV
Kututup pintu kamarku perlahan, membanting tubuhku begitu saja di atas kasur.
Lelah, terkejut, dan juga bingung. Itulah yang kurasakan saat ini.
Segalanya tentang Althaf. Lagi dan lagi. Itulah tema hari ini.
Mengingat kejadian tadi, membuat pipi ku memanas seketika.
Bagaimana bisa...
Lelaki itu, telah mencuri pelukan pertamaku.
-------------
Author PoV
"Kurasa, anak - anak kita sudah semakin dekat tiap waktunya," ucap Fisha sumringah, masih memegang mixer adonan di tangan kirinya.
"Benarkah itu?" Tanya Ros tak kalah bersemangat.
"Ya, bahkan putra tampanmu itu mengantar putriku saat pulang sekolah tadi. Dia gentle sekali," bisik Fisha cekikikan.
Ya, usia Ros dan Fisha memang hampir menginjak kepala empat. Namun masalah asmara, mereka tak kalah hebohnya dengan remaja pada umumnya.
"Ah, semoga impian kita sejak dulu berjalan lanjut!" Tukas Ros dengan wajah bahagianya.
-------------
20 tahun yang lalu...
"Nanti, Ros kalau kita berdua punya anak yang berlainan jenis, kita jodohkan saja, yuk!" Ucap Fisha berangan - angan.
"Ide bagus tuh, Sha! Nanti kita jadi besanan. Duh, gak kebaya punya besan sahabat dari balita," timpal Ros ikut berantusias.
"Betul! Ah, tapi kayaknya masih lama ya, Ros? Calon aja belum punya. Hehehe," ujar Fisha terkikik.
"'Kan gak ada salahnya bermimpi, siapa tahu di ijazah sama Allah, balas Ros tersenyum.
"Aamiin..."
---------------
Jangan kira alasan mengapa Althaf dan Asma satu sekolah hanya kebetulan. Karena merekalah dalang dibalik semuanya.
Mendaftarkan anak mereka sekolah bersama - sama, mengusahakan bagaimana pun caranya agar anak - anak mereka bisa satu kelas.
Yah, itu awalnya. Hanya sampai tamat SDIT. Selebihnya, mereka menyerahkan pilihan sekolah pada anak - anak mereka, mengingat bahwa mereka pun tak ada hak untuk mengekang keinginan belajar sang anak.
Namun, skenario takdir pun ikut andil dalam kebersamaan Althaf dan Asma.
Mereka selalu bertemu dalam satu kelas yang sama tiap tahunnya.
Dan kelanjutannya tahu sendiri kan...
------------
Ditengah - tengah kegiatan asiknya membaca komik, tiba - tiba...
GUBRAK!
Pintu kamar dibuka dengan sekali banting.
"Innalillahi!" Althaf berjengit kaget.
"Kakaaak!" Rengek Vani, adik perempuannya sembari menarik - nari tangan kanannya.
"Kenapa, Vani? Jelasin dulu, jangan berisik begitu," ucap Althaf lembut.
"Buku gambar tertinggal di rumah kak Asma, kaki! Besok tugas dikumpulkan. Gimana ini ka, hiks hiks," jelas adiknya sembari menangis sesenggukan.
Buku gambar Vani tertinggal di rumah asma saat terakhir sedang bermain disana.
Vani memang sangat dekat dengan Asma, melebihi kedekatannya pada kakaknya sendiri. Mungkin karena mereka sama - sama perempuan.
"Yaudah pakai buku gambar kakak dulu, nanti Vani gambar ulang ya," tukas Althaf bangkit dan mengambil buku gambarnya yang masih baru.
"Gak mau, kak. Aku maunya buku gambar yang lama, huaaa!" Rengek Vani makin menjadi - jadi.
Diluar sedang hujan, belum lagi ini malam. Pasti Asma tidak akan senang dengan kedatangan tiba - tibanya.
Tapi melihat adiknya nelangsa seperti itu...
Yah, Althaf rasa tidak ada pilihan lain.
"Sst, sudah, jangan menangis lagi. Kakak ke rumah kak Asma dan mengambil buku gambar Vani."
------------
Fisika.
Walaupun menyulitkan, Asma akan lagi dan lagi mengerjakan soal - soal biadab itu.
Hitung - hitung untuk melupakan rasa canggung saat memikirkan...
Uh, Althaf.
Toktoktok.
"Assalamualaikum," teriak suara lelaki dari luar rumah.
"Waalaikumussalam," gumam Asma pelan, masih dengan coretan - coretan rumus yang sudah ia hafal di luar kepala.
"Nak, tolong bukain pintunya ya. Ummi masih masak," muncul lagi teriakan Ummi nya dari dapur.
"Iya Ummi," jawabnya.
Asma segera membenarkan kerudung di kepalanya dan berlari membukakan pintu rumah.
"E... E... Eh, Althaf? Ada apa?" Tanya Asma setengah kaget dengan apa yang ia lihat sekarang.
Althaf berdiri di depan rumahnya sembari memegang payung yang kekecilan.
Rambutnya basah, menambah kesan tampan seorang Althaf, khas remaja baligh.
"Buku gambar Vani tertinggal di rumahmu," ucap Althaf sekenanya, tubuhnya benar - benar menggigil sempurna.
"Oh iya. Sebentar kuambilkan," balas Asma lalu berbalik mengambil benda yang dimaksud.
Lalu muncul kembali dalam sekejap dengan kantong plastik berisi buku gambar. Mencegah kalau - kalau buku gambar itu keabsahan dan malah memperumit keadaan.
"Ini, mau mampir dulu, Ta? Di dalam ada Abi, kok," ucap Asma lalu menyerahkan buku gambar tersebut.
Ya, Ummi nya memang selalu berpesan untuk hanya boleh menerima tamu lelaki jika di rumah ada Abi. Mengingat Asma adalah anak semata wayang, tidak punya saudara lelaki lain.
"Makasih banyak, Ra. Aku langsung pulang saja," balas Althaf.
"Dan emh, masalah tadi sore... aku minta maaf. Aku benar - benar tidak bermaksud untuk-"
"Sst, gak apa - apa. Sekarang kamu pulang saja," potong Asma dengan lembut.
Althaf mengangguk pelan dan berbalik, lalu berjalan pulang.
Asma menatap punggung Althaf yang kian menjauh.
"Althaf!" Teriak Asma memanggil Althaf kemudian.
Althaf menoleh, "ya?"
"Hati - hati, ya!"
"Terima kasih."
KAMU SEDANG MEMBACA
Asma untuk Althaf
General Fiction"Dia musuhku dalam hal apapun. Dan aku selalu menganggapnya sebagai saingan telakku, tak lebih dari itu." - Asmara Adiba - "Dia sudah mengibarkan bendera peperangan sejak pertama kali kami bertemu. Entah mengapa, dia selalu menganggapku musuhnya, da...
