36

1.4K 144 50
                                    

"Tiga menit lebih empat detik, kau terlambat"

"Bukankah itu kemajuan? Kemarin bukankah hampir menyentuh empat menit?"

"Kau selalu menguji kesabaranku Mr.Chittaphon. lima kali dalam sehari selalu dalam sambungan telfon tapi kau selalu terlambat dari waktu yang telah kita janjikan"

"Apa sekarang sambungan telfon internasional ini akan berubah menjadi acara meminta maaf?"

"Lihat saja sampai kau kembali malam ini"

"Dan apa aku harus takut?"

"Oh tentu saja, kau pikir 120 hari, 1440 jam, 86400 menit dan ratusan ribu detik itu waktu yang sebentar"

"Aww aku tak sabar menunggunyaaa"

"Berhenti dengan nada sok manismu itu Ten"

'15 menit lagi Taeyong harus bersiap.' Terdengar suara samar dari dalam ruangan.

"Biar kutebak sekarang ada seseorang yang masih menata rambutmu dan mengoleskan sesuatu ke bibirmu"

"Apakah kau pernah salah Ten? meskipun aku lebih suka mendapatkan warna pink ini dari bibirmu langsung tapi apa boleh buat. Sampai bertemu nanti malam sayang. Lebih baik tak ada satupun yang tergores atau berkurang dari terakhir aku melihat seluruh tubuhmu."

"Lee Taeyong!!"

Bip

Sambungan itu terputus, Taeyong yakin ponsel yang dipegang isterinya itu telah terjatuh mengenaskan dari atas ranjangnya dan pasti Ia sedang menenggelamkan kepalanya diatas bantal.

Jauh disana..

"Sialan, Lee Taeyong. Pasti banyak yang mendengar mulut kotornya itu"

...

Taeyong

Aku terlambat. Dia pasti sudah menungguku di rumah. Sekarang pukul satu pagi dan seingatku tadi dia menggunakan penerbangan tercepatnya mungkin kira-kira sekitar satu jam yang lalu ia telah tiba.

Aku masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilku. tepat sekali mobil mersedez kesayangannya sudah terparkir rapi ditempatnya. Aku melangkahkan kaki perlahan menuju lift yang ada didalam garasi dan menekan tombol 1, memperkirakan dimana keberadaannya sekarang. Jika Ia tak mengenal isterinya itu pasti Ia akan berfikir bahwa Ten telah berada didalam kamar utama dan sedang tertidur, tapi Ia tahu Ten tak mungkin berada disana.

Ting

Pintu lift terbuka dan langsung menghubungkan dengan bagian mini bar yang seluruh ruangannya dikelilingi kaca tinggi dan besar, dengan pantulan air dari kolam renang yang ada di luar ruangan menambah kesan tenang dan damai diruangan ini. Ia meletakkan sembarang jaket yang ia bawa, semua lampu utama telah dimatikan hingga menyisakan beberapa lampu temaram dengan cahaya kuning keemasan.

Disanalah dia. Duduk memunggunginya mengenakan sweater putih yang membungkus tubuhnya. Dengan posisi berdiri seperti ini Taeyong bisa melihat segelas cairan bening dalam gelas panjang yang Ia pegang.

"Mati dalam keadaan miskin atau mendapatkan suami yang buruk rupa jelas bukan hal yang sedang kau pikirkan."

Ia menoleh perlahan. Tatapannya bertemu.

"Padahal aku sedang membayangkan jika kau tiba-tiba berdiri dibelakangku dan memeluk pinggangku. Kemudian mencium pipiku mungkin." Tangan itu meletakkan gelas dimeja sampingnya.

"Apa kau sehat? Aku akan dengan senang hati melakukannya jika aku tak membayangkan akan terjun kedalam kolam renang itu setelahnya. Karena saat aku melakukan itu, kau akan mengeluarkan jurus judomu dan melemparku dari atas sini."

Ten tersenyum mendengar perkataan Taeyong karena hampir semuanya benar, kecuali bagian Ia akan melempar Taeyong dari atas sini. Dia tak setega itu.

...

Tapi mata Taeyong berubah menjadi lebih sendu, bibirnya membentuk senyum tipis, ia terdiam memandangi tubuh Ten dari ujung kaki hingga ujung rambutnya, memerhatikan dengan detail bahwa tak ada yang berkurang sedikitpun. Sangat terlihat bahwa mungkin Ten terlihat lebih bahagia sekarang karena akhirnya Ia telah menyelesaikan buku ketiganya dan karena pekerjaannya sebagai penulis itu Ia harus pergi ke negeri kincir angin untuk mendapatkan inspirasi menulis karena ceritanya berlatar belakang di negara tersebut dan dirinya sendiri sebagai penyanyi dan komposer papan atas di negaranya sendiri membuat Ia tak bisa menemani isterinya itu karena jadwal konser tunggalnya yang juga padat.

Intermezzo yang dilakukan keduanya hanya pembuka kata bagaimana mereka benar-benar saling merindukan satu sama lain. Mereka bukan pasangan dengan kata-kata manis, salah besar jika membayangkan hubungan mereka yang seperti itu. Hanya berusaha melengkapi satu sama lain dan ditambah bumbu pertengkaran yang tak pernah absen justru menguatkan apa yang mereka rasakan.

Taeyong maju selangkah, selalu begitu. Taeyonglah yang akan menghampirinya terlebih dahulu.

Diluar dugaannya Ten merentangkan lebar tangannya, sangat lucu karena tangan itu menghilang dibalik sweater putihnya membuat Taeyong dengan sedikit kasar menubruk tubuhnya menjatuhkan kepalanya dipundak Ten secara otomatis.

"You've worked hard babe", Ten mengelus punggung Taeyong beberapa kali.

Taeyong menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang amat dirindukannya itu. Menghirup sebisa paru-parunya menerima. Mendekap erat seakan tubuh itu akan lenyap jika Ia tak melakukannya.

"Aku ingin memelukmu seperti ini, hingga kau meledak"

"Lalu kau akan mati"

"Kita. Kita akan mati bersama."

Ten menarik wajah Taeyong menjauh dan menatap mata besarnya. Masih terlihat bekas makeup diwajahnya, namun terlihat samar garis hitam yang berada di bawah mata itu. Ten mengecup hidungnya lembut.

"Kita—akan—hidup--bersama." Ten menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Taeyong mengangguk mendengar perkataannya.

Kemudian Ten menarik wajahnya kembali untuk membisikkan sesuatu ditelinga kirinya.

"Kita dan taeten junior akan hidup bersama" Ten membawa tangan Taeyong yang berada dipinggangnya ke atas perutnya yang sedikit buncit.

Seperti kejatuhan bulan dan bintang Taeyong merasa luar biasa senang, pantas saja Ten telihat lebih bahagia, lebih cantik dan sweater ini, ah dia selalu mengenakan baju yang kebesaran itu kenapa Taeyong tidak menyadarinya.

Taeyong langsung berlutut dan menghadiahi kecupan manis diperut Ten.

"Terimakasih sayang. Baik-baik ya diperut mommy taeten junior. Papa akan selalu menjaga kalian"

***





karena author lg bosan aku buka random question ttg everything (semua part, ten, taeyong, taeten, nct atau authornya(?)

one week to go sebelum berkutat sama the realshid (I mean tugas akhir) jd for fill the gap untill 40ch ada yg mau req? maybe.maybe aku bisa bikin.

and

wdyt?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

wdyt?

Perfect MatchTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang