Jingga sudah berulang kali melihat ponselnya. Tapi semua masih tetap sama, layar gelap itu tidak kunjung menyala. Tidak ada notifikasi dari orang yang saat ini di tunggunya.
"Masih belum ada kabar?" Tanya Syelon yang mulai jengah melihat tingkah sahabatnya itu.
Jingga hanya menggeleng sebagai jawaban. Raut mukanya sangat kacau. Benar-benar tidak seperti Jingga yang biasanya.
"Emang hari ini dia engga sekolah ya?" Kali ini Rena yang bertanya.
"Gue engga tau. Tapi tadi sih gue liat temen-temen sekelasnya pada masuk." Kata Jingga pada akhirnya.
"Iya Kak Fajar juga masuk kok, emang sih katanya hari ini bebas tapi Kak Fajar tetap masuk soalnya takut ada pengumuman hasil try out katanya." Dafi menyahut.
"Eh itu Kak Senja!" Seru Tia tiba-tiba.
Jingga langsung berbalik ke arah pandang Tia dan benar, dia melihat Senja berjalan di depan kelas nya.
Tanpa membuang waktu Jingga berlari dan mengejar Senja yang sudah mulai menjauh.
"Kak Senja!" Serunya membuat beberapa orang menoleh.
Tapi justru yang di panggil tidak menoleh sedikitpun. Jingga pun berlari tanpa berpikir macam-macam. mungkin Senja memang tidak mendengar, pikirnya.
"Kak.. " Panggil Jingga lagi sambil menarik lengan Senja pelan.
Tapi Jingga bingung, bahkan Senja tidak membalikan badanya sedikitpun.
"Kakak kemana aja? Dari kemarin aku hubungin kok engga di bales sama sekali? Aku kan khawatir." Kata Jingga setengah merajuk.
Tapi kemudian jawaban dari Senja membuatnya begitu tertegun. Bahkan rengkuhannya di lengan Senja terlepas begitu saja.
"Engga usah berlebihan. Gue cuma lagi males aja bales pesan dari lo. Spam banget!"
Jingga terdiam. Berusaha mencari maksud dari sikap Senja yang begitu. Apa hari ini dia ulang tahun sehingga Senja mengerjainya? Atau lelaki di depannya ini hanya iseng?
Jingga buru-buru menggelengkan kepalanya. Iya. Senja pasti bercanda.
"Kakak apaan sih, Aku lagi khawatir gini malah di becandain." Kata Jingga sambil menggamit tangan Senja.
Senja menoleh sebentar lalu memandang tautan tangannya dengan tangan Jingga. Dan menepisnya begitu saja.
"Sayangnya gue engga becanda. Jadi mending lo engga usah bersikap begitu. Ilfeel gue ngeliatnya." Katanya datar.
Senja berlalu begitu saja. Meninggalkan Jingga yang masih terdiam dengan tatapan kosong pada tangannya yang tadi di tepis Senja.
Senjanya kenapa?
Apa yang bikin dia sekasar itu?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus beruang ulang di kepalanya. Lutut nya mendadak lemas, air mata yang mati-matian dia tahan tumpah dengan sangat deras. Senja-nya tidak bercanda, katanya. Senja tidak sedang mengerjai nya.
Jingga butuh pegangan. Tapi tidak ada seorang pun yang mampu membantunya. Dada nya sesak, Senja belum pernah sekasar itu bahkan ketika dulu mereka baru saling mengenal.
Tapi yang tadi Jingga lihat adalah sosok Senja yang belum pernah dilihatnya. Begitu menakutkan, begitu menyakitkan.
"Aku salah apa?" Lirih Jingga. Pikirannya benar-benar tidak mampu menebak apa yang terjadi pada Senja.
Tubuhnya tiba-tiba lemas dengan kepala yang berdentum menyakitkan. Dari semalam dia bahkan belum makan karena mengkhawatirkan Senja. Tapi yang di khawatirkan malah membuat nya terluka.
KAMU SEDANG MEMBACA
SENJA DAN JINGGA (COMPLETE)
Teen FictionJika jatuh cinta adalah sebuah pilihan, maka Jingga memutuskan untuk memilih jatuh kepada Senja. Karena dia yakin Senja akan menangkapnya, tidak akan membiarkan dia terjatuh sendirian. Semburat orange yang muncul di penghujung sore, datang sekilas n...
