Part 45, Mengikhlaskan

800 56 2
                                        

Hari sudah berganti pagi, tapi Bintang masih berada di rumah Jingga. Semalaman dia dan Jemmy bergadang menunggui Jingga yang dalam keadaan kacau. Bahkan pagi ini, keempat sahabat Jingga pun turut hadir guna membesarkan hati Jingga. Tapi segala yang mereka lakukan seakan tidak berarti, karena pada dasarnya yang Jingga butuhkan hanyalah kabar baik tentang Senja. Dia berharap Senjanya selamat.

"Udah dong, Ngga, jangan nangis terus. Lo makan dulu ya." bujuk Dafira untuk kesekian kalinya.

Tapi jawabannya tetap sama, "Gue cuma mau Senja. Gue mau liat dia."

Semua orang yang ada disana hanya bisa menghela nafas pasrah. Mereka sangat mengerti dengan apa yang Jingga alami, menjalani hubungan jarak jauh selama dua tahun dengan harapan di pertemukan lagi dalam keadaan yang membahagiakan, Tapi justru di pisahkan untuk selamanya.

Ddrrrtt drrtt

Suara ponsel Bintang mengalihkan perhatian mereka sejenak. Semua orang yang ada disana menoleh ke arah Bintang yang sekarang tengah mengangkat panggilan dari seseorang.

"Assalamualaikum Bunda.." Jawab Bintang, yang langsung membuat Jingga dengan cepat menghampirinya.

Jingga memberikan isyarat agar Bintang mengaktifkan pengeras suara. Dan Bintang menurutinya.

Suara yang pertama kali terdengar adalah isak tangis dari Bundanya Bintang, yang membuat hati Jingga mencelos.

"Bintang.. Adikmu nak.. Adikmu.. "

Bintang menoleh ke arah Jingga yang sudah bersandar pada Dafira. Mereka sangat paham apa yang akan di katakan Bunda adalah kabar buruk.

"A-ada apa Bun? Bagaimana dengan Senja?"

Isakan yang terdengar dari seberang semakin jelas. Jingga sudah merosot ke lantai, tidak sanggup lagi mendengar kabar yang akan di sampaikan Bunda.

"Ja-jasad adikmu sudah di temukan Bin."

Deg

Jasad? Itu berarti..

"Jasad Bun? Maksud bunda?" Tanya Bintang dengan gemetar.

Pikirannya sudah tidak karuan, hatinya juga sudah tidak kuat lagi melanjutkan obrolan dengan Bundanya. Tapi dia tetap harus memastikan.

"Iya Bintang, Senja sudah pergi. Dia menjadi korban tidak selamat. Memang semua jasad korban sudah tidak bisa di kenali secara fisik, tapi ada satu yang membuat Bunda mu yakin kalau itu Senja"

Bukan suara Bundanya lagi yang terdengar , tapi pamannya yang mengambil alih.

"Apa itu Paman?" Tanya Bintang, masih berusaha untuk kuat.

"Jasad yang di duga Senja ini memakai gelang dengan inisial BS, gelangnya tidak terbakar karena terbuat dari logam sehingga masih bisa di kenali. Dan Bunda mu bilang, itu gelang pemberian dari kamu sebelum Senja pergi."

Bintang mematung, dia ingat sekali pernah memberikan gelang itu pada Senja saat dia pulang study dari Malang. Ya, Gelang itu di beli bersamaan dengan liontin Bintang yang dia berikan untuk Jingga. Inisial BS yang berarti 'Bintang Senja'.

Ponsel yang di genggamnya jatuh begitu saja. Fikirannya mendadak kosong, kali ini dia bahkan tidak bisa meyakinkan diri sendiri bahwa Senja selamat. Dia terduduk di lantai, di iringi raungan tangisan Jingga yang pecah.

*****

Dua hari berlalu..

Jasad Senja sudah di makamkan. Ya, begitu di yakini bahwa itu jasad Senja, Bunda dan pamannya langsung membawanya terbang ke Indonesia untuk di makamkan dengan layak. Tidak ada yang berani melihat jasadnya, bahkan Bintang pun menolak. Dia merasa tidak akan sanggup jika harus melihat jasad adiknya dalam keadaan yang mengenaskan.

Jingga, jelas dia menangis sejadi-jadinya. Pertemuannya dengan Senja yang harusnya bahagia, justru harus penuh dengan rasa sakit semua orang. Dua tahun, dia dan Senja menahan rindu masing-masing. Memang Senja sering kali berniat pulang saat libur semester, namun Jingga selalu menolak dengan alasan agar rindunya sekalian saja. Dan bahagianya juga sekalian saat Senja lulus lalu tidak akan terpisah lagi.

Tapi sekarang Jingga menyesali keputusan nya, dia bahkan tidak dapat bertemu Senja secara langsung untuk yang terakhir kalinya.

Jingga terkesiap, di tengah lamunannya ada seseorang yang memegang bahunya lembut. Dia menoleh dan mendapati kakak nya Jemmy yang tengah tersenyum.

"Jangan di tangisi lagi, Dek, kasian Senja disana engga akan tenang."

Jingga mengusap air matanya yang jatuh, lalu memaksakan untuk tersenyum.

"Sulit kak, semua angan dan khayalan yang aku buat bareng sama Kak Senja engga bisa hilang gitu aja. Dia bahkan bilang akan melamar aku saat pulang."

Jemmy menatap iba ke arah adiknya itu, memang bukan hal yang mudah untuk merelakan orang yang paling kita sayang pergi. Apalagi pergi untuk selamanya.

"Iya, kakak tau. Tapi coba lah untuk mengikhlaskan Dek, karena meratapi pun engga akan membuat semuanya berubah."

Jingga mengangguk, lalu bersandar di bahu kakaknya.

"Jingga akan coba kak, walaupun di hati aku masih yakin Kak Senja masih hidup. Tapi akal ku akan coba mengikhlaskan bahwa dia memang sudah pergi. Mungkin saat ini dia juga sedang ada di sampingku, menatapiku yang masih menangisi kepergiannya. Jika itu benar, aku mau dia tau bahwa apapun yang terjadi aku akan tetap mencintainya. Senja ku tetap dia."

******

SENJA DAN JINGGA (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang